Sineas Indonesia Berduka, Sutradara-Penulis Skenario Ida Farida Berpulang
VIVIA MEDIA — Kabar duka datang dari dunia perfilman Indonesia. Sutradara dan penulis skenario kenamaan Ida Farida meninggal dunia pada Kamis (3/9/2026). Ia meninggal pada usia 88 tahun.
Ida Farida dikenal sebagai salah satu sutradara perempuan yang memiliki perjalanan panjang di industri film Indonesia. Sejumlah film pernah lahir dari tangan dinginnya, di antaranya Pengantin (1984), Asmara di Balik Pintu (1985), Tak Ingin Sendiri (1989), Semua Sayang Kamu (1989), Sabar Dulu Dong (1989), Perempuan Kedua (1990), serta Barang Titipan (1991).
Ida Farida adalah adik dari sutradara, penulis skenario, dan kritikus film Misbach Yusa Biran.
Kepergian Ida Farida menjadi kehilangan bagi perfilman nasional. Karya-karyanya tercatat dalam perjalanan perfilman Indonesia, termasuk Semua Sayang Kamu yang membawanya masuk dalam sejumlah kategori penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 1989.
| Baca Juga: Peter Cullen, Pengisi Suara Optimus Prime Meninggal Dunia di Usia 85 Tahun
Dalam ajang tersebut, Ida Farida meraih penghargaan Penulis Skenario Terbaik untuk Semua Sayang Kamu. Ia juga mendapat nominasi untuk kategori Sutradara Terbaik dan Penulis Cerita Asli Terbaik pada film yang sama.
Pada FFI 1992, Ida Farida kembali tercatat dalam nominasi kategori Penulis Cerita Asli Terbaik melalui film Kuberikan Segalanya.
Ida Farida akan dimakamkan di Depok.
Dalam sejarah perfilman Indonesia, nama Ida Farida menjadi bagian dari generasi sineas yang turut mewarnai layar lebar Tanah Air pada dekade 1980-an hingga awal 1990-an.
| Baca Juga: Meninggal di Usia 36 Tahun, Penyebab Kematian Aktris Hayden Panettiere Masih Misteri
Ida Farida lahir di Rangkasbitung, Lebak, Banten, pada 5 Mei 1939. Ia bukan sekadar sutradara, tetapi juga penulis skenario dan pernah menjadi wartawati serta penulis cerpen sejak 1953.
Keistimewaan Ida Farida. Ia tidak datang ke dunia penyutradaraan melalui jalan pintas. Ia memulai dari pekerjaan yang sangat mendasar dalam produksi film: script girl/pencatat skrip.
Dari pencatat skrip menjadi sutradara
Ida Farida pertama kali masuk produksi film sebagai script girl dalam Melawan Badai (1974).
Ida pernah menjadi asisten sutradara, antara lain Jangan Menangis Mama (1977), sebelum akhirnya dipercaya menyutradarai filmnya sendiri.
| Baca Juga: Pemeran Ikonik Pennywise 'IT', Tim Curry Meninggal Dunia di Usia 80 Tahun
Film pertamanya sebagai sutradara adalah Guruku Cantik Sekali (1979). Ini bukan sekadar debut biasa. Ida membangun kariernya pada suatu masa ketika kursi sutradara film Indonesia masih didominasi laki-laki.
Ia sering merangkap sebagai penulis skenario film-film yang disutradarainya sendiri. Indonesian Film Center mencatat pola itu dalam banyak karya Ida.
Ida juga telah menghasilkan puluhan judul sinetron pada era 1990-an. Salah satunya Aku Mau Hidup, yang mengantarkan Meriam Bellina memperoleh penghargaan di FSI 1994. Sinetron fenomenal Si Doel Anak Sekolahan juga pernah disutradarai oleh Ida Farida.
Ida juga pernah menggarap film di Malaysia selama empat tahun. Di sana ia menyutradarai Suara Kekasih, dibintangi Fauziah Ahmad Daud dan Azmil Mustapha. (*)







