Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Banyak orang yang sudah mengurangi porsi makan dan rutin rolahraga tetap merasa frustrasi karena angka di timbangan tak kunjung berubah. Situasi ini sering membuat seseorang menyalahkan diri sendiri dan menganggap dirinya kurang disiplin, padahal persoalan berat badan tidak sesederhana itu.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Erwin Christianto, Sp.GK, M.Gizi, menjelaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis kompleks yang melibatkan berbagai aspek.

Mulai dari faktor genetik, neurobiologi, perilaku makan, serta berbagai faktor biologis dan lingkungan, bukan semata-mata soal kemauan.

"Kalau dulu kita hanya mengenal obesitas karena makan terlalu banyak, sekarang kita tahu penyebabnya jauh lebih kompleks," ungkap dr. Erwin di Jakarta baru-baru ini.

| Baca Juga: Kini Lebih Bugar, Indra Bekti Berhasil Turunkan Berat Badan Hingga 10 Kg

Faktor genetik dan hormonal, fungsi otak dalam mengatur rasa lapar dan kenyang, stres, kurang tidur, hingga penggunaan obat-obatan tertentu dapat memengaruhi berat badan seseorang. Kondisi ini membuat dua orang dengan pola makan dan aktivitas serupa bisa mengalami hasil yang berbeda.

Ketika berat badan tidak turun meski sudah mengurangi makan, dr. Erwin menekankan pentingnya mencari penyebabnya terlebih dahulu.

"Kalau seseorang sudah mengurangi makan tetapi berat badannya tidak turun, kita perlu mencari penyebabnya," tegasnya.

Kebiasaan ngemil yang tidak disadari maupun kondisi tubuh yang kurang optimal mengolah zat gizi bisa menjadi penyebab tersembunyi. Tren diet yang beredar di media sosial pun belum tentu cocok diterapkan pada semua orang karena kondisi metabolisme setiap individu berbeda.

| Baca Juga: Berat Badan Turun, Begini Tips Diet ala Maia Estianty

Persoalan ini menjadi penting mengingat data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat hampir satu dari empat orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas.

Temuan itu berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker. Indeks Massa Tubuh (BMI) dapat digunakan sebagai alat skrining awal, meski bukan penentu mutlak kondisi kesehatan seseorang.

Selain berat badan, lingkar perut yang terus bertambah juga perlu diperhatikan.

"Kalau dalam dua sampai tiga bulan berat badan atau lingkar perut terus meningkat, itu sudah menjadi tanda bahaya awal," pesan dr. Erwin, terutama jika disertai tubuh mudah lelah, nyeri lutut saat menaiki tangga, atau bangun tidur yang tidak terasa segar.

| Baca Juga: Pernah Kena Stroke, Iwet Ramadhan Ingatkan Bugar Belum Tentu Sehat

Karena penyebab obesitas berbeda pada setiap orang, penanganannya pun perlu evaluasi menyeluruh dan personal, mulai dari kemungkinan penyebab penumpukan lemak, kondisi metabolik, komposisi tubuh, hingga penyakit penyerta.

Perubahan gaya hidup seperti pengaturan pola makan, aktivitas fisik, dan pengelolaan stres tetap menjadi pondasi utama, sementara pada kondisi tertentu dokter dapat menambahkan terapi gizi medis, termasuk obat-obatan melalui injeksi untuk membantu memperbaiki fungsi metabolisme tubuh.

Berat badan yang sulit turun meski sudah berusaha bukan berarti usaha tersebut sia-sia. Konsultasi dengan dokter dapat membantu menemukan penyebab yang sebenarnya, terutama saat berat badan atau lingkar perut terus meningkat disertai keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: