VIVIA MEDIA — Aktris sekaligus politisi Rieke Diah Pitaloka membagikan kisah emosional mengenai dinamika hubungannya dengan ketiga buah hatinya yang kini mulai beranjak remaja.

Menjadi ibu tunggal sejak bercerai dari Donny Gahral Adian pada tahun 2015, Rieke mengaku tengah menghadapi fase "patah hati" yang tak terelakkan sebagai seorang orang tua.

Dari pernikahannya, Rieke dikaruniai tiga putra, yakni Sagara Kawani Hadiasyah (17), serta si kembar Jalu Manon Badrika Adiansyah dan Jalu Manon Wisesa Adiansyah (14). Di balik ketegarannya di panggung politik, Rieke ternyata menyimpan kegalauan mendalam saat menyadari anak-anaknya mulai memiliki dunia sendiri.

Saat Anak Mulai Menjauh

Rieke mengungkapkan bahwa transisi anak-anaknya dari masa kanak-kanak ke remaja adalah proses yang tak bisa terelakan. Ia merasa seperti 'patah hati' karena anak-anaknya mulai beranjak remaja. Mereka mulai jarang menemani dan seperti punya dunianya sendiri.

| Baca Juga: Sarwendah Menangis, Ceritakan Anak Dibully di Sekolah Imbas Konflik dengan Ruben Onsu

"Aku melihat bahwa oh ini sesuatu yang normal dalam fase kehidupan seorang manusia, seorang ibu. Meskipun memiliki pasangan, tetap saja ada kerinduan ketika anak beranjak dewasa begitu dan mereka punya dunia sendiri," jelas Rieke Diah Pitaloka saat ditemui di Epicentrum, Selasa (4/8/2026).

Meski merasa sedih, ia menyadari bahwa ini adalah bagian dari siklus kehidupan.Ia merasa ada jarak yang mulai tercipta secara alami, sebuah kondisi yang ia sebut sebagai 'balasan' atas masa lalunya sendiri.

"Ya emang kayak gitu, mungkin proses ya. Sama lah, ternyata aku juga dulu merasa pikir oh ini balasan juga karena dulu aku juga ada momen seperti ini sama kedua orang tuaku begitu. Tapi ini proses normal lah dalam hidup," tambahnya.

Keseharian Rieke sebagai ibu tetap diwarnai dengan berbagai urusan sekolah meski anak-anaknya sudah mulai mandiri. Perempuan kelahiran Garut 52 tahun ini menceritakan sebuah momen di mana ia harus turun tangan menyelesaikan masalah sekolah salah satu putranya.

| Baca Juga: Shireen Sungkar Ungkap Proses Terapi Anak Bungsunya Yang Mengidap Autisme

"Kayak misalnya ada masalah kayak tadi di sekolah, kemudian aku tadi sebelum ke sini harus ke sekolah menyelesaikan urusan sekolah. Lalu di mobil dia bilang 'Tenang Ambu, everything is okay'. Gaya banget, mau pamer gue harus ke sekolahnya dulu," cerita Rieke sambil tertawa mengenang tingkah putranya.

Hobi Ekstrem dan Hilang Kontak

Sebagai ibu dari tiga anak laki-laki, kekhawatiran Rieke berlipat ganda, terutama terkait hobi anak-anaknya yang cukup berisiko. Si kembar diketahui memiliki minat yang berbeda, satu menekuni olahraga tinju (boxing) dan yang lainnya menyukai lari lintas alam (trail run).

Ada satu momen yang membuat Rieke merasa sangat terpukul hingga histeris ketika salah satu anaknya tidak bisa dihubungi saat sedang berada di luar rumah.

"Pasti (takut), gimana yang kembar itu sukanya yang satu suka boxing, yang satu sukanya trail run. Awal-awal itu sampai aku nangis-nangis histeris karena setengah 12 nggak bisa dikontak dan aku pikir dia lagi di gunung mana gitu di Bogor," cerita Rieke.

| Baca Juga: Kalina Ocktaranny Bongkar Alasan Pilu Relakan Hak Asuh Anak ke Deddy Corbuzier

"Paniklah apa segala macam, gimana nggak panik gitu. Aku teleponin semuanya, agak emosi gitu 'Kok nggak dijawab Ibu?', 'Ya namanya di gunung mana ada sinyal' gitu coba," tuturnya mengenang rasa panik yang mencekam saat itu.

Kini, Rieke menemukan cara baru untuk berkomunikasi dengan anak-anak remajanya yang sering kali cuek.

"Tapi sekarang aku punya 'pujian', kalau kemudian mereka nggak jawab telepon, aku voice note 'Tuh, Ambu udah lembut jangan gitu dong', langsung dijawab. Oh iya, sudah lebih cepat responnya," ujarnya sembari tersenyum.

Prinsip Parenting: Bebas Tapi Beretika

Namun, dari semua kejadian, ada satu momen yang diakui Rieke sebagai titik 'patah hati' terdalamnya. Hal itu terjadi saat anak-anaknya memberikan sebuah saran yang tak terduga bagi seorang ibu.

| Baca Juga: Lari 3 Kilometer Bareng Anak Disabilitas, Wulan Guritno Tersentuh

"Terus kata mereka berdua gini, suatu hari mereka berdua kira-kira mau naik kelas 6 itu, mendatangi saya dan mereka bilang: 'Ambu, kayaknya kami tuh sudah bisa sendiri. Jadi tolong, Ambu sebagai orang tua belajar mandiri tidur sendiri," kenang Rieke.

Permintaan anak-anaknya untuk tidur sendiri dan meminta sang ibu untuk juga mulai 'mandiri' tanpa mereka menjadi tamparan emosional bagi Rieke. Proses menerima kenyataan ini diakuinya memakan waktu hampir tiga tahun.

"Loh, gue dinasihatin anak! Iya, dan itu benar-benar patah hati banget ya," kelakar Rieke.

Disinggung mengenai masa depan anak-anaknya, Rieke menegaskan tidak akan memaksakan mereka untuk mengikuti jejaknya di dunia hiburan atau politik. Ia memilih untuk memberikan kebebasan penuh namun dengan batasan moral yang sangat ketat.

| Baca Juga: Terhalang 'Prosedur', Ruben Onsu Enggan Datangi Rumah Sarwendah untuk Bertemu Anak

"Anak silakan memilih jalan hidupnya, profesinya apa pun. Yang penting saya selalu bilang Ambu cuma pesan, terserah kalian mau ngapain," jelasnya.

"Yang penting pertama no drugs and alcohol, no free sex, dan kemudian jangan mengambil hak orang. Jangan menyusahkan hidup orang lain. Udah itu aja," tegasnya.

Bagi Rieke, menjadi orang tua bukan berarti selalu benar. Menurutnya, satu-satunya kebenaran orang tua yang tidak bisa disandingkan dengan anak adalah orang tua lahir duluan. Tapi sisanya kadang kita harus belajar sama anak.

"Anak tidak meninggalkan kita, tapi ini adalah suatu proses di mana yang belajar bukan hanya anak, tetapi orang tua juga harus belajar dari anak," tutup Rieke. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: