Debut Garap Film Horor 'Paket Santet, Dinna Jasanti Konsultasi dengan Dukun Asli
VIVIA MEDIA — Film Paket Santet menandai debut Dinna Jasanti sebagai sutradara dalam genre horor. Meski industri film horor Indonesia berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, sutradara 42 tahun ini mengaku baru menemukan momentum yang tepat untuk terjun menggarap film yang memacu adrenalin tersebut.
Sebelum menjajal genre horor melalui Paket Santet, Dinna Jasanti telah dikenal lewat sejumlah film drama yang mengedepankan hubungan antarmanusia dan konflik emosional.
Lulusan University of Technology Sydney (UTS), Australia, pada tahun 2005 dengan gelar Bachelor of Arts di bidang Komunikasi (Media, Seni, dan Produksi) ini mengawali debut penyutradaraan film panjang melalui Laura & Marsha (2013), yang mengantarkannya masuk nominasi Piala Citra untuk kategori Sutradara Terbaik.
Dinna kemudian menyutradarai Dua Hati Biru (2024) bersama Gina S. Noer dan My Annoying Brother (2024), sebelum berlanjut ke Sampai Titik Terakhirmu (2025) dan Senin Harga Naik (2026).
| Baca Juga: Yasamin Jasem Ungkap Adegan Terberat Saat Syuting Film 'Paket Santet'
Ketertarikannya menggarap film horor bermula ketika ia berdiskusi dengan produser Shanty Harmayn dari Base Entertaiment mengenai ide cerita Paket Santet. Konsep tentang “dukun digital” serta penggunaan paket sebagai bagian penting dalam cerita langsung menarik perhatian Dinna.
"Mungkin soal momentum saja ya. Saat saya dan produser diskusi, muncul ide tentang Paket Santet ini. Saya langsung tertarik karena ada unsur dukun digital dan penggunaan media paket. Saat saya baca halaman pertama skripnya dan ada dialog kurir bilang ‘Paket!’, saya langsung merasa, ‘Oke, saya harus ambil proyek ini’,” jelas Dinna saat ditemui di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).
Melawan Rasa Takut dan Menumpahkan Emosi Terpendam
Secara jujur, Dinna mengaku dirinya sebenarnya adalah seorang penakut. Namun ketakutan itulah yang justru membuatnya penasaran untuk menggali lebih dalam psikologi manusia saat berada di bawah tekanan teror.
"Penakut banget sebenarnya. Tapi serunya membuat film horor adalah setiap orang punya rasa penasaran di hatinya. Apalagi kalau bicara soal ketidakadilan, ada rasa ingin membalas dendam," jelas Dinna.
| Baca Juga: Film Horor 'Paket Santet' Angkat Teror dari Kiriman Misterius
Di film Paket Santet ini, lanjutnya, semua emosi itu ada. Dinna bisa mengeluarkan apa yang ia rasakan, semua emosi yang selama ini ia pendem, semuanya ia tumpahkan lewat film ini.
Menurutnya, horor tidak hanya berkaitan dengan makhluk menyeramkan atau kejutan tiba-tiba, tetapi juga dapat menggali emosi manusia, termasuk rasa tidak adil dan keinginan untuk membalas dendam.
“Saya selalu tertarik dengan cerita yang sangat membumi (grounded) dan dunia yang dekat dengan kita. Dalam hidup ada rasa takut, ada momen yang menghangatkan hati, ada sedih, dan rindu. Saya ingin horor ini bukan hanya sekadar ketakutan fisik atau jump scare,” jelasnya.
Memadukan Drama dengan Horor
Meski baru pertama kali menyutradarai film horor, Dinna sebenarnya sudah memiliki ketertarikan terhadap cerita-cerita menegangkan sejak kecil. Kelahiran Jakarta 21 Februari ini mengaku lebih banyak mengonsumsi film bergenre thriller dan crime.
"Kalau ditanyain dari kecil saya nonton apa, ya nonton thriller. Terus setiap hari dulu tuh saya selalu nonton crime. Terus siapa bunuh siapa. Kill your girlfriend, kill your boyfriend gitu. Itu saya suka banget,” ungkapnya.
Ketertarikan tersebut kemudian ia padukan dengan pengalaman yang selama ini lebih banyak bersinggungan dengan genre drama.
“Dari situ ada cerita-cerita yang saya pengin, ‘Wah, kayaknya kita ada dendam nih, kita ada keseruan nih, kita ada ketakutan.’ Nah, itu saya tampung-tampung saja. Terus pada akhirnya saya harus balance up dengan pengalaman yang selama ini saya punya, yaitu drama,” ujar Dinna.
Menurutnya, Paket Santet menjadi ruang untuk menggabungkan dua pendekatan tersebut. Ia ingin menghadirkan horor sekaligus drama yang memiliki kedekatan emosional dengan penonton.
| Baca Juga: Sempat Gak Pede, Rizky Hanggono Naikkan Berat Badan Sampai 19 Kilogram Demi Jadi Gatot
“Jadi bagaimana caranya saya gabungin drama dan horor menjadi satu. Saat ada kesukaan aku, satu lagi ada tawaran aku. Semoga itu bisa tercerminkan di sini, tapi tetap ada production value yang cukup tinggi yang bisa aku berikan,” katanya.
Konsultasi dengan Dukun Asli Demi Keaslian Ritual
Demi menjaga autentisitas cerita, tim produksi tidak main-main dalam melakukan riset. Dinna mengungkapkan bahwa pihaknya melibatkan konsultan yang memahami praktik perdukunan dunia nyata untuk menyesuaikan detail mantra dan ritual di dalam film.
"Jadi pas skripnya sudah jadi, kita memang sempat mengajak kenalan yang mengerti hal tersebut (dukun) untuk diskusi. Kita minta dia baca skripnya, lalu kita diskusikan. Ternyata memang ada beberapa hal teknis seperti mantranya bagaimana atau ritualnya seperti apa yang harus disesuaikan," jelasnya.
Dinna menegaskan bahwa meski tidak semua saran digunakan, syarat-syarat tertentu tetap dipertahankan agar terasa nyata.
| Baca Juga: Meninggal di Usia 36 Tahun, Penyebab Kematian Aktris Hayden Panettiere Masih Misteri
"Ciri khas atau syarat-syarat tertentunya harus ada supaya terasa otentik. Makanya muncul tawon tadi sebagai medium.Ternyata emang tawon itu adalah salah satu serangga yang dipakai (dalam santet nyata). Dan itu emang ada history-nya, ada sejarahnya juga," tambah Dinna.
Tantangan Teknis: Tawon CGI dan Properti Mock-up
Penggunaan tawon sebagai medium santet menjadi tantangan terbesar bagi kru kreatif. Dinna mengakui ide menjatuhkan paket dan serangan tawon sempat membuat timnya terkejut karena tingkat kesulitannya yang tinggi.
"Saat saya melontarkan ide ‘Paket’ jatuh dari mana atau tentang ‘Tawon’, mereka sempat kaget karena belum pernah dilakukan. Secara teknis film memang sulit membuat tawon yang terbang, tapi karena tim CGI kita sangat mendukung, hasilnya memuaskan," paparnya.
Untuk menyeimbangkan efek visual, tim juga menggunakan properti fisik agar aktor bisa berinteraksi secara nyata.
"Sebagian besar CGI, tapi kita juga pakai beberapa properti mock-up untuk interaksi pemain. Misalnya ada adegan tawonnya diinjak atau dipegang, itu kita pakai properti asli agar aktornya bisa bereaksi secara fisik," tutupnya. (*)







