Lutesha Bahas Dilema Hubungan Beda Agama di Film Seni Merayu Tuhan
Guna mendalami gejolak batin Sophia, Lutesha memutuskan untuk melakukan riset mandiri. Ia membuka ruang diskusi dengan teman-teman dekatnya yang sedang atau pernah menjalani hubungan beda agama. Dari sana, ia baru menyadari betapa besarnya tantangan yang dihadapi oleh pasangan-pasangan tersebut.
"Akhirnya aku harus nanya kanan-kiri, kebetulan ada beberapa temen yang emang pacaran beda agama. Dan dari sana aku bisa tahu, oh ternyata bagi banyak orang hubungan beda agama itu jadi tembok penghalang ya," kata bintang film Monster Pabrik Rambut ini.
Proses Bedah Karakter yang Intens Selama Satu Bulan
Kesuksesan istri musisi Cahyo Arswandaru dalam menghidupkan karakter Sophia juga tidak lepas dari proses praproduksi yang sangat detail. Bintang film Cerita Lila ini mengaku sangat terbantu oleh kehadiran acting coach yang membimbingnya melakukan bedah skenario secara mendalam.
Proses reading dilakukan secara intensif selama kurang lebih satu bulan. Menurut Lutesha, setiap dialog dibedah satu per satu agar seluruh pemain memahami makna di balik setiap kata sebelum memulai proses syuting di lapangan.
| Baca Juga: Film 'Monster Pabrik Rambut' Borong Tiga Penghargaan di Dua Festival Film Internasional
"Kita punya acting coach yang detail banget. Jadi reading tuh sekalian dibedah dialognya, emang jadinya lama, tapi enaknya ketika hari H syuting kita nggak banyak pertanyaan lagi, karena semuanya sudah terjawab. Reading selama satu bulanan, intens banget," tuturnya.
Adaptasi Buku Habib Jafar yang Tidak Menggurui
Film Seni Merayu Tuhan merupakan adaptasi dari buku self improvement karya Habib Husein Ja'far Al Hadar atau Habib Jafar. Lutesha menilai adaptasi ini berhasil mengemas pesan-pesan moral menjadi lebih relevan bagi penonton tanpa terasa seperti sedang memberikan ceramah atau menggurui.
Alih-alih menonjolkan ritual ibadah secara eksplisit, film ini menyelipkan nilai-nilai spiritual melalui peristiwa sehari-hari yang emosional, seperti saat karakter menghadapi duka dan kehilangan orang tua.
"Jadi nggak yang menunjukkan ritual atau doa gitu, tapi film ini justru membuatnya jadi lebih simpel. Pesan-pesan itu diselipkan lewat scene sehari-hari, saat berduka, kehilangan ibu yang meninggal," jelas Lutesha.
| Baca Juga: Punya Koleksi 17 Ribu Buku, Habib Jafar Bocorkan Karya Favoritnya







