Salah satu aspek yang paling ia perhatikan adalah asupan nutrisi menjelang hari perlombaan, khususnya carbo loading.

“Carbo loadingnya kira kira tiga sampai tujuh hari sebelum hari H harus makan karbo yang lebih banyak. Karena itu akan jadi cadangan energi kita dan akan dilepaskan pas lari perlahan,” jelasnya.

Selain nutrisi, ia menjaga kualitas tidur dengan menghindari begadang serta memastikan tubuh tetap terhidrasi selama latihan maupun lomba.

“Kadang kita merasa tubuh kita kuat, padahal sebenarnya tidak. Jadi kita harus belajar mendengarkan tubuh sendiri. Aku sering melihat orang malas berhenti untuk minum karena merasa sudah nyaman dengan ritme larinya. Padahal itu bisa berbahaya,” ungkapnya.

| Baca Juga: Tubuh Gatal saat Olahraga? Ini Penjelasan Dokter dan Tips Mengatasinya

Suasana hati pun turut ia jaga selama berlari, salah satunya lewat musik dan momen-momen kecil yang ia nikmati sepanjang lintasan.

Rambut dan Kulit Kepala, Detail Kecil yang Berpengaruh Besar

Di balik persiapan fisik dan nutrisi, Febby juga menyoroti satu hal yang kerap luput dari perhatian pelari, yaitu kenyamanan rambut dan kulit kepala. Sebagai seseorang yang cukup sering beraktivitas di luar ruangan, ia mengaku kulit kepalanya mudah gerah dan berkeringat saat latihan maupun lomba.

“Saat lari 10K kali ini, aku merasa kulit kepala tetap dingin dan nyaman selama berlari karena memilih sampo yang tepat. Jadi aku bisa tetap fokus dan percaya diri tanpa terganggu rasa gatal dan ketombe,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi rambut turut memengaruhi suasana hati saat berolahraga. “Kalau lagi bad hair day pasti ngaruh ke mood waktu lari. Makanya kesehatan kulit kepala juga harus dijaga,” katanya.

| Baca Juga: Tren Baru Gen-Z: Detoks Media Sosial Demi Mental yang Lebih Sehat

Febby menilai rambut sebagai bagian dari perawatan diri yang tidak boleh diabaikan. “Menurutku rambut itu mahkota yang perlu mendapat perhatian khusus. Jadi memilih sampo yang tepat itu perlu, baru dilanjutkan dengan treatment lain,” ujarnya.

1 2 3

Tags: