Angga Dwimas Sasongko Punya Cara Berbeda Melihat Film Anak
Tantangan itu membuatnya menekankan pentingnya humility sebagai kreator serta kemampuan merawat "anak di dalam diri orang dewasa" agar cerita tetap menyentuh penonton lintas usia, seperti yang ia lihat pada respons penonton dewasa terhadap Jumbo dan Nawila.
“Saya percaya satu hal yang harus dimiliki setiap creator. Humility. Kita gak boleh jadi orang yang merasa paling tahu semuanya,” ujar penulis, sutradara, sekaligus Produser Eksekutif film Mencuri Raden Saleh itu.
| Baca Juga: Ajil Ditto Menangis Saat Beradu Akting Dengan Anak Disabilitas di Film Istimewa
Bagi Angga, privilege seorang storyteller untuk menjangkau banyak orang harus dibayar dengan tanggung jawab, bukan sekadar dianggap wajar.
Ia bahkan menegaskan tidak pernah menganggap kreator lain sebagai kompetitor. "Kompetitor terbesar itu diri saya sendiri," ujarnya, menyebut dirinya selalu "mengejar bayangan sendiri" agar tiap karya lebih baik dari sebelumnya.
Pandangan itu bermuara pada sesuatu yang sangat personal: penonton utama yang selalu ia pikirkan bukan pasar, melainkan anaknya sendiri, Angkasa Regal Sasongko. Ia tidak ingin kelak anaknya menilai karya sang ayah sebagai film yang tidak dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Pandangan Angga ini disampaikan di sela Festival Pahlawan Anak 2026 yang digelar Save the Children Indonesia di Gandaria City Mall, Kamis (13/8), sebagai bagian dari perayaan 50 tahun lembaga itu di Indonesia.
| Baca Juga: Rieke Diah Pitaloka Kesepian di Rumah, Syuting Jadi Pelarian Karena Dicueki Anak
CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, mengatakan festival tersebut digelar untuk meningkatkan kesadaran publik atas isu anak sekaligus mengajak partisipasi masyarakat.
Festival ini turut melibatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menghadirkan layanan konseling keluarga, serta pembicara lain seperti Gupta Sitorus yang menilai isu anak perlu diterjemahkan lewat pendekatan yang lebih populer agar dipahami masyarakat luas. (*)







