Begini Penjelasan HYROX soal Kontroversi Atlet BAB di Celana saat Bertanding
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Ajang HYROX Beijing yang digelar pada Sabtu (12/9/2026) diwarnai kontroversi. Atlet wanita asal Australia, Joanna Wietrzyk, buang air besar (BAB) di celana di tengah pertandingan.
Foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan wanita berusia 22 tahun itu terus melanjutkan pertandingan meski celana dan kakinya ternodai kotorannya sendiri.
Ia bahkan keluar sebagai juara pertama di kategori Pro Women dengan catatan waktu 1 jam 1 menit dan 23 detik.
Namun, keterlibatan dan kemenangan Joanna Wietrzyk memicu beragam reaksi dari publik. Sebagian memuji ketangguhannya. Tetapi banyak pula yang menyoroti masalah higienitas.
| Baca Juga: HYROX Jadi Tren Baru, Saat Olahraga Berubah Menjadi Gaya Hidup dan Ajang Eksistensi

Beberapa pengguna media sosial mempertanyakan kenapa panitia tidak menghentikan atlet tersebut di tengah pertandingan, dan membiarkannya bertanding dalam keadaan 'kotor'.
Padahal, pelanggaran kecil seperti meludah dan membuang sampah sembarangan saja dikenai penalti.
"HYROX seharusnya segera menghentikannya saat hal itu terjadi. Tidak ada area abu-abu dalam situasi ini. Kotoran terlihat jelas mengalir di kakinya. Pada saat itulah, kompetisi seharusnya berakhir baginya," komentar seorang netizen.
Menanggapi perdebatan panas publik, pihak HYROX pun buka suara. Mereka mengakui adanya situasi tidak terduga terkait aturan prosedur medis dan penanganan kontaminan biologis.
| Baca Juga: Influencer Igho 'Tiny' Ubiribo Meninggal Usai Jalani Prosedur Pembesaran Alat Vital di Thailand
"Dalam kejadian ini, muncul situasi tak terduga di mana protokol yang dirancang untuk kompetisi elit dan partisipasi massal menjadi tumpang tindih, sehingga menimbulkan ambiguitas dalam penerapan dan pemahamannya," jelas mereka melalui pernyataan yang dibagikan ke Instagram @hyroxworld, Senin (14/9/2026).
Pihak penyelenggara menyatakan bahwa mereka memahami rasa frustasi publik, terlebih para peserta, mengenai kekhawatiran akan kontaminasi kotoran di area maupun alat bertanding.
1 2







