Candramawa, Album Musik Terbaru Danilla Berbicara Soal Pengalaman Batin Manusia
VIVIA MEDIA — Danilla telah resmi merilis album penuh terbarunya, Candramawa. Tema yang dibawa album ini bergerak di sekitar pengalaman manusia, kenangan, luka, ketakutan, kehilangan, hingga upaya menerima sesuatu yang tidak lagi dapat diubah
Album ini berisi delapan lagu dengan durasi sekitar 30 menit, yaitu Pertunjukan Terakhir, Prasangka (feat. Bilal Indrajaya), Kata Siapa, Anaking, Cinta Pertama, Lembar Biru, Dasarwasa, dan Setitik (feat. hara & Sandrayati).
Disebut sebagai album ke-3A, Candramawa hadir lebih reflektif dibandingkan album sebelumnya, Lintasan Waktu (2017) dan POP SEBLAY (2022).
Bagi Danilla, nama lengkap Danilla Jelita Poetri Riyadi, album ini punya arti personal. Ia sempat mempertimbangkan untuk berhenti bermusik sebelum dukungan orang terdekat dan pendengarnya membuatnya kembali melanjutkan perjalanan berkarya.
| Baca Juga: Mawar de Jongh Rilis 'KAN', Lagu tentang Intuisi dan Peringatan yang Diabaikan
Karena itu, Candramawa tidak hanya berbicara soal kehilangan, tetapi juga soal melepaskan dan berdamai.
Dalam proses produksi, Danilla kembali menggandeng Lafa Pratomo dan Otta Tarrega sebagai produser, kolaborasi yang telah berlangsung sejak album debut Telisik (2014). Ketiganya bekerja dengan pola saling merespons, bukan pembagian tugas yang kaku. Otta menjelaskan proses pengumpulan materi awal,
“Pada awalnya kita kumpulin barang-barang, kita kumpulin semua draft yang kita punya. Terus kita saring. Bahkan ketika sudah workshop pun masih ada aja yang rupanya, ‘oh iya sih’. Tetap fluid, tetap eksplor.”
Danilla menambahkan bahwa proses kreatif ini banyak terjadi lewat interaksi bertiga.
| Baca Juga: HyoRiSoo Siap Debut 31 Agustus 2026, Unit Baru Girls’ Generation Rilis Lagu ‘Skibidi’
“Misalnya saat aku mencoba bagian vokal, Lafa dan Otta bisa langsung memberikan respons, begitu juga ketika mereka sedang mencoba bagian gitar atau keys. Dari situ kami bisa saling mengembangkan dan mengubah sesuatu sampai terasa pas," ujarnya saat bincang-bincang di acara Luangkan Ruang, Agar Inspirasi Punya Tempat Singgah di IKEA Alam Sutra, Tangerang, Kamis (20/8).
Sebagian proses produksi berlangsung di sebuah rumah kecil di Bantul, Yogyakarta, pada rentang 2024 hingga 2025. Pilihan lokasi ini awalnya didasari pertimbangan biaya produksi sebagai musisi independen, serta kedekatan personal Danilla dengan Yogyakarta karena ada keluarga di sana.
Rumah yang ditempati tidak besar, meja makan pun difungsikan sebagai tempat bekerja bersama perangkat produksi dan kebutuhan sehari-hari lainnya.
Lafa melihat keterbatasan ruang tersebut sebagai bagian dari cara sebuah karya merespons lingkungannya.
| Baca Juga: 45 Lagu Belum Dirilis Bocor, Ariana Grande Kejar Pelaku hingga ke Instagram dan TikTok
“Saya selalu percaya bahwa proses penciptaan karya seni itu adalah proses merespons satu sama lain atau merespons ruang juga,” ujarnya.
Danilla pun merasakan hal serupa, menurutnya ruang kecil tidak terasa sempit ketika masing-masing sedang fokus mengerjakan bagiannya.
Terkait proses kreatif, Lafa menyebut tidak ada indikator khusus yang harus dipenuhi agar ide muncul. “Tidak ada indikator yang harus ada untuk menciptakan ide. Kreativitas itu berdasarkan orang-orangnya. Sementara ruang itu men-support kreativitas tersebut,” katanya.
Sementara itu, Danilla mengaku kerap membiarkan kebuntuan kreatif berlalu dengan sendirinya, dan menjadikan keresahan pribadi sebagai sumber ide untuk berbagi cerita kepada pendengarnya.
| Baca Juga: Eby dan Zahra DA7 Rilis ‘Saat Bahagia’, Remake Lagu Ungu dan Andien dengan Sentuhan Koplo
Salah satu lagu dalam album ini, Pertunjukan Terakhir, ditulis bersama Lafa dan Otta dan memandang tema kematian dari dua sisi, baik dari mereka yang ditinggalkan maupun dari perspektif seseorang yang telah pergi.
Tema kehilangan dalam Candramawa berjalan beriringan dengan gagasan menerima bahwa tidak semua hal dapat diperbaiki atau memiliki jawaban. (*)







