Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Iswadi sengaja mempertahankan judul Musyawarah Burung karena merupakan terjemahan langsung dari judul asli Mantiq al-Tayr.

Baginya, kata 'musyawarah' memiliki makna penting sebagai ajakan untuk kembali berkumpul, berdialog, dan saling mendengarkan demi masa depan negeri. Ia juga mengingatkan bahwa karya klasik ini pernah digarap maestro teater dunia Peter Brook pada periode 1974–1979.

Proses Kreatif Hampir Satu Tahun

Produksi Musyawarah Burung dipersiapkan hampir selama satu tahun sejak Desember tahun sebelumnya. Tahap awal diisi latihan fisik, observasi berbagai jenis burung, hingga mengembangkan bahasa tubuh setiap karakter.

| Baca Juga: Macklemore Tak Lagi Jadi Opening Act Ed Sheeran usai Serukan 'Free Palestine'

Para aktor mempelajari gestur rajawali, merak, pipit, gagak, dan jenis burung lainnya sebelum masuk ke proses pendalaman naskah selama sekitar lima bulan.

Tantangan terbesar, menurut Iswadi, adalah menciptakan karakter burung tanpa menjadikannya tiruan burung secara harfiah.

"Para aktor harus memainkan dua karakter sekaligus: sebagai burung dan sebagai penempuh atau manusia," ujarnya.

Berbeda dengan pertunjukan bertema fauna pada umumnya, Musyawarah Burung tidak menggunakan kostum burung secara penuh.

| Baca Juga: Cheng Lei Berkaca-kaca Melihat Lautan Penggemarnya di Jakarta

Aktor hanya mengenakan penanda sederhana berupa aksen bulu pada kostum. Identitas setiap burung dibangun melalui gestur, ritme gerak, dan ekspresi tubuh.

Dipentaskan 14 Aktor Selama Dua Setengah Jam

1 2 3

Tags: