VIVIA MEDIA — Musisi sekaligus sutradara Reza Oktovian, yang akrab disapa Reza Arap, menjawab kritik netizen mengenai bangku kosong yang disiapkannya untuk mendiang Lula Lahfah beserta buket bunga saat perilisan trailer film 'Harusnya Horror' beberapa waktu lalu.

Aksi simbolis tersebut dilakukan Reza lagi, saat konferensi pers perilisan film Harusnya Horror, Kamis (13/8/2026). Pria 38 tahun ini kembali menyiapkan bangku kosong tepat di sebelahnya dan meletakkan buket bunga matahari.

Meski menuai pro dan kontra, Reza menegaskan bahwa hal itu adalah bentuk penghormatan bagi Lula yang meninggal pada 26 Januari 2026 lalu. Ia menyadari bahwa tindakannya menyiapkan tempat khusus bagi almarhumah Lula Lahfah memicu reaksi negatif di media sosial.

Sebagian netizen menuding aksi tersebut berlebihan, namun Reza memilih untuk tidak ambil pusing dengan komentar miring tersebut.

| Baca Juga: My Forever 17th: Pesan Emosional Reza Arap di Hari Ulang Tahun Almarhumah Lula Lahfah

"Waktu perilisan trailer sempat saya kasih satu spot gitu khusus untuk almarhumah. Dan itu bukan diejek, tapi dihujat gitu. Dan I swear to God, saya tidak peduli," kata Reza Arap saat ditemui di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan, Kamis (13/8/2026).

Bagi Reza, keberadaan Lula dalam proyek ini tidak bisa dihapuskan begitu saja. Sebagai salah satu pemeran utama, kontribusi Lula sangat besar, sehingga mengabaikan kehadirannya justru dianggap sebagai tindakan yang tidak adil.

"Saya akan tetap merayakan Lula, karena ini legacy dia juga di film ini. Itu aja," ujarnya.

Bantahan Atas Tudingan Gimmick Promosi

Muncul tuduhan bahwa aksi 'bangku kosong' tersebut hanyalah sebuah strategi pemasaran atau gimmick untuk menaikkan popularitas film.

| Baca Juga: Kubur Mimpi Punya Keturunan Kandung, Reza Arap Ingin Adopsi Anak

Menanggapi hal ini, Reza Arap memberikan penjelasan bahwa pihaknya sama sekali tidak berniat memanfaatkan kepergian Lula untuk kepentingan komersial.

"Pasti didedikasikan untuk almarhumah. Harusnya kalau nggak disebut pun kayaknya terlalu bias ya kalau misalnya saya bilang atau menganggap dia tidak ada gitu. Karena kan memang ada dia sebagai salah satu pemeran utama gitu," jelas Reza.

Personel Weird Genius, ini melayangkan tantangan terbuka bagi pihak-pihak yang meragukan ketulusannya dalam menghormati mendiang Lula Lahfah. Ia secara tegas membantah tudingan netizen yang menyebut aksi "bangku kosong" sebagai strategi pemasaran untuk filmnya.

Reza bahkan mempersilakan siapa pun untuk memeriksa kembali jadwal produksi serta catatan harian syuting guna membuktikan bahwa tidak ada unsur eksploitasi atas kepergian Lula.

| Baca Juga: Sukses Besar di Tiongkok, Film ‘Kung Fu Soccer’ Akhirnya Tayang di Indonesia

"Terus kalau misalnya nggak dianggap ada, terus harus diapa-apain gitu? Jadi bingung juga sama orang-orang yang mikir jadiin ini buat, sorry ya untuk gimmick atau jualan," ujar Reza dengan nada kecewa saat memberikan klarifikasi.

Bantah Manfaatkan Kematian Lula Lahfah untuk Promo

Reza menekankan bahwa setiap detail proses syuting terdokumentasi dengan baik dalam ponsel pribadinya. Baginya, tuduhan bahwa ia melakukan glorifikasi terhadap kematian Lula untuk meningkatkan angka penjualan film adalah hal yang tidak mendasar.

"Justru aku pribadi itu bisa ditanya, bahkan call sheet-nya, day-nya (jadwal harian) semua masih ada di handphone. Tidak ada upaya meng-glorifikasi kepergian almarhumah untuk keperluan promo," tegasnya.

Sebagai bentuk komitmen untuk menjaga privasi dan rasa hormat kepada almarhumah, Reza sengaja tidak menjadikan topik tersebut sebagai materi utama dalam rangkaian promosi resmi.

| Baca Juga: Zoe Levana Pernah Jadi Korban Perundungan Semasa Sekolah di Surabaya

"Makanya dari tadi kita pas press conference nggak membahas soal itu," tambah Reza

Perjuangan Emosional di Ruang Penyuntingan

Kepergian Lula meninggalkan luka mendalam bagi tim produksi, terutama bagi Reza yang menjabat sebagai sutradara. Ia mengaku proses pasca-produksi menjadi momen yang sangat menyakitkan karena ia harus melihat wajah almarhumah secara terus-menerus di layar monitor untuk proses editing.

"Tantangan terbesarnya mungkin setelah peninggalannya almarhumah. Aku sebagai sutradara harus memberikan approval dan revisi, yang artinya aku harus menonton filmnya terus-menerus," aku Reza dengan jujur.

Beban emosional tersebut sempat membuat mantan suami Wendy Walters ini memutuskan untuk berhenti sejenak dari aktivitas produksi. Ia membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi mentalnya sebelum akhirnya sanggup menyelesaikan tanggung jawab profesionalnya.

“It took like, aku butuh beberapa bulan gitu, untuk akhirnya aku memutuskan berani menonton karena ini tanggung jawabku," tutup Reza. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: