Raihaanun Buka-bukaan, Ini 3 Adegan Paling Menguras Emosi di Film 'Beautiful Pain'
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Raihaanun dipercaya menjadi peran utama film Beautiful Pain. Karya yang disutradarai oleh Dmaz Brodjonegoro ini menempatkan karakter Niken yang ia perankan, bukan sebagai sosok istri atau ibu biasa, melainkan figur perempuan yang memendam luka batin mendalam, sunyi, dan perih.
Memerankan karakter dengan beban psikologis seberat itu memberi tantangan tersendiri bagi aktris berusia 38 tahun tersebut. Apalagi di kehidupan pribadinya Raihaanun seorang ibu tunggal dengan tiga anak setelah resmi berpisah dari sutradara Teddy Soeriaadmadja pada 2023 lalu.
Dalam proses produksinya, Raihaanun mengakui ada rentetan adegan yang sangat menguras fisik serta psikisnya di depan kamera.
"Yang menguras emosi sebenarnya banyak. Dari trailer-nya saja sebenarnya sudah bisa kelihatan," ujar Raihaanun saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026).
| Baca Juga: Film 'Beautiful Pain' Rilis Trailer, Nikita Mirzani Kirim Rekaman Suara dari Penjara
Salah satu adegan yang sangat menguras tenaga adalah momen perebutan anak yang terjadi di depan rumah. Pada adegan tersebut, Niken diberitahu oleh Dirga bahwa suaminya telah memenangkan hak asuh anak mereka.
"Itu lumayan draining (menguras energi) banget buat saya," tutur Raihaanun.
Tekanan emosional berlanjut pada adegan lainnya, yakni saat karakternya mengenakan blazer merah dan ditampar oleh Dirga. Adegan tersebut merupakan akumulasi karena kejadian-kejadian sebelumnya.
Saat adegan itu, ia dan Baim Wong harus menjaga (maintain) emosi agar tetap stabil dan bisa sampai di titik tersebut.
| Baca Juga: Sempat Berseteru, Baim Wong Syok Produser Film 'Beautiful Pain' Ternyata Nikita Mirzani
Pada hari pengambilan gambar tersebut, Raihaanun dan Baim Wong harus merancang koreografi yang sangat matang.
"Karena kan ada pecahan kaca di lokasi dan pergerakan kamera harus tersinkronisasi dengan sempurna agar eksekusi tamparan dapat tampil efektif di layar," paparnya.
Puncak tantangan fisik dan emosional kemudian hadir pada adegan penutup atau ending, di mana Raihaanun tampil mengenakan blazer biru dan menangis hebat.
Rangkaian adegan ini dieksekusi menggunakan teknik long take selama kurang lebih 6 menit tanpa jeda, menghasilkan atmosfer akhir cerita yang sangat mencekam. Skala kesulitan adegan ini membuat tim produksi mengalokasikan waktu syuting satu hari penuh hanya untuk mengambil satu adegan tersebut.
| Baca Juga: Andre Royo Siap Terlibat Film Indonesia, Tertarik Cerita dari Cheverly Amalia
"Kami syuting satu hari penuh hanya untuk satu scene tersebut. Latihannya saat proses workshop dan koreografinya memakan waktu seharian," lanjutnya secara rinci.
Tangis Pecah di Lokasi Syuting dan Metode Cooling Down
Menghadapi rangkaian adegan emosional tersebut, Raihaanun membeberkan bagaimana cara dirinya melakukan pemulihan emosi (cooling down) agar tidak larut berkepanjangan dalam trauma fiktif karakternya.
"Di lokasi syuting, saya berusaha untuk tetap menjaga fokus dan berada di dalam karakter selama proses pengambilan gambar (on set). Ketika masih di area syuting, saya tetap berada dalam karakter, tapi begitu selesai dan pulang, saya langsung melepasnya," jelas bintang serial Tante Sonya ini.
Kendati demikian, ia mengaku terbawa emosi saat melakoni adegan penutup berdurasi 6 menit tanpa henti. Raihaanun mengatakan ia masih tetap menangis meski sutradara sudah mengatakan 'cut'.
"Itu satu adegan yang menurut saya cukup berat sampai membuat saya susah untuk berhenti menangis. Ketika adegan selesai di-cut, saya masih terbawa suasana dan butuh waktu untuk meredakan tangis," ungkapnya.
Saat disinggung mengenai seberapa lama durasi yang ia butuhkan untuk meredakan tangis tersebut, Raihaanun sempat melontarkan candaan sebelum memberi jawaban yang sebenarnya.
"Kurang lebih sebulan lah. Enggak, bercanda ya.Waktu itu kami mengambil take dari pagi, sekitar jam 11 siang sampai jam 3 sore hanya untuk satu scene tersebut. Karena adegannya sangat menguras energi (draining), setelah cut pun rasa sedihnya masih tersisa. Tidak lama, hanya butuh beberapa menit untuk benar-benar tenang," ungkapnya.
Daya Tarik Figur Ibu Tunggal yang Penuh Perjuangan
Bagi Raihaanun, menerima tawaran sebagai Niken didasari oleh ketertarikannya yang besar terhadap karakter yang disodorkan sejak awal oleh sutradara.
| Baca Juga: Lewat Film 'Desember Jani', Sigi Wimala dan Hyori Mika Petik Pelajaran Emosional Soal Keluarga
"Ketika dibedah karakternya, wow menarik sekali karakternya. Seorang single mother yang di perjalanannya menemukan perjuangan (struggling).Saya sangat senang dan sangat bersyukur," urainya.
Raihaanun mengatakan, bahwa alur cerita film ini memang berangkat dari kisah hidup Nikita Mirzani, fakta yang baru ia ketahui saat proses pendekatan peran dimulai.
"Sebenarnya saya juga baru tahu kalau ternyata cerita film ini tentang Mbak Nikita Mirzani ketika proses pendekatan (approach) peran. Saat membuat karakter Niken ini, memang digambarkan sebagai sosok perempuan berkarakter bernama Niken," jelas Raihaanun.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa Nikita Mirzani tidak hanya menjadi inspirasi cerita, melainkan ikut andil beradu peran secara langsung di depan kamera bersama dirinya.
| Baca Juga: Narnia: The Magician's Nephew Siap Tayang 2027, Greta Gerwig Bawa Nuansa Rock Opera
"Kebetulan Mbak Nikita juga turut bermain di sini. Ada satu scene di mana kami berada dalam satu adegan bersama. Di film ini, Mbak Nikita berperan sebagai sahabat saya (Niken) dan juga sebagai sahabat dari Dirga," kata Raihaanun.
Ia mengatakan bekerja sama pertama kali dengan Nikita Mirzani sangat menyenangkan. Semua bekerja secara profesional dengan tujuan agar pesan film ini bisa sampai dan diterima baik oleh masyarakat luas.
"Jadi memang kami ada satu scene bareng, dan di situ kita banyak mengobrol dan bertukar pikiran seputar adegan tersebut yang melibatkan Niken, Dirga, dan permasalahan yang dihadapi. Semuanya berjalan sangat menyenangkan," tutupnya. (*)







