Pagelaran Seni dari Guruh Sukses Kumpulkan Rp200 Juta Untuk Penyintas Kanker
VIVIA MEDIA — Nama besar maestro seni dan budaya Indonesia, Guruh Sukarno Putra, ternyata masih memiliki magnet yang kuat. Hampir setengah abad berkarya dan konsisten mengembangkan seni budaya Nusantara, putra bungsu Proklamator Indonesia Ir. Soekarno itu kembali membuktikan daya tariknya lewat pagelaran amal bertajuk 'Untuk Indonesia'.
Digelar di Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026), acara yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut bukan sekadar pertunjukan seni. Pagelaran ini menjadi perpaduan antara pentas seni budaya, kecintaan terhadap Indonesia, dan aksi penggalangan dana untuk anak-anak penyintas kanker.
Sekitar 200 tamu undangan yang juga merupakan donatur hadir dan menikmati langsung suguhan seni yang dikemas oleh Guruh. Beragam pertunjukan lintas generasi membuat suasana acara terasa istimewa.
Salah satu momen yang mendapat perhatian adalah penampilan Paduan Suara Gema Indonesia, kelompok binaan Guruh yang baru saja dibentuk. Kehadirannya sekaligus menjadi momentum peluncuran Gema Indonesia sebagai bagian dari upaya Guruh untuk terus mengenalkan kekayaan budaya Tanah Air.
| Baca Juga: Guruh Padukan Panggung Seni dan Aksi Kemanusiaan untuk Penyintas Kanker
Di sela acara, Guruh Sukarno Putra menyampaikan pandangannya tentang arti mencintai Indonesia. Baginya, kecintaan terhadap Tanah Air tidak harus diwujudkan melalui sesuatu yang rumit.
“Jadi, benar bahwa cinta itu ndak harus misteri. Cinta itu harus semua. Iya, cinta pemandangan kita, cinta negeri kita, juga Tanah Air kita,” ujar Guruh.
Pernyataan tersebut membuat suasana seketika hening. Para tamu seolah diajak merenungkan kembali makna sederhana dari mencintai negeri sendiri. Menurut Guruh, kecintaan terhadap Indonesia juga harus terlihat dari bagaimana seseorang menempatkan kepentingan Tanah Air dalam kehidupannya.
“Nah, seberapa besar cintanya. Kalau untuk diri saya, kepada Tanah Air, ya harus nomor satu. Lebih diutamakan atau malah harus dikedepankan,” tuturnya.
| Baca Juga: Jane Callista Segera Kuliah di Columbia University, Tampil di Pagelaran Guruh Sebelum Berangkat
Kecintaan tersebut, kata Guruh, bukan sekadar slogan. Ia mengaku kerap emosional ketika melihat kehidupan masyarakat Indonesia, terutama anak-anak, petani dan nelayan.
“Saya kok lihat sendiri pemandangan. Lihat anak-anak Indonesia, lihat petani, nelayan dan lain-lainnya. Saya malah menangis,” ungkapnya dengan nada pilu.
Ada satu kegelisahan yang hingga kini masih dirasakan Guruh. Ia melihat masih banyak anak-anak Indonesia yang justru belum mengenal negeri dan kebudayaannya sendiri.
Kegelisahan itulah yang kemudian menjadi salah satu alasan Guruh tetap konsisten menghadirkan seni dan budaya dalam berbagai kesempatan. Baginya, seni tradisi bukan sekadar tontonan, tetapi juga sarana untuk memperkenalkan identitas bangsa kepada generasi muda.
| Baca Juga: Generasi Muda Diajak Mengenal Sastrawan-Sutradara Asrul Sani Lewat Pameran
Lewat pagelaran 'Untuk Indonesia', pesan tersebut diterjemahkan dalam sebuah pertunjukan yang sarat nuansa Nusantara.
Nuansa Bali terasa begitu kuat. Alunan gamelan, gong kebyar, tarian, hingga atmosfer pertunjukan yang kental dengan budaya Dewata membawa penonton seolah menikmati perjalanan ke tengah kekayaan tradisi Indonesia.

Pertunjukan yang diselenggarakan Elang Production itu juga diperkaya dengan Kidung Bali, Tari Gandrung, Gema Indonesia, hingga penampilan sejumlah musisi, termasuk penyanyi Marcell Siahaan.
Para seniman lintas generasi juga turut ambil bagian. Mereka di antaranya Kinarya GSP, Putri GSP, Gema Indonesia dan I Ketut Gunawan Sandika.
| Baca Juga: Barack Obama Bakal Jadi Host Podcast, Cerita Soal Buku-Buku yang Berpengaruh Untuknya
Penampilan tersebut semakin lengkap dengan kehadiran para gadis sampul seperti Starrisya Andhita, Fae Bernice Robin, Jane Callista dan Kacamelyv Prakaca. Ada pula penampilan khusus Melvina Patricia, penyintas kanker yang kini telah pulih.
Di belakang panggung, musik pertunjukan diperkuat Willy Aviantara, musisi sekaligus produser musik profesional yang telah belasan tahun berkecimpung di dunia seni pertunjukan, konser, teater hingga perfilman.
Tak hanya menikmati pertunjukan, para tamu juga diajak terlibat langsung dalam aksi sosial melalui lelang amal. Berbagai wastra atau kain tradisional karya Guruh Sukarno Putra dilelang. Ada pula wastra anak-anak penyintas kanker serta berbagai karya dari Ndara Pearls.
Sejumlah barang pribadi milik Guruh juga ikut dilelang. Mulai kain songket Sumatera, pakaian batik hingga berbagai benda seni yang memiliki nilai historis dan kebanggaan tersendiri bagi para kolektor.
| Baca Juga: Skala Panggung Lebih Besar, 1.700 Seniman Terlibat Dalam Hikayat Srikandi Nusantara
Antusiasme para donatur membuat lelang tersebut berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp200 juta.
Dana hasil lelang kemudian disumbangkan kepada Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI) untuk mendukung anak-anak pejuang dan penyintas kanker.
Dua nama tercatat sebagai donatur dengan nilai kontribusi terbesar, yakni Himawan dan Yunita Yunus. Keduanya masing-masing berani mengeluarkan dana pada kisaran Rp40 juta hingga Rp60 juta.
Ketua Panitia Pelaksana Konser Amal Untuk Indonesia, Ai Syarif, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pengumpulan dana pengobatan. Menurutnya, dukungan psikologis bagi anak-anak penyintas kanker dan keluarganya juga menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.
| Baca Juga: Bulang Trang, Nona: Kisah Pejuang yang Menemukan Arti Patriotisme dari Keluarga dan Cinta
“Acara ini tidak hanya bertujuan mengumpulkan dana medis, tetapi juga memberikan dukungan psikologis dan membangun kesadaran filantropi,” ujar Ai Syarif.
Ia menilai keberadaan lembaga filantropi yang fokus membantu anak-anak penyintas kanker sangat dibutuhkan. Pasalnya, biaya pengobatan kanker anak tidak sedikit dan beban psikologis yang harus ditanggung keluarga juga sangat berat.
“Kondisi ketiadaan fasilitas dan dokter spesialis kanker anak (onkologi anak) yang belum merata di Indonesia memang menjadi tantangan besar bagi banyak keluarga,” lanjutnya.
Keterbatasan fasilitas di daerah membuat sebagian pasien harus dirujuk ke rumah sakit besar di kota-kota utama. Kondisi tersebut otomatis menambah beban keluarga karena harus menanggung biaya perjalanan, logistik hingga akomodasi selama menjalani pengobatan. (*)



