Bisakah AI Gantikan Sentuhan Manusia dalam Dunia Fashion? Ini Kata Para Desainer
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — AI kini mulai masuk ke ruang kreatif industri mode, mulai dari riset, pengembangan gagasan, hingga membaca pasar. Namun di tengah kemampuan mesin menghasilkan begitu banyak kemungkinan, sentuhan manusia justru menjadi semakin penting.
Industri mode sendiri memainkan peran besar dalam ekonomi kreatif Indonesia. Pada awal 2026, sektor ini menyumbang 58,55 persen dari total ekspor barang kreatif dan menjadi salah satu subsektor dengan tenaga kerja terbesar dari sekitar 27,4 juta pekerja kreatif di Indonesia.
Di sisi lain, penggunaan AI di Indonesia juga terus meluas. Indonesia tercatat sebagai salah satu dari lima negara pengguna Gemini terbesar di dunia, dengan sekitar 32 persen use case berkaitan dengan pembuatan gambar, musik, dan video.
Pengalaman tiga desainer yakni Auguste Soesastro, Stella Rissa, serta duo Andy Tan dan Jerome Kurnia dari Two Stitches menunjukkan bagaimana AI benar-benar digunakan dalam proses kreatif mereka.
| Baca Juga: Di Balik Dress Pink Olivia Rodrigo, Ada Kisah Perjuangan Desainer Palestina
Auguste Soesastro menggunakan AI sebagai alat riset dalam mengerjakan koleksi bespoke couture untuk Kenya Kamalashila Soekarno.
Ia menelusuri jejak enam wilayah leluhur, termasuk Jawa, Banten, dan Latvia dengan bantuan AI untuk menelusuri arsip internasional, menerjemahkan dokumen sejarah, serta memetakan silsilah antargenerasi.
Namun keputusan mengenai apa yang relevan dan bagaimana hasil riset itu diterjemahkan menjadi rancangan tetap ada di tangan desainer. "Teknologi dapat memperluas jangkauan riset, tetapi tidak serta-merta mengambil alih taste yang menjadi bagian dari keputusan kreatif," ujar Auguste.

Stella Rissa memanfaatkan AI untuk menghidupkan kembali karakter yang ia ciptakan lewat cat air pada 2021, Starlet. Dari lukisan dua dimensi, Starlet dikembangkan menjadi character sheet, dieksplorasi dari berbagai sudut, hingga dicoba dalam bentuk animasi dan tiga dimensi yang membuka kemungkinan ekosistem multimedia yang lebih luas.
| Baca Juga: Penuh Makna, Gaun Miss World Uganda 2026 Terinspirasi 7 Lapisan Operasi Caesar
Namun proses ini menuntut Stella menerjemahkan hal-hal yang biasanya hanya berupa intuisi seperti warna kulit, ekspresi, gerakan, karakter suara menjadi instruksi yang detail bagi mesin.
"Ketika kita mau membuat sebuah karya digital menggunakan AI, kita juga harus planning, mengajarkan, dan menuliskan dengan jelas sebenarnya task-nya apa," ujarnya.
1 2







