Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Visual yang ditampilkan dalam trailer tersebut menggambarkan suasana tegang, penuh kemarahan yang tertunda, kekecewaan, hingga perasaan terasing di tanah kelahiran sendiri.

Pengorbanan Besar: Menolak Semua Proyek Lain

Dedikasi Putri Marino untuk peran Pertiwi tergolong luar biasa. Ia mengungkapkan.bahwa demi mendalami karakter ini, ia memutuskan untuk mengosongkan jadwalnya dan tidak mengambil proyek film lain dalam kurun waktu tertentu. Keputusan ini diambil agar ia bisa fokus sepenuhnya tanpa gangguan eksternal.

| Baca Juga: Arya Saloka Happy dengan Look Kumis dan Jenggot di Film 'Empat Musim Pertiwi'

"Jadi waktu Mbak Dini menawarkan film Empat Musim Pertiwi dan sepertinya akan jalan sebentar lagi, aku memutuskan untuk tidak mengambil proyek apa pun," ujar Putri Marino secara tegas.

Istri aktor Chicco Jerikho ini menjelaskan bahwa naskah film ini menuntut ruang emosional yang sangat besar dari seorang aktor. Karenanya, setelah baca skrip, Putri harus menyiapkan 'ruangan' yang luas, untuk Pertiwi bisa tumbuh,

"Untuk itu aku mengolah Pertiwi bersama Mbak Dini. Jadi memang beneran menurut aku enggak bisa main-main sama karakter Pertiwi ini. Aku persiapkan sematang mungkin. Aku mulai dari titik nol tanpa ada gangguan dari apa pun, supaya Pertiwi bisa menjadi utuh yang seutuh-utuhnya," jelasnya.

Menjalani Delapan Workshop Intensif Selama Dua Bulan

Totalitas Putri tidak hanya terlihat dari sisi emosional, tetapi juga teknis. Untuk menghidupkan karakter Pertiwi, ia harus menjalani serangkaian pelatihan atau workshop yang sangat padat. Tercatat ada delapan keahlian khusus.yang harus ia pelajari dalam waktu dua bulan.

| Baca Juga: Totalitas Acha Septriasa, Latihan Kerasukan Demi Film ‘Munafik: Melawan Iblis’

"Ada sekitar delapan workshop yang aku lakukan. Antara lain berkuda, bahasa isyarat, bahasa Jawa, mengendarai jip, fighting, memainkan alat musik elektrofon, sampai menyanyi," rincinya.

Dari sekian banyak workshop yang dipelajari, Putri menyebutkan bahwa penguasaan bahasa Jawa dan berkuda adalah tantangan yang paling menguras energi. Apalagi, ini adalah pengalaman pertamanya berinteraksi dengan kuda secara profesional. Berkuda adalah workshop pertama yang ia jalani.

1 2 3

Tags: