Greg Nwokolo Tak Paksakan Anak Jadi Pemain Sepak Bola
VIVIA MEDIA — Mantan bintang sepak bola Greg Nwokolo punya pesan khusus untuk para orang tua masa kini yang jauh lebih suportif kepada anak dibandingkan generasi orang tuanya dulu. Pemain naturalisasi asal Nigeria itu mewanti-wanti agar dukungan itu jangan sampai berubah menjadi ambisi yang justru membebani sang anak.
"Sekarang orang tua sangat mendukung, mau anaknya jadi seperti Messi, Ronaldo, atau Ismed Sofyan. Tapi saya bilang, kalau anak saya yang ke dua, cuma jadi seperti Ismed, berarti saya gagal," canda Greg sambil melirik Ismed Sofyan, mantan pemain timnas Indonesia dan Persija Jakarta, yang berada di sampingnya.
Keduanya hadir dalam peluncuran Rajawali Junior League (RJL) 2026, sebuah kompetisi usia dini yang akan berlangsung di Tangerang pada 29-30 Agustus mendatang.
Greg menikah dengan model profesional Kimmy Jayanti pada 2018. Dari pernikahannya itu, ia dikaruniai tiga buah hati: Kimberly Akira Gregory (7), Saint Dominik Gregori (6), dan Henry Benjamin Gregory (2).
| Baca Juga: Punya Anak Soft Spoken, Ternyata Ini Pola Asuh yang Diterapkan Indah Permatasari
Menurut Greg, jika anaknya ingin terjun ke dunia sepak bola, mereka harus lebih hebat darinya. "Anak saya harus sepuluh kali lipat lebih hebat dari saya. Zaman sekarang segalanya lebih cepat. Ada performance training, latihan beban sejak usia dini, latihan fisik dan mental. Itu tidak mudah," jelasnya.
Meski menuntut kehebatan, Greg tetap memegang prinsip bahwa keinginan bermain bola itu harus muncul dari dalam diri sang anak sendiri, bukan paksaan orang tua.
"Untuk orang tua, jangan paksa anak. Saya punya anak umur 5 tahun, saya tidak push dia. Tapi minggu lalu dia bilang sendiri, 'Daddy, I want to be a football player'. Kalau kemauan itu datang dari dia, saya dukung 200%," ungkapnya.
"Tapi jangan jadikan anak sebagai 'Proyek Messi' orang tua. Biarkan anak bahagia dan menikmati permainannya," tutup Greg.
| Baca Juga: Raditya Dika Cerita Alasan Betah Main Trading Card Game
Fenomena Pemain Muda Cepat "Hilang" di Level Senior
Di luar urusan mendidik anak, Greg juga menyoroti fenomena pemain muda potensial Indonesia yang kerap gagal bertransformasi menjadi pemain senior yang konsisten. Menurutnya, gaya hidup dan kepuasan dini menjadi penghambat utama.
"Banyak pemain muda kita potensinya sangat besar, tapi begitu masuk level senior, mereka hilang. Kenapa? Karena di usia muda mereka sudah merasa mendapatkan segalanya. Sponsor, ketenaran, pujian. Mereka lebih mengutamakan gaya hidup daripada sepak bolanya," tutur Greg.
Ia mengingatkan, julukan-julukan besar yang diberikan publik seringkali justru menjadi bumerang bagi mental pemain muda.
"Di Indonesia, begitu pemain viral sedikit, dibilang 'The Next Ismed', 'The Next BePe (Bambang Pamungkas)'. Dua tahun kemudian hilang karena sombong. Sepak bola itu butuh komitmen 100%, tidak bisa 50/50," tambahnya lagi. (*)






