VIVIA MEDIA — Bagi Angga Dwimas Sasongko, anak bukan sekadar target pasar dalam industri hiburan. Sutradara sekaligus salah satu penggerak Visinema itu meyakini anak-anak bisa menjadi kekuatan yang mengubah keadaan.

Pandangan tersebut tumbuh dari pengalaman Angga sendiri jauh sebelum ia dikenal lewat sejumlah karya film.

Semua berawal ketika Angga masih menjadi mahasiswa jurnalistik dan membuat film dokumenter tentang konflik sosial di Maluku. Ia semula mencari tahu bagaimana konflik itu bermula.

Namun, temuannya yang justru mengubah arah perhatiannya adalah siapa yang berhasil meredam konflik tersebut: sebuah tim sepak bola remaja berusia sekitar 14 tahun dari Tulehu.

| Baca Juga: Maudy Ayunda: Masa Depan Bangsa Dimulai dari Suara Anak yang Didengar

"Saya menyadarkan bahwa kekuatan dari jiwa dan purity dari anak-anak yang akhirnya membuat orang dewasa terbuka," kata Angga.

Dari sepak bola remaja itu, ia melihat langsung bagaimana warga yang terpisah oleh identitas agama kembali berkumpul untuk menonton pertandingan yang sama.

Pengalaman itu melahirkan film 'Cahaya dari Timur: Beta Maluku' yang menjadi film pertama Visinema yang tayang di bioskop sekaligus meraih Piala Citra pertama bagi rumah produksi itu pada 2014.

Keyakinan tersebut kembali menguat saat pandemi Covid-19. Angga dan tim Visinema mendapati betapa minimnya konten hiburan berbahasa Indonesia untuk anak, sementara sejumlah karya mereka yang paling sukses justru berangkat dari kisah keluarga dan anak, seperti Jumbo dan Nusa.

| Baca Juga: Akui Sudah Punya Anak, Aming Belajar Pola Parenting dari Film 'Aku Sebelum Aku'

Kesadaran itu mendorong lahirnya Visinema Studios, unit yang kini menyerap sekitar 60 persen dari organisasi Visinema untuk fokus memproduksi konten anak dan keluarga, termasuk proyek mendatang 'Nabila dan Kancil' pada 2028.

Namun, menurut Angga, membuat film anak justru lebih sulit dibandingkan dengan film untuk penonton umum, karena karakter penontonnya berubah cepat seiring pertumbuhan mereka.

Tantangan itu membuatnya menekankan pentingnya humility sebagai kreator serta kemampuan merawat "anak di dalam diri orang dewasa" agar cerita tetap menyentuh penonton lintas usia, seperti yang ia lihat pada respons penonton dewasa terhadap Jumbo dan Nawila.

“Saya percaya satu hal yang harus dimiliki setiap creator. Humility. Kita gak boleh jadi orang yang merasa paling tahu semuanya,” ujar penulis, sutradara, sekaligus Produser Eksekutif film Mencuri Raden Saleh itu.

| Baca Juga: Ajil Ditto Menangis Saat Beradu Akting Dengan Anak Disabilitas di Film Istimewa

Bagi Angga, privilege seorang storyteller untuk menjangkau banyak orang harus dibayar dengan tanggung jawab, bukan sekadar dianggap wajar.

Ia bahkan menegaskan tidak pernah menganggap kreator lain sebagai kompetitor. "Kompetitor terbesar itu diri saya sendiri," ujarnya, menyebut dirinya selalu "mengejar bayangan sendiri" agar tiap karya lebih baik dari sebelumnya.

Pandangan itu bermuara pada sesuatu yang sangat personal: penonton utama yang selalu ia pikirkan bukan pasar, melainkan anaknya sendiri, Angkasa Regal Sasongko. Ia tidak ingin kelak anaknya menilai karya sang ayah sebagai film yang tidak dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Pandangan Angga ini disampaikan di sela Festival Pahlawan Anak 2026 yang digelar Save the Children Indonesia di Gandaria City Mall, Kamis (13/8), sebagai bagian dari perayaan 50 tahun lembaga itu di Indonesia.

| Baca Juga: Rieke Diah Pitaloka Kesepian di Rumah, Syuting Jadi Pelarian Karena Dicueki Anak

CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, mengatakan festival tersebut digelar untuk meningkatkan kesadaran publik atas isu anak sekaligus mengajak partisipasi masyarakat.

Festival ini turut melibatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menghadirkan layanan konseling keluarga, serta pembicara lain seperti Gupta Sitorus yang menilai isu anak perlu diterjemahkan lewat pendekatan yang lebih populer agar dipahami masyarakat luas. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: