VIVIA MEDIA — Pasangan Nadine Chandrawinata dan Dimas Anggara tengah menikmati peran sebagai orang tua bagi kedua putri kecil mereka. Menikah pada 5 Mei 2018 di Bhutan dan menggelar resepsi di Lombok pada Juli 2018, pasangan ini telah dikaruniai dua anak perempuan, yakni Nadi Djiwa Anggara (Djiwa) yang lahir pada 22 Februari 2022, serta Nadi Djala Anggara (Djala) yang lahir pada 1 Oktober 2023.

Memiliki dua anak yang masih balita mendorong Nadine dan Dimas untuk menerapkan pola asuh khusus yang menekankan pada kemandirian dan pemahaman emosi.

Puteri Indonesia 2005 itu memaparkan bahwa dirinya dan Dimas memiliki kesepakatan kuat untuk menanamkan nilai tanggung jawab sejak usia dini. Hal itu merupakan warisan dari nilai-nilai keluarga yang ia dan suaminya terima dari orang tua masing-masing.

"Aku sama suami itu sudah sepakat bahwa anak ini harus mengerti dulu soal sebab-akibat dan tanggung jawab. Hal itu sebenarnya secara tidak langsung, dan mungkin di bawah alam sadarku, aku belajar dari kedua orang tuaku," jelas Nadine kepada media di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (15/8/2026).

| Baca Juga: Tak Masukkan ke Playgroup dan Tanpa Babysitter, Olivia Zalianty Pilih Rawat Anak Sendiri

"Ternyata orang tua dari Dimas pun memiliki metode yang serupa. Jadi, pas kita diskusi, rasanya langsung 'klik' karena metodenya sama," sambung Nadine.

Lebih lanjut, wanita 42 tahun ini menjelaskan bahwa kemandirian anak dibangun melalui kebebasan untuk bereksplorasi.

"Prinsip kami adalah membiarkan anak ini bereksplorasi. Dia harus tahu mana yang sakit, mana yang tidak, tapi pertama-tama dia harus paham emosinya dulu. Setelah dia paham emosinya, dia baru bisa mengerti sebab-akibat," jelas Nadine.

Membangun Fondasi Lewat Prinsip 'Mendengar dan Didengar'

Selain aspek kemandirian, Nadine menitikberatkan pola komunikasinya pada keseimbangan interaksi. Ia meyakini bahwa rumah harus menjadi tempat di mana sistem pendukung (support system) utama anak terbentuk agar mereka kuat menghadapi pengaruh dari luar.

| Baca Juga: Greg Nwokolo Tak Paksakan Anak Jadi Pemain Sepak Bola

"Poin yang benar-benar aku garis bawahi adalah: dengar dan didengar. Itu poin utamanya," tegasnya.

Saat apa pun terjadi, kalau support system itu terbentuk dengan baik melalui komunikasi dua arah, maka fondasinya tidak akan goyah.

"Tantangan atau rintangan dari luar tidak akan mudah menggoyahkannya karena kita sudah punya pondasi yang kuat di dalam rumah, yaitu saling mendengar," papar Nadine.

Prinsip ini diterapkan agar kedua putrinya tumbuh menjadi pribadi yang beretika dan mampu berempati.

| Baca Juga: Kenalkan Seni Kepada Anak Sebagai Passion, Bukan Paksaan

"Kami ingin membentuk kedua anak kami kebetulan keduanya perempuan, agar mereka tahu bahwa saat mereka ingin didengar, mereka harus mau mendengar dulu," terang Nadine.

Dari situ mereka bisa melangkah ke tahap berikutnya dengan etika yang baik. Mereka harus punya jawaban sendiri atas tindakan mereka, tapi tetap dibawah bimbingan orang tua.

"Jadi mereka harus punya jawaban sendiri atas tindakan mereka, tapi tetap kami bimbing," tambahnya.

Mengatasi Perilaku Buruk Tanpa Membuat Anak Frustrasi

Nadine memberikan contoh saat anaknya melakukan tindakan fisik seperti memukul. Menurutnya, orang tua tidak boleh hanya terpaku pada perilaku luar anak, melainkan harus menggali akar permasalahannya.

| Baca Juga: Rumah Terasa Makin Sempit? Ternyata Bukan Karena Ukurannya

Tugas orang tua adalah mencari tahu 'cerita' di baliknya. "Kenapa dia memukul? Apakah dia sedang mengantuk, lapar, atau merasa tidak nyaman karena berada di keramaian? Kalau kita sudah tahu karakternya seperti apa, kita jadi lebih mudah memahami apa yang dia pikirkan," sambungnya.

Menariknya, Nadine memberikan saran agar orang tua menghindari kata tanya "kenapa" saat anak sedang dalam kondisi emosional. Ia menilai pertanyaan tersebut justru memicu beban stres tambahan bagi balita.

Dia menyarankan, alih-alih bertanya 'kenapa', lebih baik dipancing dengan pertanyaan lain. Misalnya, 'Tadi di sekolah makan apa? Makan stroberi ya? Rasanya manis atau asam?

Menurut Nadine, pendekatan ini jauh lebih efektif dalam membangun kedekatan antara orang tua dan anak. Dengan mengurangi kata 'kenapa', kita membantu mengurangi beban stres pada anak karena pada fase itu, mereka sendiri pun terkadang tidak tahu alasan mereka bertindak demikian.

| Baca Juga: Berat Badan Shabrina Leanor Turun Lewat Bariatrik, Ungkap Alasan di Balik Keputusan

"Jadi, kitalah orang tuanya yang harus mencari cara dan pertanyaan yang tepat agar anak merasa dekat dan didengar," ujar Nadine.

Filosofi Hidup dan Ibarat Kepingan Puzzle

Menjadi orang tua, diakui Nadine tidak mudah. Saat ditanya mengenai cara memandang tantangan hidup sehari-hari, ia memberikan catatan reflektif bagi dirinya sendiri.

"Jangan lupa bernapas. Mengapa bernapas itu penting? Karena kalau kita masih bernapas, artinya kita masih diberikan kesempatan untuk mencoba lagi," jelas bintang film Danau Hitam ini.

Nadine menyadari sepenuhnya bahwa hidup tidak menjanjikan jalan setapak yang mulus. Ia mengibaratkan rintangan sebagai 'kerikil-kerikil' yang pasti ditemui setiap orang.

"Hidup itu tidak akan selalu berjalan mulus. Pasti akan ada kegagalan. Tapi dengan adanya napas, kita diingatkan untuk terus mencoba dan mencoba lagi," tutupnya. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: