Perubahan Spiritual Arya Saloka usai Bintangi Film Munafik: Melawan Iblis
VIVIA MEDIA — Aktor Arya Saloka resmi didapuk sebagai pemeran utama dalam film horor religi terbaru berjudul 'Munafik: Melawan Iblis'. Film ini merupakan adaptasi resmi dari karya fenomenal sutradara Malaysia, Syamsul Yusof, yang dirilis pada tahun 2016.
Dalam versi Indonesia ini, Arya memerankan karakter ikonik bernama Ustaz Adam.
Bagi Arya Saloka, proyek ini bukan sekadar pekerjaan seni peran biasa. Ia mengaku memetik pesan mendalam mengenai sifat manusia melalui naskah yang digarap oleh sutradara Guntur Soeharjanto.
Arya mengungkapkan bahwa premis film ini sangat relevan dengan kehidupan nyata, bahkan menjadi sarana refleksi bagi dirinya sendiri. Ia menyoroti bagaimana manusia seringkali tidak selaras antara perkataan dan perbuatan.
| Baca Juga: Totalitas Acha Septriasa, Latihan Kerasukan Demi Film ‘Munafik: Melawan Iblis’
"Cerita ini sangat relate. Banyak manusia, mungkin termasuk saya sendiri, masih dalam kategori munafik. Terkadang apa yang kita bicarakan belum tentu sesuai dengan perilaku," ujar Arya Saloka saat ditemui di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (24/8/2026).
Melalui karakter Ustaz Adam, bintang sinetron Ikatan Cinta ini mengaku belajar banyak tentang penerimaan dan keikhlasan dalam menghadapi takdir.
"Film ini bukan cuma horor dan jumpscare, tapi sebuah paket lengkap tentang perjalanan batin manusia menghadapi takdir Allah. Saya berharap penonton bisa merasakan pengalaman batin yang sama," tambah mantan suami Puteri Anne ini.
Awal Mula Keterlibatan: Sempat Mengira Film Drama
Keterlibatan dalam film 'Munafik: Melawan Iblis' diakui Arya membawa dampak besar bagi kehidupan spiritualnya. Saat ini, ia mengaku lebih fokus untuk memperbaiki diri secara religi.
| Baca Juga: Adhisty Zara Persembahkan Film Rumah Singgah untuk Sang Kakek
"Untuk mengejar akhirat, kayaknya kita tidak boleh ada kata bosan. Fokus saya sekarang memang ingin lebih mengejar akhirat, supaya dunianya ikut. Kalau cuma kejar dunia, takutnya di akhirat nanti bablas," tuturnya serius.
Menariknya, Arya mengaku sempat tidak mengetahui bahwa proyek yang ditawarkan kepadanya adalah sebuah film horor. Ketertarikannya muncul justru setelah ia memahami kedalaman emosional karakter yang akan dimainkannya.
"Jujur, awalnya manajer saya tidak bilang kalau ini film horor. Cuma bilang judulnya 'Munafik'. Saya pikir ini film drama tentang kekerasan dalam rumah tangga atau semacamnya. Begitu dikasih tahu ini horor, saya langsung tertarik," ungkap Arya.
Ia menjelaskan bahwa diskusi dengan sutradara Guntur Soeharjanto dan produser Pak Oswin memantapkan pilihannya. Apalagi saat mendalami karakter Adam, ia merasa ada kedekatan emosional dengannya.
"Dia adalah sosok yang Allah berikan takdir kehilangan, dan itu adalah sesuatu yang akan dialami semua orang. Kita semua pasti akan kehilangan atau ditinggalkan. Lewat film ini, saya belajar proses batinnya yang luar biasa," jelasnya.
Tantangan Berat Pelafalan Ayat Suci Al-Qur'an
Tantangan terbesar yang dirasakan aktor 35 tahun ini bukan pada adegan aksi atau ekspresi ketakutan, melainkan pada ketepatan pelafalan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang digunakan untuk adegan rukyah. Ia mengaku sempat merasa tertekan karena tanggung jawab moral dan teknis yang besar.
"Yang paling membuat saya stres adalah pelafalan ayat-ayat Al-Qur'an. Ini bukan main-main. Mas Dimas Aditya ini adalah 'teman stres' saya selama persiapan. Kami saling menjaga," kata Arya sembari tertawa.
Demi akurasi, Arya dan Dimas Aditya harus kembali belajar dari dasar. Seperti belajar lagi dari Iqra, membenarkan tajwid, panjang pendeknya, dan huruf per hurufnya.Dalam prosesnya, ia dipandu oleh Ustaz Adi yang mendampingi kami terus untuk proses hafalan Quran.
| Baca Juga: Shin Tae-yong Jadi Mentor Dalam Dokumenter Sepak Bola, Ungkap Kunci Jadi Pemain Hebat
"Beliau adalah tim dari Ustaz Faizar dalam hal rukyah. Kami ingin penonton benar-benar merasakan bahwa kami adalah sosok ustaz yang fasih, bukan sekadar akting," tegasnya.
Kedisiplinan 'Grup Rukyah' dan Setoran Subuh
Proses persiapan dilakukan secara intensif. Arya menceritakan adanya rutinitas khusus yang harus dijalani demi mendalami peran ustaz yang kredibel, termasuk pembentukan grup koordinasi khusus.
"Setelah salat Subuh, langsung jalan ke tempat Ustaz Adi untuk setor bacaan. Kita juga punya grup khusus, namanya 'Grup Rukyah', isinya cuma saya, Dimas, dan Ustaz Adi. Setiap hari kita wajib setor ayat," tutur Arya.
Ayat-ayat yang harus dihafalkan diambil dari berbagai surah, seperti Al-Hasyr, Al-Mu’minun, dan Al-Baqarah. Arya memiliki metode tersendiri untuk menghafal ayat-ayat tersebut agar tidak terjadi kesalahan fatal dalam makhraj (tempat keluarnya huruf). Arya mengombinasikan metode visual dan audio.
| Baca Juga: Cara Maxime Bouttier Tampil Lebih 'Brondong' di Series 'Tante Sonya'
"Cara menghafal tiap orang kan beda-beda ya, ada yang lewat pendengaran, ada yang lewat membaca. Kalau saya paling efektif itu dua-duanya. Karena kalau cuma dengar tanpa tahu huruf per huruf dan tajwidnya, bisa salah fatal," paparnya.
Bintang film Lembayung ini mengaku sering mendengarkan rekaman imam besar dunia sebagai referensi.
"Saya biasanya mengikuti irama dari Syekh Sudais atau referensi dari hafidz-hafidz lain seperti Ustaz Adi Hidayat yang bacaannya sangat indah," lanjutnya.
Keberhasilan Arya dan tim dalam menghafal ayat-ayat tersebut terbukti saat proses pascaproduksi. Ia mengungkapkan bahwa suara yang terdengar di film mayoritas adalah suara asli dari lokasi syuting, bukan hasil pengisian suara ulang (dubbing).
"Alhamdulillah, saat proses ADR (Automated Dialogue Replacement), perubahannya minim sekali. Paling hanya perbaikan teknis kalau ada suara bocor di set. Sisanya, bacaan kami hampir murni menggunakan suara saat di lokasi syuting. Tidak ada dubbing penuh. Itu pencapaian yang saya syukuri," jelas Arya. (*)






