Mata Juling Bukan Sekadar Persoalan Penampilan, Ini yang Perlu Diperhatikan
Dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), Wakil Ketua INAPOSS sekaligus Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus, mengingatkan bahwa pada sebagian anak, mata juling hanya muncul dalam kondisi tertentu.
“Tidak semua mata juling itu terlihat setiap saat. Ada yang muncul ketika kelelahan, ada pula yang baru tampak ketika kita melihat foto atau video. Karena itu, diagnosis strabismus membutuhkan pemeriksaan yang khusus dan komprehensif,” katanya.
Kondisi seperti ini membuat orang tua perlu memperhatikan perubahan kecil pada cara anak melihat. Anak yang kerap memiringkan kepala, menutup salah satu mata, menyipit ketika melihat, kesulitan menangkap benda, sering menabrak sesuatu, atau mengeluhkan penglihatan ganda perlu mendapat perhatian.
| Baca Juga: Tanpa Gejala Bukan Berarti Sehat, Ini Pentingnya Deteksi Dini Hepatitis
Pada bayi berusia sekitar tiga hingga empat bulan, koordinasi kedua mata memang masih berkembang. Namun, jika ketidaksejajaran menetap setelah usia tersebut, kondisi itu sebaiknya tidak dianggap sebagai sesuatu yang pasti akan hilang dengan sendirinya.
Kedua mata pada dasarnya dirancang untuk bekerja sebagai satu kesatuan. Informasi yang sedikit berbeda dari mata kanan dan kiri memungkinkan otak memperkirakan kedalaman dan jarak.
Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, menjelaskan bahwa kemampuan tersebut merupakan bagian dari penglihatan binokular.
“Kalau dua mata melihat, ada perbedaan antara mata kanan dan mata kiri. Perbedaan itu sebetulnya membuat kita bisa melihat jarak, membedakan tiga dimensi, dan sebagainya. Jadi kalau seseorang matanya juling, tentu punya kehilangan kemampuan tersebut,” katanya.
| Baca Juga: Bekal Makan ke Sekolah Bisa Jadi Bahasa Cinta Orangtua untuk Anak
Operasi untuk Perbaikan Menyeluruh
Ketika terapi nonbedah tidak cukup atau pasien memiliki indikasi untuk tindakan operasi, dokter dapat mempertimbangkan operasi strabismus. Namun, keputusan tersebut tidak dibuat hanya berdasarkan penampilan mata.
Menurut Dr. Gusti, dokter perlu melihat pola dan besar penyimpangan, fungsi kedua mata, usia pasien, penyebab strabismus, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.







