Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Najwa Shihab mengungkapkan kekhawatirannya soal dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap kemampuan berpikir kritis manusia, bukan soal kesiapan masyarakat Indonesia mengadopsi teknologi tersebut.

Kecerdasan buatan (AI) menjanjikan kemudahan, mulai dari bekerja lebih cepat hingga menemukan informasi dalam hitungan detik. Namun, bagi Najwa Shihab, kemudahan itu menyimpan pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu apa yang harus tetap dipertahankan manusia ketika mesin mengambil alih sebagian besar pekerjaan berpikir.

Dalam sebuah bincang bertema The Future is Undeniably Human yang digelar IOH di JICC Jakarta, Sabtu (5/9/2026), Najwa mengaku tidak khawatir soal kemampuan orang Indonesia mengikuti perkembangan AI. Menurutnya, masyarakat Indonesia dikenal cepat belajar dan adaptif terhadap teknologi baru.

Yang lebih ia risaukan adalah apakah manusia masih mampu berpikir kritis ketika semua jawaban bisa didapat dengan begitu mudah. Ia menegaskan, kemampuan mempertanyakan sesuatu tidak boleh ikut ditinggalkan seiring kemajuan teknologi.

| Baca Juga: Bukan Sekadar Pengguna, Gen-Z Didorong Jadi Pencipta Teknologi

Setiap informasi yang diterima seharusnya tetap diuji, dibandingkan dengan sumber lain, sebelum dipercaya.

“Yang justru menjadi concern gue adalah apakah masyarakat kita semakin mudah atau masih bisa dimanipulasi atau dibohongi,” ujar perempuan kelahiran Ujung Pandang, 16 September 1977, itu.

Sebagai jurnalis, Najwa melihat kebiasaan bertanya bukan sekadar keterampilan intelektual, melainkan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat karena memungkinkan warga mengawasi media, korporasi, dan pemerintah.

Ia juga menyoroti bagaimana algoritma diam-diam mengendalikan perhatian manusia di ruang digital, menentukan konten apa yang berulang muncul di layar. Masalahnya, sesuatu yang paling sering tampil belum tentu yang paling penting.

| Baca Juga: Jangan Biarkan Inspirasi Berlalu! Begini Cara Mengubah Ide Menjadi Karya dengan AI

Kebiasaan terus-menerus disuguhi hal populer atau sensasional, menurutnya, lama-kelamaan bisa membentuk persepsi keliru tentang realitas.

“Perhatian itu bukan hanya sekadar kemampuan untuk fokus, tapi soal agency, siapa yang mengambil kendali atas pikiran kita sendiri,” tandas co-founder PT Narasi Citra Sahwahita itu.

Najwa menyebut tiga hal yang menurutnya tidak boleh diserahkan kepada AI, yakni nilai, pertimbangan, dan tanggung jawab.

Teknologi bisa menunjukkan cara paling efektif untuk melakukan sesuatu, tetapi manusia tetap harus menentukan apa yang seharusnya dilakukan.

| Baca Juga: Tak Harus Mahal, Begini Cara Cerdas Memilih Barang Premium di E-Commerce

Perbedaan antara apa yang bisa dilakukan dan apa yang sebaiknya dilakukan itulah yang menjadi batas penting antara kemampuan mesin dan tanggung jawab manusia.

Sikapnya terhadap AI sendiri bukan penolakan, melainkan “cautiously optimistic”.

Teknologi dapat memperbesar pengetahuan dan kreativitas, tapi juga bisa memperbesar prasangka, manipulasi, dan ketimpangan. Karena itu, kuncinya terletak pada pilihan manusia soal apa yang ingin diperbesar oleh teknologi.

Soal anak-anak, Najwa menyinggung kebijakan pembatasan AI di sekolah hingga kelas 8 di New York dan langkah serupa di Los Angeles. Baginya, anak perlu lebih dulu membangun kemampuan berpikir mandiri lewat membaca, berdiskusi, dan berdebat, sebelum diperkenalkan pada AI sebagai alat bantu.

| Baca Juga: Dari Kehilangan Kerja Jadi Konten: Kisah Keluarga SaDhis Membangun Keseimbangan

Di penghujung perbincangan, Najwa mengajak manusia untuk tidak malu dengan keterbatasannya. Ia mencontohkan kemampuan melupakan, yang bagi mesin dianggap kekurangan, justru menjadi kekuatan manusia untuk bisa memaafkan dan melanjutkan hidup.

“Bayangkan kalau manusia tidak bisa melupakan. Kita akan terus mengingat setiap kesalahan, setiap kegagalan, bahkan setiap kehilangan dengan begitu jelas,” katanya.

Bagi Najwa, tantangan terbesar di era AI bukan soal menjadi lebih pintar dari mesin, melainkan memastikan manusia tidak kehilangan hal-hal yang membuatnya tetap manusia. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: