VIVIA MEDIA — Seorang pendaki perempuan asal Wonokromo, Surabaya, bernama Maliya Finda (51) , dinyatakan hilang saat melakukan pendakian ke Gunung Piramid, Bondowoso, Jawa Tengah, pada 2 Agustus 2026 lalu.

Kehilangan Maliya bukan hanya dirasakan keluarga. Kerabat maupun teman-teman sesama pendaki tentu tak pernah terpikir bahwa itu adalah petualangan terakhirnya.

Maliya hilang bersama pemandu lokal Irfan Nasrul Laili dilaporkan hilang pada 2 Agustus lalu. Jenazah mereka ditemukan dua hari kemudian di dasar jurang Gunung Piramid, pada Selasa, 4 Agustus.

Tim SAR menemukan keduanya di kedalaman 60 meter. Proses evakuasi berlangsung selama 13 jam karena alur pendakian yang dikenal memiliki medan ekstrem, curam dan berbahaya.

| Baca Juga: Perjuangan Esau Sidemo: 26 Hari Hanyut di Samudra Pasifik Hingga Dievakuasi Kapal Prancis

Maliya kini telah dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Karangkembang, Kecamatan Babat, Lamongan, Jawa Timur, Kamis,7 Agustus 2026.

Di mata sahabat dekatnya, Margareta Sulistiyowati, Maliya dikenal sebagai pribadi yang ramah sekaligus memiliki kecintaan besar terhadap alam bebas. Hobi mendaki gunung telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak lama.

Perempuan asal Surabaya itu menceritakan, ia tak ikut melakukan pendakian ke gunung Piramid. Ketika itu, Maliya juga tak mengabarkan kepada Retha bahwa dia akan mendaki.

"Beliau jadwalnya, Minggu tanggal 2 (Agustus) itu ke Bali tapi di Sabtu tanggal 1 Agustus beliau berangkat ke Bondowoso. Saya tidak tahu, tapi ada beberapa teman (yang) mengetahui dia akan ke Piramid, " ungkap Margareta.

| Baca Juga: Betty Bromage, Wing Walker Wanita Tertua di Dunia Pecahkan Rekornya Sendiri

Dia kini menyesalkan keputusan Maliya untuk mendaki ke Piramid. Ia mengaku mengetahui bagaimana berbahayanya medan gunung yang memiliki ketinggian 1.521 meter di atas permukaan laut tersebut.

Gunung itu dikenal dengan karakteristik yang sangat ekstrem dan memiliki sebutan "jalur punggung naga". Sangat rawan dan berbahaya bagi yang belum mengenal medannya.

"Andai beliau ngomong mau ke piramid pastinya saya akan melarang keras beliau kesana," kata Margareta.

Ia menceritakan, pengalaman terakhir mendaki bersama Maliya berlangsung pada 2 Agustus 2025 lalu dengan mendaki Gunung Argopuro.

| Baca Juga: Istri Satpam Waduk Jatiluhur yang Tewas dengan Terborgol Kisahkan Malam Terakhir Sebelum Kejadian

Sosok Meliya di kalangan pendaki perempuan, menurut Margareta, adalah pribadi yang ramah.

"Beliau adalah sosok sahabat yang baik, ramah, murah hati, lucu, ceria, semangatnya berolahraga luar biasa, semangatnya jadi inspirasi saya pribadi, " katanya.

Maliya sudah sangat berpengalaman melakukan pendakian. Margareta mengenal Maliya sejak 2024. Mereka sering melakukan pendakian di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Margareta mengaku, sebenarnya ia ingin mendaki ke Gunung Piramid, namun ia tak mempunyai keberanian karena medannya sangat berbahaya.

| Baca Juga: Misi Besar Fifi Sijangga di Ulang Tahun ke-70 Marlupi Dance Academy

Bahkan ada beberapa pendaki yang mengajaknya untuk naik, ia tak memberi jawaban karena banyak pertimbangan.

" Gunung Piramid ini gunung yang berbahaya saya tahu itu. Sempat dulu ada OT yang rajin ngetag kita berdua untuk ngajakin ke sana tapi saya pribadi tidak berani, belum ingin kesana karena ada biaya yang agak lumayan mahal saat itu menurut saya,"katanya.

Ia menyadari bagi setiap pendaki, mendaki dengan medan yang cukup berat adalah sebuah tantangan.

Hal itu yang nampaknya dirasakan Maliya. Menurut Margareta, Maliya memang sudah lama ingin mendaki Gunung Piramid.

| Baca Juga: Misi Lari 21 Km Penyintas Thalassemia, Demi Sebarkan Edukasi soal Penyakit Darah Genetik

"Setiap ajakan ke gunung beliau tidak pernah menolak selalu jargonnya "gaspoll" terus itulah semangat mendakinya yang menurut saya luar biasa," kata dia.

Sebagai pendaki, Maliya kenyang dengan pengalaman. Ia pernah mendaki Gunung Rinjani, Raung, Kerinci, dengan medan yang sulit berhasil menuju puncak.

"Kemungkinan beliau juga akan menganggap Piramid juga kurang lebih medan nya seperti gunung- gunung tersebut, sehingga mungkin dengan keyakinannya beliau mengambil keputusan untuk pergi ke sana. Guide juga punya pengalaman yang sama," beber Margareta

Kepergian Maliya membuat Margareta merasakan kehilangan yang luar biasa. Namun, ia akhirnya pasrah pada takdir dan jalan hidup seseorang. Bagi dia, pengalaman mendaki yang terhebat adalah ketika seseorang itu bisa kembali dengan selamat.

"Pengalaman terhebat saat mendaki bersama menurut saya tidak ada yang bisa dikatakan terhebat, karena saya menganggap pendakian terhebat adalah berhasil kembali ke rumah dengan selamat, " tutup Margareta. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: