VIVIA MEDIA — Proyek film ‘Dan Bandung’ menjadi pengalaman pertama Keisya Levronka berada di bawah arahan sutradara kenamaan Rudi Soedjarwo. Sosok Rudi selama ini dikenal sebagai sutradara yang memiliki standar tinggi dan kabarnya cukup 'galak' saat mendireksi aktor di lokasi.

Namun, Keisya memiliki sudut pandang sendiri mengenai pengalaman bekerja dengan sang maestro.

Sambil tertawa, ia mengklarifikasi label 'galak' tersebut. "Tegas! Mas Rudy itu tegas. Awalnya aku kaget, sempat merasa stres juga karena kita belum terbiasa dengan cara kerja Mas Rudy," aku Keisya saat berkunjung ke redaksi Vivia Media.

Meski sempat merasa tertekan di awal, Keisya justru merasa terbantu dengan metode kerja sutradara 'Ada Apa Dengan Cinta' itu yang dinilai sangat membebaskan kreativitas aktornya.

| Baca Juga: Introvertnya Mentok, Ini Cara Rudi Soedjarwo Hidupkan Chemistry Dua Tokoh Utama Film Dan Bandung

"Dia memberikan kita ruang eksplorasi yang sangat luas, sampai skrip itu kadang tidak terlalu dipakai karena dia pengen kita benar-benar membangun karakter itu bareng-bareng," lanjutnya.

Karakter Susi: Si Frontal yang Menguras Energi

Keisya memerankan karakter bernama Susi. Ia merasa memiliki kemiripan sifat dengan tokoh yang ia mainkan tersebut, sehingga ia tidak merasa kesulitan untuk mendalami kepribadian Susi yang blak-blakan.

"Susi itu lantang. Kalau dia suka, dia bilang suka. Kalau tidak, ya tidak. Dia frontal banget. Sebenarnya tidak jauh beda sama aku, jadi aku merasa nyaman banget jadi Susi," tuturnya.

Namun, kenyamanan karakter bukan berarti tanpa kesulitan teknis. Keisya menceritakan salah satu pengalaman paling menantang selama syuting, di mana ia harus mengulang-ulang satu adegan spesifik di sebuah toko selama berhari-hari.

| Baca Juga: Keisya Levronka dan Paul Aro 'Satu Frame' di Film Dan Bandung, Bakal Jadi Pacar?

"Sebenarnya porsi dramanya Susi tidak terlalu besar, tapi ada satu adegan di toko yang harus diulang-ulang terus selama dua hari. Itu cuma satu peristiwa tapi sangat menguras energi," ungkap Keisya.

Pandangan Soal Cinta Era Gen Z

Menutup pembicaraan, Keisya memberikan opininya mengenai fenomena jatuh cinta di era sekarang. Hal itu berkaitan dengan genre film 'Dan Bandung' yang mengisahkan kisah percintaan remaja.

Menanggapi pertanyaan mengenai perbedaan cara mencintai antara generasi sekarang (Gen Z) dan generasi terdahulu, Keisya berpendapat bahwa inti dari perasaan cinta itu sendiri sebenarnya tidak pernah berubah.

"Jatuh cinta ya jatuh cinta saja sih Kak, tidak mandang umur atau generasi. Cuma mungkin sekarang ada istilah-istilah baru kayak 'love bombing' atau lainnya. Tapi rasanya tetap sama, bikin hidup terasa lebih berwarna lagi," pungkasnya dengan senyum manis. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: