Band Metal Demon Hunter Gugat Netflix, Klaim Nama 'KPop Demon Hunters' Bikin Bingung Penggemar
VIVIA MEDIA — Film 'KPop Demon Hunters' terseret ke persoalan hukum. Bukan karena kisah Huntrix dan para iblisnya, melainkan karena band metal asal Seattle, Amerika Serikat, yang sudah lebih dulu menggunakan nama Demon Hunter.
Band tersebut menggugat Netflix karena menilai penggunaan nama 'KPop Demon Hunters' berpotensi membuat publik salah mengira keduanya memiliki hubungan. Gugatan diajukan melalui perusahaan mereka, Hyde Lane, ke Pengadilan Distrik Pusat California pada 18 Agustus 2026.
Dilansir dari BBC pada Kamis (20/8/2026), Demon Hunter menilai ekspansi proyek Netflix ke musik, merchandise, hingga konser semakin memperbesar potensi kebingungan tersebut.
Bermula dari Nama yang Mirip
Demon Hunter bukan pendatang baru di industri musik. Grup yang dibentuk pada tahun 2000 itu telah aktif selama sekitar 25 tahun dan merilis 12 album studio. Mereka juga mendaftarkan merek dagang “Demon Hunter” untuk musik rekaman dan merchandise pada 2022.
| Baca Juga: Kronologi Runner-up Raka Raki Jatim 2026 Diduga Lakukan Kekerasan Seksual, Minta Korban Aborsi
Masalahnya, 'KPop Demon Hunters' kini tidak lagi sebatas film animasi. Netflix telah mengembangkan proyek tersebut melalui rilisan musik dan merchandise, sementara tur konser global juga disiapkan bersama promotor AEG Presents dan diperkirakan dimulai pada 2027.
Menurut Demon Hunter, kondisi tersebut membuat produk dan layanan kedua pihak semakin beririsan. Untuk memperkuat klaim mereka, pihak band menyertakan contoh dugaan kebingungan konsumen dalam dokumen gugatan.
Seorang penonton disebut pernah mengeluarkan 500 Dollar US atau sekitar Rp8,9 juta untuk membeli tiket konser Demon Hunter di Albany, New York. Ia mengira konser tersebut merupakan pertunjukan 'KPop Demon Hunters' yang ramah anak.
Setelah menyadari kekeliruannya, penonton tersebut bahkan meminta pengembalian dana agar bisa membeli tiket pertunjukan 'KPop Demon Hunters' yang sebenarnya.
| Baca Juga: D’MASIV Gelar Konser 5 Negara Lewat Asia Home Run, Debut RANS Entertainment Jadi Promotor
Tak berhenti di situ. Seorang produser televisi juga disebut pernah menghubungi manajemen Demon Hunter karena mengira mereka memiliki keterkaitan dengan proyek Netflix. Beberapa unggahan media sosial pun dilaporkan salah menandai akun band ketika membahas film tersebut.
Demon Hunter Minta Netflix Berhenti Pakai Nama yang Sama
Dalam gugatannya, Hyde Lane meminta pengadilan menghentikan Netflix menggunakan nama 'KPop Demon Hunters untuk musik rekaman, pertunjukan langsung, dan merchandise. Mereka juga meminta ganti rugi dengan jumlah yang belum ditentukan.
“Merek Hyde Lane yang telah dibangun dengan cermat selama seperempat abad terakhir kini menghadapi krisis eksistensial,” demikian isi gugatan seperti yang dikutip dari BBC pada Kamis (20/8/2026).
Di sisi lain, Netflix telah mendaftarkan 'KPop Demon Hunters' sebagai merek dagang untuk sejumlah kategori merchandise, sementara beberapa permohonan lainnya masih diproses.
| Baca Juga: Lebih dari Sekadar Pertunjukan, Andrea Bocelli Bakal Tampil di Borobudur Rayakan Tiga Dekade
Kenapa 'KPop Demon Hunters' Populer?
Perlu diketahui, 'KPop Demon Hunters' memang bukan proyek Netflix biasa. Film animasi yang dirilis pada 2025 itu mengisahkan tentang HUNTRIX, grup K-pop perempuan yang diam-diam membasmi iblis.
Film tersebut kemudian menjadi film orisinal Netflix yang paling banyak ditonton sepanjang sejarah platform mereka. Popularitasnya ikut didorong oleh soundtrack seperti 'Golden' dan 'Takedown' yang sukses menembus pasar musik global.
Bahkan, KPop Demon Hunters membawa pulang penghargaan Best Animated Feature dan Best Original Song untuk “Golden” di Oscar 2026.
Netflix dan AEG Presents hingga kini belum memberikan komentar resmi mengenai gugatan tersebut. (*)







