Yama Carlos Rangkap Peran, Jadi Aktor Sekaligus Pelatih Akting di Film Last Witness
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Aktor Yama Carlos kembali menunjukkan totalitasnya dalam berakting. Kali ini, ia tidak hanya dipercaya memerankan karakter Pak Dharmo dalam film Last Witness produksi CAS Production, tetapi juga berperan sebagai pelatih akting bagi para pemain muda yang terlibat.
Yama Carlos mendampingi para pemain seperti Tsani Prillia, Kefan Sj, Musa Zulfikar, Dewanti, Rumyrach, Taufik Hidayat, dan Fadli, yang sebagian besar masih minim pengalaman di dunia akting.
Keterlibatan ganda ini memberi pengalaman baru sekaligus tantangan tersendiri bagi Yama Carlos. Ia menyebut kesempatan ini sebagai kehormatan dan kebanggaan baginya.
Menurutnya, proses tersebut penting terutama bagi para pemain muda dan pendatang baru. Mereka mendapat kesempatan berhadapan langsung dengan pemain yang lebih berpengalaman, sehingga bisa belajar pendalaman karakter sekaligus memahami proses kerja di lokasi syuting.
| Baca Juga: Jika Film 'Istimewa' Capai 1 Juta Penonton, Produser Siap Bangun Rumah Istimewa di Berbagai Daerah
"Saya senang saja dipercaya jadi pendamping artis-artis ini, bisa berbagi pengalaman. Bisa mengajarkan mereka bagaimana kerasnya didikan dunia akting," kata Yama Carlos.
Sebagai senior yang berpengalaman, ia ingin para pemain muda terus berkembang. "Saya sudah tahu siapa punya kemampuan seperti apa," ujarnya.
Ia pun berencana memberikan pelatihan khusus kepada seluruh pemain dalam waktu dekat. "Habis ini saya ingin fokus ngajarin mereka," jelasnya.
Selain Yama Carlos, Catherine Wilson turut ambil bagian dalam produksi ini dengan memerankan karakter Bu Rini. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari proses pembelajaran para pemain muda sekaligus memberi warna tersendiri pada film ini.
| Baca Juga: Nadzira Shafa Ubah Naskah 'Ibadah dan Cinta' Jadi Novel Sekaligus Lagu
Film Last Witness tidak diarahkan semata sebagai tontonan digital. Proyek ini diposisikan sebagai bagian dari proses panjang untuk mematangkan karya sekaligus mengasah kemampuan para pemain, sebelum nantinya melangkah ke layar lebar.
Untuk mendukung proses tersebut, tim produksi sengaja mempertahankan karakter para pemain agar tidak terlalu jauh dari kepribadian mereka sehari-hari. Pendekatan natural ini dinilai membantu pemain beradaptasi dengan peran, terutama bagi mereka yang masih minim pengalaman.
Produksi film kedua ini sekaligus menjadi tolok ukur sebelum tim melangkah ke proyek berikutnya. Setelah mengawali perjalanan dengan genre horor, CAS Production kini mencoba mengeksplorasi cerita yang lebih menekankan konflik dan karakter.
"Kita memang ingin mereka lebih siap. Jadi ketika waktunya sudah tepat dan masuk ke layar lebar, mereka sudah mempunyai pengalaman dan lebih matang," lanjut Yama Carlos.
| Baca Juga: Debut Sutradara Horor, Dimas Anggara Garap 'Aplikasi Iblis' yang Angkat Teror dari Teknologi
Tidak menutup kemungkinan, produksi selanjutnya akan kembali mengeksplorasi genre berbeda, termasuk drama. Rencana ini menjadi bagian dari strategi tim untuk membangun kemampuan para pemain sekaligus memperluas skala produksi.
Dengan strategi tersebut, YouTube tidak dipandang sebagai tujuan akhir. Platform digital ini justru menjadi ruang bagi tim produksi dan para pemain untuk belajar, melakukan evaluasi, serta membangun kesiapan sebelum membawa karya ke layar lebar.
Mengusung genre yang berbeda dari film pertama CAS Production, Last Witness kali ini mengangkat persoalan keluarga, luka masa lalu, dan dendam. Cerita ini sekaligus menjadi ruang bagi para pemain untuk mengeksplorasi karakter yang lebih kompleks.
Produser Wan Emily Sjahrir menambahkan, keterlibatan para pemain dalam produksi ini merupakan bagian dari proses untuk meningkatkan kemampuan mereka. (*)







