Perempuan kelahiran Sukabumi 46 tahun lalu ini menjelaskan filosofi dibalik tema Evolusi. Menurutnya yang paling utama adalah bagaimana kita terikat antara masa lalu dengan masa sekarang.

"Lalu yang kedua adalah tentang perspektif atau sudut pandang.Bagaimana setiap manusia bisa melihat sudut pandang yang berbeda-beda, sehingga melahirkan kebijaksanaan, persaudaraan, dan pengertian satu sama lain," jelas Happy Salma.

Tantangan Skala: Dari Miniatur Hingga Instalasi Raksasa 60 CM

Proses kreatif di balik koleksi 'Evolusi' memakan waktu sekitar enam bulan, dengan empat bulan pengerjaan intensif di studio bersama tim kolaborator.

Salah satu instalasi karya kriya Evolusi dari Happy Salma. Foto: Agnes

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah keinginan untuk mendorong batas (push the boundaries) keahlian tangan para pengrajin.

Selain menciptakan koleksi perhiasan seperti subeng, brooch, sirkam, kalung dan gelang yang bisa dipakai, juga menciptakan instalasi subeng raksasa.

"Ada yang tingginya hampir 60 cm. Tapi itu jangan dipakai ya, itu hanya untuk instalasi saja," canda Happy Salma.

Sri Luce Rusna, founder & creative designer Tulola menambahkan, bahwa Subeng telah menjadi 'proyek gairah' (passion project) bagi dirinya dan Happy sejak awal mereka bekerja sama.

| Baca Juga: Intip Gaya Para Selebriti saat Menghadiri Pernikahan Taylor Swift dan Travis Kelce

"Pas awal-awal itu kita bongkar konstruksinya. Bagaimana kita bisa main dengan ukuran (size), skala, motif, dan bagaimana membuatnya lebih modern sehingga bisa dipakai dengan pakaian modern juga," jelas Sri.

Eksplorasi yang telah berjalan selama hampir 19 tahun ini menjadikan subeng sebagai panggung utama bagi Tulola. Happy Salma menambahkan bahwa Subeng bukan sekadar perhiasan sarat makna filosofis, melainkan juga ruang bermain bagi kreativitas mereka.

"Seperti yang bisa dilihat di instalasi kami, bagaimana perubahan demi perubahan pemaknaan perhiasan itu bisa dilihat dari bentuk subeng," jelas bintang film Siksa Kubur ini.

1 2 3

Tags: