'Operasi Pesta Copet' jadi Film Bujet Terbesar Imajinari, Simak Detailnya dari Ernest Prakasa
VIVIA MEDIA — Rumah produksi Imajinari kembali menampilkan karya terbaru lewat film 'Operasi Pesta Copet'. Film yang digawangi Ernest Prakasa selaku produser ini menjadi sorotan bukan hanya karena premisnya yang unik, tetapi juga karena tantangan produksinya yang tergolong ekstrem, termasuk pengambilan gambar di tengah festival musik sebenarnya.
Awalnya, proyek ini direncanakan mengusung judul Operasi Pesta Pora. Namun, seiring berjalannya proses kreatif, tim produksi memutuskan untuk mengubahnya menjadi Operasi Pesta Copet.
Ernest menegaskan bahwa perubahan ini bukanlah sekadar strategi pemasaran atau gimmick belaka, melainkan sebuah kebutuhan esensial untuk memperkuat identitas cerita.
"Bukan, ini bukan gimmick. Memang dari awal judul pertama yang kita buat adalah Operasi Pesta Pora. Tapi kemudian seiring waktu berjalan, sambil kita mengerjakan berbagai hal termasuk trailer, kita merasa ada sesuatu yang kurang ‘menggigit’ kalau kata 'copet' itu tidak ada di judulnya," kata Ernest di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).
| Baca Juga: Ada ‘Kung Fu Soccer’ dan ‘Operasi Pesta Copet’, Ini Daftar Film Bioskop Agustus 2026
Ernest menjelaskan bahwa film ini ingin memotret sisi lain dari kriminalitas di tempat keramaian seperti konser, namun melalui perspektif yang lebih mendalam. Salah satunya adalah isu ketimpangan sosial.
"Apakah copet-copet ini memang kriminal jahat, atau sekadar orang yang terdesak keadaan? Rasanya tanggung kalau kata 'copet' tidak ada di judul. Orang dengar Operasi Pesta Copet langsung mengerti, 'Oh, ini film tentang copet'," ujarnya panjang lebar.
Menepis Isu Glorifikasi Kriminalitas
Munculnya judul dan trailer film yang dibintangi Iqbaal Ramadhan ini sempat memicu perdebatan di media sosial. Beberapa netizen di Instagram, misalnya, mengkhawatirkan adanya potensi glorifikasi terhadap profesi copet.
Menanggapi hal tersebut, Ernest dengan tegas membantah anggapan tersebut dan justru melihat film ini sebagai bentuk edukasi bagi masyarakat.
| Baca Juga: Item, Kurus bak 'Pria dari Ciputat', Penampilan Iqbaal di Trailer Film 'Operasi Pesta Copet'
"Enggaklah, bukan meng-glorifikasi. Sebenarnya sama saja seperti film lain, ketika kita tahu bagaimana modus operandi mereka, kita jadi tahu cara menghindarinya," jelas Ernest.
"Sama seperti kalau kita baca berita kriminal, kita jadi waspada. Kami berharap setelah menonton film ini, lebih sedikit orang yang menjadi korban copet saat berada di tempat ramai," tegasnya.
Proyek Termahal Produksi Imajinari
Keputusan untuk mengambil latar di festival musik asli, Pestapora, membawa konsekuensi besar pada sisi finansial.
Ernest Prakasa mengakui bahwa Operasi Pesta Copet menjadi film dengan anggaran biaya produksi paling besar yang pernah digelontorkan oleh Imajinari. Baginya, tidak ada jalan tengah untuk mengeksekusi skrip yang ditulis oleh Edy Khemod ini.
| Baca Juga: Dari Drummer ke Kursi Sutradara, Edy Khemod Jalani Debut di Film 'Operasi Pesta Copet'
"Pilihannya cuma dua: dikerjain atau enggak. Kalau mau dikerjain, ya harus sesuai spesifikasinya. Idenya enggak mungkin di-spec down. Kita juga enggak mungkin tiba-tiba disuruh bikin konser sendiri. Makanya kita tanya Ucup (penyelenggara Pestapora), mungkin enggak kita berpartner? Kalau Ucup bilang enggak bisa, ya enggak jadi," ungkap Ernest.
Pria 44 tahun ini menyadari risiko besar yang diambil, namun tetap optimis dengan hasil akhirnya.
"Kami tahu film ini akan memakan budget paling mahal bagi Imajinari, tapi rasanya lebih menyesal kalau kita tidak mencoba," ujar sutradara film Cek Toko Sebelah ini.
Kerahkan 500 Figuran demi Keamanan
Menjalani syuting di tengah puluhan ribu penonton festival tentu bukan perkara mudah. Tim produksi harus memutar otak agar adegan-adegan krusial, terutama aksi pencopetan, dapat terekam dengan baik tanpa menimbulkan kekacauan nyata di lokasi. Ernest pun membagikan sedikit bocoran teknis mengenai bagaimana mereka mensimulasikan keramaian.
| Baca Juga: Syuting Film di Live Pestapora, Iqbaal Ramadhan Cerita Ketegangan Naik Panggung Rhoma Irama
"Sedikit bocoran buat teman-teman, ada adegan-adegan yang seolah-olah terjadi di tengah konser, padahal kita syuting itu sebelum konser dimulai. Panggungnya sudah asli, tapi kita bawa 500 orang ekstra (figuran) untuk adegan nyopet," jelasnya.
Keputusan menggunakan ratusan figuran ini diambil demi keselamatan kru dan pemain.
"Enggak mungkin kan kita nyopet beneran di tengah konser asli demi syuting, nanti digebukin massa," seloroh Ernest.
Persiapan Terlama
Ketelitian menjadi kunci utama dalam produksi ini. Operasi Pesta Copet tercatat sebagai film Imajinari dengan masa persiapan paling panjang. Meski pengambilan gambar baru dilakukan pada tahun 2025, proses survei lokasi atau recce sudah dimulai sejak setahun sebelumnya.
"Betul, ini film Imajinari dengan persiapan terlama. Kita syuting tahun 2025, tapi recce (survei lokasi) dan persiapannya sudah dilakukan sejak tahun 2024 saat Pesta Pora 2024 berlangsung," tutur Ernest.
Tim produksi bahkan harus mempelajari cetak biru festival secara mendetail untuk memetakan pergerakan kamera dan pemain.
"Kita melihat blueprint-nya, alur penontonnya ke mana, panggung mana yang cocok buat adegan nyopet, jadi pas 2025 kita tinggal eksekusi. Saya bilang ke Ucup, jangan sampai alur konsernya berubah drastis di 2025 biar alur copetnya enggak berantakan," pungkasnya sembari tertawa. (*)







