VIVIA MEDIA — Seniman kontemporer legendaris asal Jepang, Yayoi Kusama meninggal dunia di usia 97 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus 2026.

Namun kabar duka tersebut baru diumumkan ke publik melalui media sosial dan website resminya, Kamis, 27 Agustus 2026. Penyebab pasti kematiannya tidak diungkap.

"Pengumuman berpulangnya Yayoi Kusama. Mendiang meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Tokyo pada tanggal 14 Agustus 2026," begitu bunyi pernyataan yang dirilis.

Pernyataan itu juga mengenang sosok mendiang sebagai seniman avant-garde di berbagai bidang, termasuk seni rupa, seni pertunjukan, fiksi, dan puisi.

| Baca Juga: Ada Hermes Kulit Buaya, Cardi B Pamer Koleksi Tas Mewah Senilai Miliaran Rupiah

Disebutkan pula bahwa mendiang terus mengeksplorasi tema cinta abadi dan semangat manusia, bahkan tetap melukis dan memegang kuas pada hari-hari terakhirnya di dunia.

Mengenang Sang Ratu Polkadot

Yayoi Kusama. Foto: Dok. Instagram @yayoikusamamuseum

Kecintaan Yayoi Kusama terhadap dunia seni muncul sejak ia masih kecil. Dulu, wanita kelahiran 22 Maret 1929 itu mengalami halusinasi yang membuatnya melihat kilatan cahaya, aura, atau pemandangan bintik-bintik padat.

Sejak saat itu, ia mulai melukis dengan motif titik-titik (polkadot) serta jaring. Ia kemudian membentuk gaya ekspresi uniknya sendiri menggunakan media cat air, pastel, dan cat minyak.

| Baca Juga: Unik atau Aneh? Margaret Qualley Pakai Sepatu Tanpa Sol di Premiere 'The Dog Stars'

Kusama mulai belajar melukis secara formal di Sekolah Seni dan Kerajinan Kota Kyoto pada tahun 1948. Namun karena kurang menggemari gaya seni Jepang, ia pun mencoba gaya avant-garde ala Eropa dan Amerika.

Ia perdana mengadakan pameran seni solo di Matsumoto dan Tokyo pada tahun 1950-an. Kemudian pindah ke New York, Amerika Serikat, sekitar tahun 1957.

Karya lukisan Yayoi Kusama. Foto: Dok. Instagram @yayoikusamamuseum

Di Negeri Paman Sam sana, ia mulai mengembangkan karya-karya inovatif, seperti lukisan jaring tanpa batas, patung tekstil, serta instalasi ruang cermin atau infinity mirror rooms dengan pencahayaan lampu elektrik.

Melansir dari laman BBC, perjalanan karir Yayoi Kusama tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1960-an, ia sering kali dipandang sebelah mata karena di era itu bidang seni didominasi pria.

| Baca Juga: Terinspirasi Rumah Gadang, Maritza Anjali Ajak Gen-Z Merasa Pulang Lewat Helai Busana

Hal tersebut membuat Kusama kecewa dan tertekan hingga mengalami masalah kesehatan mental. Ia lalu memutuskan kembali ke Jepang pada 1973.

Di tanah kelahirannya, Kusama mulai menulis puisi dan novel. Ia juga menciptakan patung, instalasi berukuran besar, dan membuat sejumlah seri lukisan.

Namanya melambung di kancah global ketika dirinya terpilih mewakili Jepang di pameran dan festival seni internasional paling bergengsi dunia, Venice Biennale ke-45 pada 1993.

Pameran tersebut makin memantapkan status Yayoi Kusama sebagai seniman avant-garde legendaris. Ia juga dijuluki sebagai 'Ratu Poldakot' karena motif bintik-bintik yang menjadi ciri khas dalam karya-karyanya.

| Baca Juga: Gaya Heboh Madonna, Rayakan Ulang Tahun ke-68 Bareng Pacar dan Anak

Berkolaborasi dengan Brand Mewah

Karya Kusama tidak hanya sebatas pada lukisan atau tulisan, ia juga menjajal peruntungan di bidang fashion. Ia mendirikan Kusama Fashion Company Ltd pada 1968 yang menjual busana-busana avant-garde.

Kusama juga pernah berkolaborasi dengan merek mewah Louis Vuitton pada 2012 yang kala itu dipimpin oleh Marc Jacobs. Mereka merancang sejumlah lini produk, termasuk busana siap pakai, aksesori, sepatu, jam tangan, dan perhiasan. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: