VIVIA MEDIA — Borobudur selama ini identik dengan foto di antara stupa dan perjalanan mengelilingi candi. Namun, dari ribuan langkah wisatawan yang melintasi batu-batu itu, tidak banyak yang benar-benar membawa pulang cerita.

Pertanyaan itulah yang melahirkan Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa, pengalaman imersif yang mulai dapat dinikmati masyarakat secara gratis di Galeri Indonesia Kaya sejak 1 September 2026.

Karya ini menelusuri kembali asal mula penciptaan Candi Borobudur lewat delapan pengalaman yang memadukan visual, teater, permainan interaktif, sensor gerak, hingga kecerdasan buatan atau AI. Namun, yang membedakan Purwacarita bukan sekadar teknologinya, melainkan proses panjang di baliknya.

Setiap karakter, pakaian, artefak, arsitektur, lingkungan, hingga narasi harus ditelusuri dan diperiksa terlebih dahulu, sebab kesalahan kecil dalam menghidupkan kembali sejarah dapat berubah menjadi cerita yang dipercaya sebagai kebenaran.

| Baca Juga: Guruh Padukan Panggung Seni dan Aksi Kemanusiaan untuk Penyintas Kanker

Founder dan CEO Curaweda, Azhar Muhammad Fuad, menyebut perkembangan AI sebagai sebuah paradoks. Teknologi mempermudah manusia menciptakan sesuatu, tetapi kemudahan yang sama bisa jadi masalah ketika digunakan untuk menggambarkan hal yang tidak dipahami dengan baik.

"Dengan maraknya dan mudahnya akses AI, setiap hari ada jutaan konten yang diproduksi menggunakan AI. Pertanyaannya, ini menjadi masalah atau tidak?" ujar Azhar dalam Tilik Perdana Purwacarita Borobudur di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Menurutnya, persoalan bukan pada kemampuan AI menggambarkan bangunan, tokoh, atau kehidupan masa lalu, melainkan pada sumber informasi yang diberikan kepada mesin.

Tanpa literasi dan pendekatan yang akurat, AI dapat menghasilkan gambaran yang tampak meyakinkan namun tidak berdasar sejarah kuat, dan jika terus berulang di media sosial, bisa dianggap sebagai kebenaran.

Salah satu visual yang ditampilkan dalam Purwacarita Borobudur
Salah satu visual yang ditampilkan dalam Purwacarita Borobudur. Foto: Istimewa

Karena itu, dalam Purwacarita, AI tidak ditempatkan sebagai sumber kebenaran, melainkan alat menerjemahkan hasil riset ke bentuk visual.

"Bagi kami di Curaweda, teknologi bukanlah tujuan akhir. AI kami perlakukan sebagai kuas, sementara kanvasnya tetap fakta sejarah yang telah divalidasi para ahli," kata Azhar.

Proses produksinya pun tidak sederhana. Inisiasi dimulai sejak awal 2025 dengan penelusuran sumber primer seperti prasasti, artefak, dan arca, termasuk Prasasti Karangtengah tahun 824 M dan Prasasti Tri Tepusan tahun 842 M.

1 2

Tags: