VIVIA MEDIA — Menjadi ibu membuat Ardina Rasti terbiasa hidup berdampingan dengan keraguan. Bukan karena ia tidak tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya, melainkan karena kebutuhan mereka terus berubah seiring pertumbuhan.

Makanan yang sudah disiapkan dengan penuh perhatian belum tentu disentuh, dan menu yang menurut orang tua bergizi bisa saja kalah menarik dibandingkan dengan pilihan anak sendiri.

"Sebagai ibu tuh kita tiap hari belajar hal baru terus," kata Rasti saat bincang-bincang bareng MILKOW ActiGrow di Cibis Park, Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Rasti mengaku sering menghadapi situasi ketika anak menolak makanan pilihannya.

| Baca Juga: Meski Punya Babysitter, Syahrini Tetap Urus Anak Sepenuhnya Sendiri

"Kadang kadang kalau kita paksain yang kita pilih, nggak dimakan. Akhirnya mau nggak mau, kita ikutin yang dia mau," ujar ibu dari Anara Langit Adria Respati (8) dan Awan Biru Araya (5) itu.

Kondisi ini menurut dia menimbulkan dilema, sebab pada usia dini makanan bukan sekadar soal mengenyangkan, melainkan menyangkut pemenuhan nutrisi yang menentukan tumbuh kembang anak.

Kekhawatiran itu menjadi lebih beralasan. Dokter Spesialis Anak, dr. Leonirma Tengguna, M.Sc, SpA, CIMI menjelaskan bahwa usia satu tahun masih termasuk golden age sekaligus bagian dari 1.000 hari pertama kehidupan.

Dalam masa itu adalah periode ketika sekitar 80 persen otak manusia terbentuk.

| Baca Juga: Anak Ikut Lari? Jangan Langsung Duduk Setelah Finis, Ini yang Wajib Dilakukan

Pada usia ini, sekitar 70 persen kebutuhan nutrisi anak berasal dari makanan dan 30 persen dari susu, mencakup makronutrisi seperti karbohidrat, protein hewani, dan lemak, serta mikronutrisi berupa vitamin dan mineral.

Hal itu menjadi alasan kuat mengapa tantangan orang tua makin kompleks, untuk memastikan kebutuhan gizi di awal masa pertumbuhan.

Sementara, bagi Rasti, semua pembicaraan mengenai nutrisi tersebut kembali pada satu tujuan. Yakni perkembangan otak anak.

"Yang paling penting dari anak adalah perkembangan anak. Perkembangan otaknya," katanya.

| Baca Juga: Tak Harus Mahal, Begini Cara Cerdas Memilih Barang Premium di E-Commerce

Ketika merasa kebutuhan nutrisi belum sepenuhnya terpenuhi lewat makanan sehari-hari, ia mencari cara lain untuk melengkapinya, sebab baginya sesuatu yang penting tidak boleh baru disadari setelah anak melewati fase pertumbuhannya.

Perhatian Rasti terhadap kesehatan anak juga lahir dari sisi emosional keseharian orang tua. "Ibu mana yang nggak sedih kalau anaknya sakit?" ujar istri dari Arie Dwi Andhika itu.

Dr. Leonirma dalam hal ini mengingatkan bahwa perkembangan otak tidak dibangun oleh satu nutrisi saja.

"Tidak ada satu nutrisi tunggal yang bisa kerja sendiri. Dia butuh kolaborasi, kerja sama yang berbeda nutrisi," jelasnya.

| Baca Juga: Tak Sekadar Murah, Ini Pertimbangan Tasya Kamila Saat Memilih Produk untuk Keluarga

Ia menyoroti kolin sebagai nutrisi yang masih jarang diperhatikan meski banyak ditemukan pada hati sapi, hati ayam, kuning telur, dan susu.

Ia juga menganalogikan DHA dan omega-6 sebagai hardware yang harus kuat, omega-3 sebagai penjaga sistem agar bekerja optimal, dan kolin sebagai sinyal yang memungkinkan semuanya saling berkomunikasi.

Dr. Leonirma menegaskan pentingnya memantau grafik pertumbuhan anak secara berkala, bukan hanya angka berat atau tinggi badan sesaat, melainkan polanya dari bulan ke bulan.

"Kalau anak kita sudah stunting, sebenarnya sudah terlambat. Yang harus kita perhatikan adalah waktu masih di masa pertumbuhan, gerak-geraknya ini optimal atau tidak," ujarnya.

| Baca Juga: Tak Masukkan ke Playgroup dan Tanpa Babysitter, Olivia Zalianty Pilih Rawat Anak Sendiri

Kesadaran akan pentingnya momentum inilah yang mendorong Rasti untuk tidak ingin kecolongan pada masa golden age anaknya.

"Jangan sampai golden age itu terlewat dan akhirnya kita sebagai ibu menyesal, karena waktu tidak akan kembali lagi," katanya.

Ia menegaskan kembali betapa berharganya 1.000 hari pertama kehidupan yang tidak bisa diulang.

Bagi Rasti, menjadi ibu bukan berarti harus selalu sempurna, melainkan terus belajar memahami perubahan anak, memperhatikan asupan yang masuk ke tubuhnya, memantau pertumbuhannya, serta memastikan stimulasi dan lingkungan yang mendukung.

Sebab kebutuhan anak terus berubah, sementara waktu tidak pernah menunggu, dan begitu masa itu berlalu, tidak ada kesempatan untuk mengulangnya dari awal. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: