VIVIA MEDIA — Sorotan lampu di atas runway hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi Thresia Mareta, perjalanan sebuah koleksi dimulai jauh sebelum model pertama melangkah ke panggung, dan belum benar-benar berakhir ketika peragaan usai.

Pandangan itu diterjemahkannya melalui HARSA, koleksi yang menutup BRI JF3 Fashion Festival 2026. Berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kebahagiaan, HARSA mencerminkan perjalanan delapan tahun pendiri LAKON Indonesia itu membangun karya yang berakar pada kekayaan kriya Indonesia.

Jika koleksi sebelumnya berbicara tentang semangat dan dinamika kehidupan, HARSA mengajak publik menikmati proses dan menemukan kebahagiaan dari perjalanan yang dijalani, bukan semata dari hasil akhirnya.

Di tengah industri fashion global yang didorong siklus tren yang bergerak cepat, Thresia justru mengajak melihat kembali hal yang tidak bisa dipercepat, yaitu keterampilan, pengalaman, dan craftsmanship.

| Baca Juga: Garuda dalam Songket, Bahasa Fashion Baru Kolaborasi Desainer Indonesia-Prancis

"Selama delapan tahun membangun LAKON Indonesia, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya datang ketika sebuah karya selesai. Kebahagiaan justru hadir dalam setiap proses yang kami jalani, ketika berdiskusi, bereksperimen, menyelesaikan berbagai tantangan, hingga melihat hasilnya yang terus berkembang," jelas Thresia saat Re-See Harsa Collection by LAKON Indonesia di Teras Lakon, Summarecon Serpong, Tangerang, Rabu (4/8/2026).

Artisan sebagai Mitra, Bukan Vendor

Bagi Thresia, kekuatan industri fashion ditentukan oleh kualitas orang di belakang setiap produk. Karena itu, pembatik, pembordir, penjahit, dan artisan tidak ditempatkan hanya sebagai pelaksana produksi, melainkan mitra yang ikut membangun karya sejak awal proses kreatif.

"Di tempat kami, artisan bukan vendor. Mereka adalah partner," ujarnya.

Tidak sedikit inovasi lahir dari perdebatan maupun kegagalan selama proses pengembangan. "Kami mencoba, gagal, mencoba lagi. Kadang sesuatu yang menurut saya bisa dilakukan, ternyata artisan berkata, 'Bu, ini tidak bisa.' Tetapi justru dari proses itu kami belajar bersama," jelasnya.

| Baca Juga: Angkat Kekayaan Bali, Happy Salma Ungkap Filosofi di Balik 'Evolusi' Subeng

Koleksi HARSA sendiri terdiri atas 36 tampilan yang mengeksplorasi batik dan bordir melalui pendekatan modern, mulai dari permainan proporsi, konstruksi busana, hingga penggunaan material seperti katun poplin, katun voile, satin duchess, dan organza.

Namun bagi Thresia, nilai terbesar koleksi ini bukan pada siluet atau materialnya, melainkan proses panjang di balik pengembangan teknik yang dilakukan bersama para artisan selama bertahun-tahun.

Konsistensi yang Menaikkan Standar

Menurut Thresia, konsistensi bukan berarti terus-menerus menghasilkan koleksi baru, melainkan keberanian menaikkan standar kualitas dari waktu ke waktu.

"Konsistensi bagi kami bukan hanya soal terus memproduksi koleksi, tetapi konsisten untuk terus menaikkan kualitas," tegasnya.

| Baca Juga: Tiga Desainer ASEAN Meramu Identitas Budaya dalam Haute Couture

Ia juga memilih menyesuaikan kapasitas produksi dengan kebutuhan pasar dibanding mengejar kuantitas.

"Kami lebih memilih menjaga keseimbangan antara demand dan supply. Produksi tidak perlu dipercepat kalau memang belum ada kebutuhannya," jelasnya.

Koleksi HARSA dari Thresia Mareta
Koleksi HARSA dari Thresia Mareta. Foto: Istimewa

Bagi Thresia, keberlanjutan industri fashion Indonesia tidak hanya soal material ramah lingkungan, tetapi juga menjaga keberlangsungan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan ekonomi bagi para artisan agar terus tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Melalui HARSA, ia menawarkan cara pandang bahwa masa depan fashion Indonesia lahir bukan dari kecepatan mengikuti tren, melainkan dari kemampuan membangun manusia dan memperkuat kemitraan dengan para artisan. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: