Umay Shahab Ungkap Alasan Personal Angkat Isu Kekerasan Anak di Film 'Memburu Pemangsa'
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleAmarah personal tersebut kian terbakar ketika proses penulisan naskah film berlangsung. Umay dan tim produksi dihadapkan pada rentetan fakta miris di dunia nyata yang memperlihatkan betapa berbahayanya ancaman kekerasan seksual terhadap anak di era modern.
Pembongkaran dokumen megaskandal perdagangan seks anak milik Jeffrey Epstein (Epstein files) yang bocor ke publik di akhir tahun lalu turut menegaskan bahwa dunia sedang dilanda darurat kejahatan terhadap anak.
"Lalu, di tengah proses penulisan naskah, data 'Epstein files' tiba-tiba terbongkar semua di akhir tahun lalu. Kami menyadari bahwa saat ini seluruh dunia sebenarnya sedang merasakan kegelisahan, kepedihan, dan kemarahan yang sama atas isu pemangsa anak," sambungnya
Riset Bersama Komnas Perlindungan Anak dan Jurnalis Investigasi
Untuk memastikan cerita yang diangkat memiliki pijakan yang kuat, Umay melakukan riset mendalam bersama Komnas Perlindungan Anak dan sejumlah jurnalis investigasi yang pernah menangani kasus-kasus kekerasan terhadap anak.
Menurut Umay, banyak cerita nyata yang mereka dengar justru jauh lebih mengerikan dibandingkan yang akhirnya ditampilkan dalam film.
Ia juga mengungkapkan bahwa Ketua Komnas Perlindungan Anak menyampaikan naskah film tersebut bahkan belum menggambarkan seberapa berat kasus-kasus yang pernah mereka temui di lapangan.
"Hal tersebut membuat kami semakin yakin dan bersemangat untuk menyuarakan bahwa kasus kejahatan terhadap anak di Indonesia ini sangat nyata dan mendesak untuk disuarakan," kata Umay.
| Baca Juga: Film 'Istimewa' Resmi Tayang, Bawa Kisah Anak-Anak Disabilitas ke Layar Lebar
Karakter Predator Dibuat Mencekam, Tapi Tak Eksploitatif
Dalam film tersebut, aktor Teuku Rifnu Wikana dipercaya memerankan karakter predator anak. Umay memberikan apresiasi atas pendalaman karakter yang dilakukan Rifnu hingga mampu menghadirkan sosok yang terasa nyata dan mengerikan.
Meski mengangkat tema sensitif, Umay menegaskan tim produksi tetap berhati-hati agar visualisasi kekerasan tidak berubah menjadi eksploitasi.







