Introvertnya Mentok, Ini Cara Rudi Soedjarwo Hidupkan Chemistry Dua Tokoh Utama Film Dan Bandung
VIVIA MEDIA — Dua dekade setelah kesuksesan fenomenal Ada Apa dengan Cinta? (AADC), Sutradara Rudi Soedjarwo kembali terjun ke ranah romansa remaja. Kali ini, sutradara berusia 54 tahun tersebut mengadaptasi semesta karya Pidi Baiq lewat film bertajuk Dan Bandung.
Menggandeng dua bintang muda, Samo Rafael dan Shanna Shannon, Rudi membawa perspektif baru mengenai cinta yang melintasi batas generasi. Proses mengarahkan dua pemain utamanya juga meninggalkan pengalaman tersendiri bagi sutradara film Mengejar Matahari ini.
Tantangan Menghadapi Dua Aktor Introvert
Proses penyatuan chemistry antara Samo Rafael dan Shanna Shannon ternyata tidak berjalan instan. Rudi mengungkapkan bahwa di awal pertemuan, suasana sangat kaku karena kedua pemeran utama tersebut memiliki kepribadian yang tertutup (introvert).
"Tiga hari pertama diam-diaman. Karena dua-duanya kan introvert. Di meja makan berdua ketemu, kok enggak ngomong?" kenang Rudi.
| Baca Juga: Debut Layar Lebar Langsung Tokoh Utama di 'Dan Bandung', Shanna Shannon Sempat Nervous
Kondisi ini sempat membuatnya khawatir akan kelanjutan produksi. Apalagi ini adalah proyek pertama mereka.
"Hari ketiga saya tungguin lagi. Ini kalau hari ketiga enggak bisa juga, kita enggak syuting aja deh. Ternyata masalah kenyamanan. Saya sebagai sutradara harus tahu kelebihan dan kekurangan mereka," jelasnya.
Pakai Cara 'Mengunci' Pemain di Dalam Ruangan
Demi memecahkan kekakuan tersebut, Rudi mengambil cara khusus. Ia memutuskan untuk memberikan ruang privat bagi Samo dan Shanna tanpa campur tangan kru lain agar komunikasi mereka mencair secara alami.
"Saya bilang di hari ketiga nih, 'aku enggak mau tahu caranya gimana, lu berdua naik ke atas, gua tutup ruangannya. Kalau keluar belum jadi juga, ya udah kita stop di sini,'" tegas Rudi.
| Baca Juga: YouTuber Indonesia Medy Renaldy Diajak Tom Holland Lakukan Salam Ikonik Spider-Man
Strategi tersebut membuahkan hasil. Setelah keluar dari ruangan tersebut, chemistry keduanya langsung berubah total.
"Pas dibuka, turun, cobain adegan, jalan. Tektoknya tuh dapet. Kita sebagai sutradara kan punya rasa ya, nah ini udah bener nih, sudah bisa dipercaya," ujarnya.
Mencari 'Nyawa' di Luar Naskah Skenario
Salah satu metode unik yang diterapkan Rudi dalam film ini adalah meminta para pemain untuk tidak terpaku pada naskah saat latihan. Ia ingin para aktor memberikan "nyawa" dan karakter yang jujur, bukan sekadar menghafal tulisan di atas kertas.
"Sebenarnya skrip enggak dibuang, tetap dibaca karena itu tugas mereka. Cuman kita taruh supaya enggak dilihat lagi, supaya yang aku lihat waktu latihan adalah nyawa dari masing-masing pemain," jelasnya.
Rudi mengkhawatirkan jika pemain terlalu patuh pada teks, hasilnya akan terasa terlalu "film banget" dan tidak natural.
"Skenario kan hanya tulisan di atas kertas, bukan manusia. Jadi merekanya harus ngeracik. Akting itu kan aksi-reaksi. Karena mereka sudah tahu cara bereaksinya, jadi enak. Kalau kita mau ubah di lapangan, sudah aman. Membawa skenario (ke set) itu malah bahaya menurut saya," jelas Rudi.
Romansa Cinta tak Mengenal Batas Usia
Meski usianya telah melewati setengah abad, Rudi menegaskan bahwa urusan perasaan tidak memiliki tanggal kedaluwarsa. Baginya, mendalami kisah cinta remaja bukan hal asing, karena esensi cinta tetaplah sama di setiap tahap usia.
"Romantis selalu ada dalam diri saya, kan tidak pernah usang, ya. Dan pertanyaan-pertanyaan mengenai romantis pun selalu ada, meskipun kita sudah kepala lima," canda Rudi.
| Baca Juga: Cerita Widyawati Temukan Lagi Kebaya Pernikahannya Bersama Sophan Sophiaan
Dalam film Dan Bandung, Rudi tidak hanya fokus pada gejolak kawula muda, tetapi juga menyisipkan sudut pandang orang tua. Menurutnya, konflik antara keinginan melindungi anak dan membiarkan mereka memilih pasangan adalah realitas yang sering menjadi masalah dalam hubungan keluarga.
"Di sini bagusnya itu ada beberapa angle. Angle pasangan mudanya, angle orang tua dari dua pihak itu; bagaimana melihat cinta dan anak-anaknya. Itu sangat rawan pertanyaan-pertanyaan itu," jelas Rudi.
Sutradara film Sayap Sayap Patah ini, merefleksikan pengalamannya sendiri sebagai orang tua dalam mengarahkan film ini.
"Kadang-kadang keputusan kita itu bagus buat kita apa buat anaknya? Apa tujuan kita melindungi? Itu yang membuat keseluruhan cerita ini enak untuk diikuti," ujar ayah empat anak ini.
| Baca Juga: Item, Kurus bak 'Pria dari Ciputat', Penampilan Iqbaal di Trailer Film 'Operasi Pesta Copet'
Film produksi Verona Films baru saja merilis Final Trailer yang memperlihatkan perjalanan emosional karakter Basil (Samo Rafael) dan Elma (Shanna Shannon).
Penonton diajak melihat bagaimana cinta mereka diuji oleh pilihan sulit, pengorbanan, dan kenyataan pahit saat restu keluarga menjadi tembok penghalang yang besar. (*)







