Jangan Asal Checkout! Abel Cantika Bongkar Cara Jadi Smart Shopper
VIVIA MEDIA — Tren produk kecantikan di media sosial berganti begitu cepat, memicu masyarakat membeli hanya karena viral atau takut ketinggalan tren (FOMO). Bagi beauty influencer Abel Cantika, kebiasaan ini menjadi penyebab utama pembelian impulsif yang berujung penyesalan.
Ia menegaskan menjadi smart shopper bukan kemampuan instan, melainkan terbentuk dari pengalaman, termasuk pengalaman tidak menyenangkan saat berbelanja online.
"Aku sempat beberapa kali ada juga pengalaman nggak baiknya. Makanya sekarang itu aku semakin lebih bijak, semakin pintar lagi," ujar Abel saat bincang-bincang tentang GloUtopia: Unilever Indonesia x Shopee Biggest Creator Festival, di Senayan City, Jakarta pada Jumat (31/7/2026).
Review Satu Orang Tak Pernah Cukup
Sebagai beauty content creator sekaligus beauty enthusiast, Abel mengaku belanja online sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-harinya karena tuntutan profesi untuk selalu mengikuti tren terbaru. Meski intensitas belanjanya tinggi, ia tetap selektif sebelum membeli.
| Baca Juga: Pulih dari Stroke, Betharia Sonata Rajin Jalan 5 Km Setiap Hari
Langkah pertamanya adalah mencari referensi sebanyak mungkin, sebab satu ulasan tidak pernah cukup untuk memastikan kualitas produk.
"Cari review itu penting banget. Aku biasanya enggak cuma lihat satu review saja, tapi sebanyak mungkin, termasuk dari orang-orang yang aku percaya," ujarnya.
Ia juga mengingatkan audiensnya agar tidak menelan mentah-mentah ulasan seorang content creator, karena kondisi kulit setiap orang berbeda sehingga hasil pemakaian produk pun bisa berbeda pula.
Jangan Beli karena Viral, Pastikan Sesuai Kebutuhan
Setelah mengumpulkan referensi, Abel memastikan produk tersebut benar-benar sesuai kebutuhan kulitnya, bukan sekadar ikut viral. "Kita sering kemakan FOMO atau karena produk itu viral. Padahal harus dipastikan dulu apakah kandungannya aman, cocok, dan memang dibutuhkan," katanya.
| Baca Juga: Tiga Tahun Konsisten, Ini Rahasia Febby Rastanty Tetap Tekuni Dunia Lari
Prinsip kehati-hatian ini juga ia terapkan saat membuat konten ulasan dan menerima tawaran kerja sama dengan merek kecantikan.
Alih-alih langsung menerima bayaran, ia memilih meminta sampel produk lebih dulu, mempelajari komposisi bahan, dan mencobanya selama satu hingga dua minggu, terutama untuk skincare, sebelum memutuskan melanjutkan kerja sama atau tidak.
"Kalau ternyata tidak cocok, aku langsung bilang ke brand, maaf aku nggak bisa kerja sama. Jadi jangan bayar aku dulu," kata Abel.
Pelajaran Berharga dari Produk Palsu
Selain kualitas produk, tempat membeli juga menjadi perhatian penting bagi Abel. Ia mengaku pernah beberapa kali tertipu membeli produk kecantikan online karena tampilan toko yang sangat mirip dengan official store, dan barang yang diterima ternyata palsu.
| Baca Juga: Anak Tetap Prioritas, Begini Cara Baim Wong Atur Waktu di Tengah Kesibukan Film
Pengalaman ini membuatnya kini selalu mengecek reputasi toko, status official store, dan ulasan pembeli sebelum bertransaksi.
Rahasia Hemat: Tahan Dulu, Jangan Langsung Checkout
Bagi Abel, menjadi smart shopper juga berarti mampu mengendalikan keinginan untuk segera membeli. Menurutnya, banyak orang terburu buru checkout karena takut kehabisan produk, padahal harga yang sama sering kali jauh lebih murah saat memasuki periode promo.
Ia lebih memilih memasukkan produk ke keranjang belanja lebih dulu, lalu menunggu momentum promo seperti tanggal kembar atau diskon besar, termasuk momentum Shopee Hyper Brand Day 2026.
"Jujur iya, keranjang aku sampai 99 plus. Aku taruh dulu semuanya di keranjang. Nanti pas double date baru aku checkout. Dari kebutuhan aku, suami sampai anak semuanya ada," ujarnya sambil tertawa.
| Baca Juga: Makanan Sehat Tidak Harus Mahal, Olahan Khas Lokal nan Murah Kerap Diabaikan
Belanja Online Sudah Menjadi Gaya Hidup
Abel mengaku hampir seluruh kebutuhannya, mulai dari kebutuhan rumah tangga, perlengkapan anak, hingga skincare dan fashion, kini dipenuhi lewat belanja online karena dianggap lebih cepat dan lebih banyak promo dibanding toko offline.
Namun ia menegaskan kemudahan ini tidak boleh membuat konsumen kehilangan kendali atas keputusan belanjanya.
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti mencari informasi dari berbagai sumber, memastikan produk sesuai kebutuhan, membeli di toko resmi, serta menunggu waktu yang tepat dapat membantu masyarakat terhindar dari pembelian impulsif.
"Lebih bijak juga sih dalam menentukan produk yang mau kita beli, terus pinter-pinter juga nunggu momentumnya," tandas Abel. (*)





