VIVIA MEDIA — Perjalanan karier seorang model ternyata tidak selalu berjalan mulus. Hal itulah pernah dirasakan Puteri Indonesia 2017, Bunga Jelitha. Wanita 34 tahun ini mengenang sempat mengalami penolakan hingga mendapat komentar negatif terkait penampilannya saat baru merintis karier di dunia modeling.

"Aku mulai merintis karier dari umur 13 tahun, tepatnya tahun 2005. Saat itu persaingan sudah ada, bahkan aku sempat merasakan penolakan yang cukup membekas," kata Bunga Jelita saat hadir sebagai salah satu juri dalam ajang Nusantara Spotlight : Icon Search 2026, di Lippo Mall Nusantara, Rabu (29/7/2026).

"Waktu itu aku ikut casting untuk sebuah fashion show busana pengantin (wedding). Kliennya bilang langsung di depan aku, 'Kita tidak butuh yang seperti kamu, kita butuhnya yang cantik,'" sambungnya dengan nada serius.

Pengalaman Pahit: Ditolak Karena Dianggap Tidak Cantik

Kejadian tersebut sempat meruntuhkan kepercayaan diri wanita yang pernah mewakili Indonesia di ajang Miss Universe 2017 di Las Vegas. Apalagi saat itu ia masih remaja.

| Baca Juga: Garuda dalam Songket, Bahasa Fashion Baru Kolaborasi Desainer Indonesia-Prancis

"Sumpah, itu beneran terjadi. Di situ aku tidak terpilih, dan aku langsung pulang tanya ke Mamaku, 'Mah, emang aku nggak cantik ya?" ujarnya.

Bahkan saat ia berhasil meraih mahkota Puteri Indonesia, standar kecantikan konvensional masih membayanginya.

"Ada yang bilang, 'Kok Puteri Indonesia kulitnya gelap? Kok hitam? Kok rambutnya keriting?' Nah, aku tidak mau hal-hal fisik seperti itu menjadi batasan bagi kita untuk berekspresi," ungkapnya.

Mendobrak Stigma dan Standar Kecantikan

Berdasarkan pengalamannya, ia menegaskan bahwa ajang seperti Nusantara Spotlight : Icon Search 2026 bukan sekadar mencari wajah baru di industri fashion, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk membangun rasa percaya diri tanpa terjebak pada standar kecantikan tertentu.

| Baca Juga: Cerita Nicholas Saputra Terlibat Dalam Kerumitan Desain Kreatif Perhiasan Batu Mulia

Nantinya, wanita yang meraih gelar juara pada kontes internasional Supermodel International 2011, ini akan terlibat dalam proses penjurian babak grand final yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Agustus 2026.

"Insya Allah nanti di acara Nusantara Spotlight Icon Search 2026 ini kan grand final-nya ini insya Allah tanggal 17 Agustus. Jadi insya Allah aku menjadi salah satu juri dari kompetisi ini," kata Bunga.

Menurut Bunga, perkembangan ekosistem modeling saat ini jauh berbeda dibandingkan ketika ia mengawali karier. Kesempatan bagi talenta muda untuk tampil dan menunjukkan kemampuan kini semakin terbuka.

Menurut Bunga, perkembangan ekosistem modeling saat ini jauh berbeda dibandingkan ketika ia mengawali karier. Kesempatan bagi talenta muda untuk tampil dan menunjukkan kemampuan kini semakin terbuka.

| Baca Juga: Bangkit Usai Batal Nikah, Rita Nurmaliza Runner Up Miss Universe Indonesia 2025 Pamer Body Hourglass

“Sekarang perubahannya luar biasa. Kalau dulu yang banyak itu fashion week saja, sekarang makin banyak acara modeling dan fashion. Aku sampai berpikir, kenapa kesempatan seperti ini tidak ada dari dulu. Menurut aku ini perkembangan yang sangat positif untuk anak-anak muda,” ujar Bunga.

Fenomena 'Followers' Mengalahkan Talenta

Meskipun peluang terbuka lebar, Bunga tak menampik adanya tantangan baru yang harus dihadapi oleh para model di era digital. Salah satu fenomena yang ia soroti adalah kecenderungan industri yang mulai memprioritaskan popularitas di media sosial di atas kemampuan teknis modeling.

"Seperti yang kita ketahui, di setiap profesi pasti ada persaingan. Itu hal yang pertama harus kita tanamkan dalam diri. Salah satu cara menghadapinya adalah dengan membangun kepercayaan diri,memperkuat karakter, dan memiliki personal branding," jelasnya.

Bunga menyayangkan jika potensi seseorang hanya diukur dari angka di layar ponsel.

| Baca Juga: Agnes Rahajeng Fokus Persiapan Mental Menuju Miss Supranational 2026

"Kalau sekarang persaingannya sudah beda, apalagi jika bicara soal media sosial. Bahkan aku sempat mendengar sendiri, sekarang kalau ada casting atau audisi apa pun, yang dilihat pertama kali adalah jumlah followers-nya," ungkapnya.

"Sering kali ada anggapan, 'Coba lihat followers-nya berapa? Oke, ambil dia saja karena followers-nya paling banyak.' Nah, aku sebenarnya tidak ingin hal itu terjadi," tegasnya.

Kekuatan Mental di Tengah 'Bullying' Digital

Berada di bawah sorotan lampu panggung dan sorotan kamera membutuhkan kesiapan mental yang baja. Bunga menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya soal persaingan di panggung, melainkan juga komentar netizen di media sosial yang bisa menjadi sangat destruktif.

"Zaman sekarang itu kita harus benar-benar bisa membawa diri. Nomor satu yang harus dipersiapkan adalah mental. Karena media sosial itu bisa diakses siapa saja. Orang bebas berpendapat, bebas mengkritik, bahkan dalam satu sisi bisa menjadi ajang bullying," kata Bunga.

| Baca Juga: Tiga Desainer Muda Paris Bawa Cerita Hidup ke Panggung Mode Jakarta

Ia memberikan tips bagi para model agar tetap bertahan di industri yang kompetitif ini.

"Di situlah mental kita harus kuat. Kita harus kembali lagi pada rasa percaya diri, tahu karakter kita seperti apa, dan tahu tujuan kita berada di industri ini untuk apa. Kita harus membangun branding agar orang bisa melihat bahwa kita memang memiliki potensi," tutupnya. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: