Melansir dari laman BBC, perjalanan karir Yayoi Kusama tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1960-an, ia sering kali dipandang sebelah mata karena di era itu bidang seni didominasi pria.

| Baca Juga: Terinspirasi Rumah Gadang, Maritza Anjali Ajak Gen-Z Merasa Pulang Lewat Helai Busana

Hal tersebut membuat Kusama kecewa dan tertekan hingga mengalami masalah kesehatan mental. Ia lalu memutuskan kembali ke Jepang pada 1973.

Di tanah kelahirannya, Kusama mulai menulis puisi dan novel. Ia juga menciptakan patung, instalasi berukuran besar, dan membuat sejumlah seri lukisan.

Namanya melambung di kancah global ketika dirinya terpilih mewakili Jepang di pameran dan festival seni internasional paling bergengsi dunia, Venice Biennale ke-45 pada 1993.

Pameran tersebut makin memantapkan status Yayoi Kusama sebagai seniman avant-garde legendaris. Ia juga dijuluki sebagai 'Ratu Poldakot' karena motif bintik-bintik yang menjadi ciri khas dalam karya-karyanya.

| Baca Juga: Gaya Heboh Madonna, Rayakan Ulang Tahun ke-68 Bareng Pacar dan Anak

Berkolaborasi dengan Brand Mewah

Karya Kusama tidak hanya sebatas pada lukisan atau tulisan, ia juga menjajal peruntungan di bidang fashion. Ia mendirikan Kusama Fashion Company Ltd pada 1968 yang menjual busana-busana avant-garde.

Kusama juga pernah berkolaborasi dengan merek mewah Louis Vuitton pada 2012 yang kala itu dipimpin oleh Marc Jacobs. Mereka merancang sejumlah lini produk, termasuk busana siap pakai, aksesori, sepatu, jam tangan, dan perhiasan. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: