Tanpa Gejala Bukan Berarti Sehat, Ini Pentingnya Deteksi Dini Hepatitis
VIVIA MEDIA — Salah satu ciri paling berbahaya dari penyakit hati adalah kemunculannya yang sering kali tanpa gejala pada tahap awal. Banyak pasien baru menyadari kondisinya setelah kerusakan hati sudah berlangsung cukup jauh. Karena itu, deteksi sejak dini menjadi langkah krusial untuk mencegah kerusakan yang lebih berat.
Dr. dr. Lianda Siregar, Sp.P.D., Subsp. G.E.H. (K), FACG, FINASIM, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi dari RS Pondok Indah – Puri Indah, menekankan bahwa seseorang bisa saja mengalami perlemakan hati atau infeksi hepatitis tanpa menyadarinya sama sekali.
Ia menegaskan pemeriksaan tetap penting dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti obesitas, diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, riwayat konsumsi alkohol, pernah terpapar risiko hepatitis B dan C, maupun memiliki riwayat penyakit hati dalam keluarga.
Selama bertahun-tahun, biopsi hati menjadi standar emas untuk menilai tingkat kerusakan organ ini. Namun, karena prosedurnya invasif atau memerlukan pengambilan sampel jaringan, tak sedikit pasien yang enggan menjalaninya.
| Baca Juga: Hati Bisa Rusak Tanpa Gejala, Kenali Ancaman Hepatitis di Balik Gaya Hidup Modern
Kini, sejumlah metode pemeriksaan yang lebih nyaman tersedia, seperti Enhanced Liver Fibrosis (ELF) Test, Fibrosis-4 (FIB-4) Index, hingga FibroScan.
Menurut dr. Lianda, FibroScan menjadi pilihan yang praktis karena mampu menilai elastisitas hati tanpa tindakan invasif. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang ultrasonografi melalui probe yang ditempelkan pada area perut, berlangsung cepat, aman, tidak menimbulkan rasa sakit, dan pasien dapat langsung beraktivitas kembali setelahnya.
Selain membantu memperkirakan tingkat fibrosis atau jaringan parut pada hati, FibroScan juga dapat membantu membedakan apakah gangguan hati lebih disebabkan oleh infeksi virus atau perlemakan hati akibat gangguan metabolik. Hal itu informasi penting untuk menentukan arah penanganan selanjutnya.
Setelah hepatitis terdiagnosis, penanganan akan disesuaikan dengan penyebabnya. Hepatitis akibat virus memerlukan terapi antivirus untuk menekan aktivitas virus, sementara MAFLD atau MASLD lebih berfokus pada pengendalian faktor metabolik melalui perubahan pola hidup. Pada kasus kerusakan hati yang sangat berat, transplantasi hati bisa menjadi pilihan terakhir.
| Baca Juga: Rajin Sikat Gigi tapi Tetap Kuning? Dokter Ungkap Penyebabnya
Dari sisi pencegahan, langkahnya sebenarnya sederhana: vaksinasi hepatitis B, tidak berbagi barang pribadi yang berpotensi terpapar darah seperti pisau cukur atau sikat gigi, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta menghindari konsumsi alkohol.
Dr. Lianda menegaskan bahwa diagnosis hepatitis bukan berarti seseorang tidak bisa menjalani hidup secara normal. Penderita hepatitis B dan C, menurutnya, tetap bisa hidup normal selama menjalani terapi sesuai indikasi, melakukan kontrol berkala, menjaga pola hidup sehat, dan menghindari alkohol agar kerusakan hati tidak semakin berat.
Ia juga mengingatkan bahwa penyakit hati kini bukan lagi sekadar persoalan infeksi virus. Perubahan gaya hidup modern membuat gangguan metabolik menjadi tantangan baru yang tak kalah serius.
Menjaga berat badan ideal, mengendalikan diabetes dan kolesterol, menghindari alkohol, serta rutin memeriksakan diri bila memiliki faktor risiko merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan hati.
| Baca Juga: Hobi Membaca Buku Sambil Tiduran? Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai
Peringatan World Hepatitis Day setiap 28 Juli menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya deteksi dini. Sebab, semakin cepat gangguan hati dikenali, semakin besar pula peluang mencegah komplikasi serius di kemudian hari. (*)







