Baskara Mahendra Ubah Cara Jalan dan Hitamkan Kulit Demi Peran Film Lobang Buaya
Baskara menjelaskan bahwa karakter Soegeng dalam film ini berfungsi sebagai penyidik. Alur ceritanya sendiri akan menggunakan pendekatan whodunnit, di mana penonton akan diajak menebak siapa pelaku sebenarnya seiring dengan terbukanya tabir misteri satu per satu.
"Karakter Sugeng ini melakukan investigasi. Perannya di sini bisa dibilang mirip seperti detektif dalam film whodunnit. Perlahan-lahan kita akan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang melakukannya, dan bagaimana hubungannya dengan kehidupan pribadi Sugeng. Ceritanya akan terkuak satu per satu seiring berjalannya film," ungkap Baskara.
Mengenai latar belakang militernya, Baskara menyebutkan bahwa ia juga mendalami bagaimana kondisi Angkatan Darat pada tahun 1964, yang secara struktural belum seperti militer modern saat ini.
Bintang serial Jakarta Undercover ini pun membocorkan adanya latihan khusus yang bersifat rahasia untuk menunjang perannya.
| Baca Juga: Reuni dengan Sutradara Squid Game, Lee Byung-hun Bintangi Film Layar Lebar 'K.O. Club'
"Kalau untuk tentaranya sih bagaimanapun sebenarnya di tahun itu belum segitu kayak kaum sekarang ya, Angkatan Darat enggak ada sapta marga atau seperti apa gitu. Tapi kalau yang ada atau enggak latihan, ada sih, ada tapi rahasia," tuturnya.
Kedekatan Personal dengan Sejarah Indonesia
Keterlibatan Baskara dalam film Lobang Buaya bukan tanpa alasan. Ia mengaku memiliki ketertarikan yang sangat besar terhadap sejarah Indonesia sejak masa sekolah. Baginya, membaca sejarah seperti membaca sebuah narasi fiksi yang penuh dengan intrik.
"Sebenarnya saya memang senang sejarah. Dulu pelajaran yang kalau buku paketnya datang langsung di baca adalah sejarah. Satu atau dua hari pasti selesai. Karena seperti baca buku cerita, kayak baca buku fiksi gitu," ungkap Baskara.
Film ini mengambil latar tahun 1964, sebuah periode sensitif dalam sejarah Indonesia yang seringkali tidak terjelaskan secara gamblang dalam buku pelajaran sekolah.
| Baca Juga: Ini Akun Media Sosial yang Disomasi Reza Arap Terkait Film 'Harusnya Horror'
Baskara melihat proyek ini sebagai ruang diskusi yang menarik, terutama mengenai peristiwa pasca-1965 yang selama ini terkesan ditutup-tutupi.







