Sudah Punya Banyak Tempat Penyimpanan, Rumah Tetap Berantakan? Ini Penyebabnya
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Banyak orang mengira solusi rumah yang penuh barang adalah menambah rak atau bahkan pindah ke rumah yang lebih besar.
Padahal, persoalan penyimpanan tidak selalu berkaitan dengan luas rumah, melainkan dengan cara sebuah ruang digunakan.
Dalam bincang-bincang bertema The Forgotten Rooms di IKEA Jakarta Garden City, Kamis (17/9), menurut Interior Design Leader IKEA Indonesia Muhammad Yusuf Attorik, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi soal di mana barang harus diletakkan, tetapi aktivitas apa yang berlangsung di suatu ruang dan siapa yang menggunakannya.
"Ketika kita melihat barang, biasanya pertanyaannya 'ini mau ditaruh di mana?'. Padahal kita bisa mulai dari pertanyaan lain, aktivitas apa yang dilakukan di sini, siapa yang menggunakannya, dan barang apa yang paling sering dibutuhkan," ujarnya.
| Baca Juga: Jangan Tambah Ruang, Ubah Cara Menatanya: Cara Membuat Rumah Kecil Lebih Fungsional
Ruang seperti area laundry, gudang kecil, garasi, dan bawah tangga sering luput dari perhatian karena dianggap sekadar ruang tambahan.
Padahal, menurut Yusuf, area tersebut justru paling sering digunakan sehari-hari sehingga penataannya berpengaruh besar pada kenyamanan rumah secara keseluruhan.
Sebelum menambah tempat penyimpanan, Yusuf menyarankan penghuni rumah memetakan barang berdasarkan frekuensi penggunaannya, mulai dari harian, bulanan, hingga tahunan.
Barang yang sering dipakai sebaiknya ditempatkan di area yang mudah dijangkau, sementara barang yang jarang digunakan bisa diletakkan lebih tinggi atau lebih jauh dari area aktivitas utama.
| Baca Juga: Tak Harus Mahal, Begini Cara Cerdas Memilih Barang Premium di E-Commerce
"Kalau kita tahu kebutuhannya, mana barang yang daily basis, mana yang monthly basis, mana yang annual basis, jadi kita sendiri yang menjawabnya, barang mana yang sering bergerak," katanya.
Area laundry menjadi salah satu contoh ruang kecil dengan aktivitas yang kompleks, mulai dari memilah, mencuci, mengeringkan, hingga melipat atau menyetrika pakaian. Tanpa alur yang jelas, tahapan tersebut membuat barang mudah berserakan meski ruangannya cukup luas.
"Pertama tentukan dulu aktivitasnya. Setelah itu baru tentukan barang apa yang kira-kira akan digunakan untuk besok atau yang sekiranya sering digunakan, diletakkan di jangkauan yang mudah. Yang jarang digunakan bisa diletakkan di paling atas," jelas Yusuf.
Untuk rumah dengan lahan terbatas, ruang vertikal seperti dinding, area di atas peralatan, dan sudut ruangan bisa dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan tambahan. Namun Yusuf mengingatkan agar penataan tersebut tidak mengorbankan ruang gerak penghuni, karena rumah tetap membutuhkan area untuk berjalan, memasak, bekerja, dan beraktivitas lainnya.
| Baca Juga: Jangan Biarkan Inspirasi Berlalu! Begini Cara Mengubah Ide Menjadi Karya dengan AI
Situasi menjadi lebih kompleks ketika satu ruang harus menjalankan banyak fungsi sekaligus, atau ketika anggota keluarga memiliki standar kerapian yang berbeda.
Untuk mengatasi hal ini, Yusuf menyarankan sistem penyimpanan yang sederhana dan mudah diikuti bersama, misalnya dengan memberi label pada kotak penyimpanan agar setiap anggota keluarga tahu di mana barang seharusnya berada.
Menurut Yusuf, langkah menata ruang yang terlupakan tidak harus dimulai dengan membeli perabot baru. Cukup dengan menentukan ruang yang ingin ditata, mengenali aktivitas di dalamnya, lalu memilah barang berdasarkan frekuensi penggunaan. Dari situ, baru terlihat apakah rumah benar-benar butuh tambahan penyimpanan atau hanya perlu penataan ulang. "Semakin hari akan semakin berkembang. Solusinya adalah bagaimana memaksimalkan yang ada di dalam rumah kita," pungkasnya. (*)






