Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Garis finis sering dianggap penutup perjuangan. Namun, bagi tubuh, momen itu justru jadi awal dari fase pemulihan.

Detak jantung, suhu tubuh, metabolisme, hingga cairan yang terkuras selama berlari butuh waktu untuk kembali normal. Cara pemulihan itu yang menentukan seberapa cepat tubuh benar-benar "selesai".

Running Coach Andy Sugiyanto menilai fase setelah lari justru sering diabaikan pelari.

"Banyak orang bertanya kapan kita disiapkan untuk berlari. Kita jarang bertanya apa yang terjadi setelah lari," ujarnya usai acara Isoplus Run di Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Minggu (6/9/2026).

| Baca Juga: Serius Tekuni Lari, Shanada Jzen Maknai Sebagai Sarana Disiplin dan Komitmen Diri

Saat berlari, tubuh membakar kalori, menghabiskan glukosa, dan kehilangan cairan lewat keringat. Karena itu, langkah pertama usai finish adalah mengembalikan cairan tubuh, lalu memberi waktu cooling down agar kondisi tubuh tidak berubah secara mendadak.

Menurut Coach Andy, lama proses recovery tak hanya soal jarak tempuh, tapi juga kebiasaan latihan. Pelari yang rutin berlatih tiga sampai empat kali seminggu biasanya pulih lebih cepat dibanding yang hanya berolahraga di akhir pekan.

"Know your body paling penting. Kalau kita konsisten, otomatis level fitness tubuh kita akan naik," katanya.

Persoalan lain yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa semakin banyak keringat, semakin efektif olahraga. Termasuk kebiasaan memakai jaket tebal saat berlari agar berat badan cepat turun.

| Baca Juga: Anak Ikut Lari? Jangan Langsung Duduk Setelah Finis, Ini yang Wajib Dilakukan

Padahal, banyak keringat hanya berarti banyak cairan yang hilang, bukan otomatis lebih banyak kalori terbakar. Pada cuaca panas, kebiasaan ini justru mempercepat dehidrasi.

Berbicara soal cairan, dr. Taufan, salah satu Running Doctors di Isoplus Run Series 2026, mengingatkan bahwa tubuh sudah kehilangan cairan jauh sebelum rasa haus muncul.

1 2

Tags: