VIVIA MEDIA — Teknologi bayi tabung atau IVF (In Vitro Fertilization) kini semakin canggih. Embrio bisa diamati perkembangannya setiap lima menit lewat inkubator khusus, kecerdasan artifisial dapat membantu memilih embrio terbaik, dan kondisi kromosom embrio pun bisa diperiksa.

Namun ada satu hal yang tidak bisa dikendalikan teknologi secanggih apa pun, yaitu waktu. Sel telur tetap menua, cadangan ovarium tetap berkurang, dan kualitas sperma tetap dipengaruhi kondisi tubuh.

Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, dokter spesialis fertilitas dari RS Pondok Indah IVF Centre, mengatakan teknologi reproduksi hanya membantu sebagian kecil dari proses biologis yang jauh lebih besar.

"Ini merupakan upaya manusia mengambil sedikit saja dari apa yang dilakukan oleh Yang Maha Kuasa. Kita coba bantu sedikit di luar. Sisanya masih merupakan proses yang dikendalikan oleh Allah SWT," ujarnya.

| Baca Juga: Merasa Cuma Kelebihan Berat Badan? Hati-Hati Bisa Jadi Sudah Obesitas

IVF pertama kali berhasil pada 1978 di Inggris lewat kelahiran Louise Brown, hasil kerja Robert Edwards dan Patrick Steptoe. Indonesia mencatat kelahiran bayi tabung pertamanya pada 1988. Kini sekitar 20 juta bayi di dunia lahir melalui teknologi ini.

Proses IVF dimulai dari pengambilan sel telur, pembuahan di laboratorium, hingga embrio dikembangkan dalam inkubator selama sekitar lima hari.

"Tempat yang paling nyaman di dunia itu rahim. Inkubator itu seperti rahim buatan di laboratorium, tempat embrio dikembangkan sampai usia sekitar lima hari," jelas Prof. Budi.

Setiap pembelahan sel diamati untuk menilai kualitas embrio. Namun tidak semua sel telur berhasil dibuahi, dan tidak semua embrio memiliki kromosom normal.

| Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Anyang-anyangan, Ini Cara Sederhana Jaga Kesehatan Kandung Kemih

Usia perempuan menjadi faktor penentu keberhasilan. Pada perempuan di bawah 35 tahun, peluang keberhasilan IVF berkisar 50 sampai 60 persen. Setelah usia 35 tahun, angka ini turun menjadi 30 sampai 40 persen, dan pada usia di atas 40 tahun bisa turun di bawah 20 persen.

Perempuan berusia 34 tahun umumnya butuh sekitar lima sel telur untuk mendapatkan satu embrio normal. Pada usia 41 tahun, dibutuhkan sekitar 20 sel telur untuk hasil yang sama, karena sekitar 75 persen embrio pada usia di atas 37 tahun bisa mengalami kelainan kromosom.

Prof. Budi menjelaskan bahwa usia biologis ovarium tidak selalu sama dengan usia di kartu identitas. "Ada yang usia kronologisnya 35 tahun, tetapi kondisi biologis ovariumnya seperti 42 tahun. Ada juga yang cadangan telurnya masih sangat baik," katanya.

Salah satu alat ukur yang digunakan adalah kadar Anti-Mullerian Hormone atau AMH, yang ia ibaratkan seperti rem pada mobil untuk menilai cadangan sel telur.

| Baca Juga: Mendengarkan Sinyal Tubuh: Kunci Deteksi Dini Kanker dan TBC

Teknologi AI kini juga mulai berperan dalam membaca pola perkembangan embrio dari data time-lapse incubator. Meski begitu, Prof. Budi menegaskan keputusan akhir tetap ada di tangan dokter.

"AI will not replace the doctor. However, the doctor who does not use AI will be replaced soon (AI tidak akan menggantikan dokter. Tetapi, dokter yang tidak menggunakan AI lambat laun akan digantikan)," tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak selalu menyalahkan perempuan ketika pasangan belum memiliki anak. Faktor laki-laki menyumbang sekitar 35 persen penyebab gangguan kesuburan.

"Never touch the woman before you check the man. Jangan sentuh perempuan sebelum memeriksa laki-laki," katanya. Kualitas sperma sendiri terbentuk dari kebiasaan hidup dalam dua bulan terakhir, termasuk kebiasaan merokok dan paparan panas berlebihan di sekitar area testis.

| Baca Juga: Sering Kretek-Kretek Jari Tangan, Benarkah Bikin Sendi Sakit?

Perubahan sosial turut memengaruhi angka kelahiran. Usia pernikahan perempuan Indonesia kini rata-rata berada di kisaran 29 sampai 30 tahun, lebih tua dibanding generasi sebelumnya.

Total fertility rate Indonesia berada di angka 2,13, sementara di Jakarta hanya 1,7. Prof. Budi menekankan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi sejak usia sekolah agar generasi muda memahami batas biologis tubuh mereka.

Setelah embrio ditanamkan, pasangan harus menunggu sekitar 14 hari untuk mengetahui hasil kehamilan. Prof. Budi tidak menganjurkan pasien melakukan bed rest berlebihan.

"Tidak perlu bed rest. Jangan bed rest. Aktivitas seperti biasa saja. Studi menunjukkan pasien yang bed rest justru bisa semakin banyak mengumpulkan stres," ujarnya. Dukungan keluarga selama masa penantian ini disebut penting untuk menjaga kondisi emosional pasien.

| Baca Juga: Dari Benjolan hingga ASI Belum Keluar: Ini Penjelasan Medis yang Perlu Diketahui Ibu Menyusui

Prof. Budi juga menceritakan kisah pasangan yang menjalani pencarian jawaban infertilitas selama sembilan tahun, hingga akhirnya hanya tersisa satu embrio sehat yang kemudian berkembang menjadi kehamilan.

Baginya, kisah ini menunjukkan bahwa dalam program fertilitas, satu embrio yang sehat bisa jauh lebih berarti daripada banyak embrio yang tidak berkualitas.

Di Indonesia, donor sel telur atau sperma serta praktik ibu pengganti (surrogate) tidak diperbolehkan dalam program bayi tabung. Embrio yang tersimpan juga harus dimusnahkan apabila pasangan bercerai atau suami meninggal dunia.

Pada akhirnya, menurut Prof. Budi, kecanggihan teknologi tidak mengubah fakta bahwa waktu reproduksi memiliki batas. Karena itu, pemeriksaan fertilitas sebaiknya tidak menunggu bertahun-tahun, agar pasangan memiliki lebih banyak pilihan penanganan sejak dini. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: