Detail pakaian, mahkota, perhiasan, karakter fisik masyarakat, hingga flora dan fauna pada masa itu semuanya membutuhkan rujukan. Pengembangan akhir melalui sembilan kali revisi selama sekitar empat bulan dan melibatkan lebih dari 14 pakar dari berbagai bidang, mulai dari arkeolog, antropolog, sejarawan, budayawan, hingga tim teknologi informasi.

| Baca Juga: Generasi Muda Diajak Mengenal Sastrawan-Sutradara Asrul Sani Lewat Pameran

Kurator dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Dr. Sri Margana, M.Phil., menilai tantangan terbesar bukan membuat sejarah terlihat menarik, melainkan menerjemahkan kompleksitasnya ke medium baru tanpa kehilangan konteks.

"Teknologi digital memiliki potensi besar untuk mendekatkan sejarah kepada publik, selama teknologi mengikuti disiplin sejarah, bukan sejarah yang mengikuti tuntutan teknologi," ujarnya.

Delapan pengalaman dalam Purwacarita dirancang berurutan. Mulai dari Sapa Borobudur yang memperkenalkan latar zaman candi, Karmawibhangga dan Avadana yang membawa relief ke teater imersif, Batu Carita yang menghadirkan interaksi dengan tokoh Raja Samaratungga, Putri Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara, hingga Mandala yang menelusuri rute ziarah purba.

Ada pula Jelajah Borobudur, Buku Carita, Harmoni Borobudur, serta film Asal Mula Borobudur sebagai sajian utama di auditorium.

Pengalaman imersif yang tampil di Purwacarita Borobudur
Pengalaman imersif yang tampil di Purwacarita Borobudur. Foto: Istimewa

Purwacarita dikembangkan melalui kolaborasi Galeri Indonesia Kaya, Curaweda, dan Bening Digital Indonesia, dengan validasi akademik dari UGM serta validasi profesional dari pihak museum dan cagar budaya.

Bagi Azhar, tanggung jawab menjadi inti dari seluruh proses tersebut. "Teknologi kita sudah maju. Tetapi sekarang kita harus sampai pada titik di mana kita juga bertanggung jawab terhadap apa yang kita hasilkan," ujarnya. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: