Menurutnya, warisan budaya Nusantara lahir dari cinta para leluhur, sehingga seluruh tim merasa bertanggung jawab meneruskannya ke generasi berikutnya. Diskusi kreatif bahkan sering berlangsung hingga dini hari.

"Saya dan Ko Elwin (Hendrijanto) sering berdiskusi sampai jam dua atau jam tiga pagi. Kami terus bertanya, apa lagi yang bisa dikembangkan," ungkapnya. Ia meyakini ketulusan proses di balik panggung akan ikut dirasakan penonton, melahirkan rasa haru, bangga, dan syukur karena dilahirkan di Indonesia.

Menyusun Jiwa Pertunjukan Lewat Musik

Elwin Hendrijanto, yang menerjemahkan narasi ke dalam musik, memulai proses kreatif dari memahami karakter tiap tokoh.

| Baca Juga: Avip Priatna dan The Resonanz Children’s Choir Wakili Indonesia ke Final European Grand Prix 2027

"Kami berangkat dari karakter dan cerita setiap tokoh di dalam pertunjukan ini. Musiknya mengikuti karakter mereka," jelasnya.

Ia menyebut Srikandi, Dayang Sumbi, Mande Rubayah, dan Mahadewi masing masing memiliki warna musik berbeda untuk membawa penonton masuk ke perjalanan setiap tokoh.

Partitur yang telah ditulis Elwin kemudian diterjemahkan konduktor Avip Priatna bersama para musisi. Menurutnya, tantangan terbesar bukan memainkan nada yang benar, melainkan menghadirkan karakter di baliknya.

"Nada A dengan nada A yang lain bisa terdengar sangat berbeda. Karena itu kami ingin menghadirkan musik yang tidak hanya berupa not, tetapi benar benar memiliki karakter," jelasnya.

| Baca Juga: Tari Kipas Ajer Antar Svadara Warna Indonesia Raih Gold Medal di Asia Arts Festival 2026

Tiga Bulan Menyatukan Langkah

Di Yogyakarta, 387 penari telah berlatih intensif selama tiga bulan menyiapkan koreografi yang merepresentasikan keragaman budaya Indonesia.

1 2 3

Tags: