Sara Wijayanto Banyak Belajar Soal Hidup dari Arwah Penasaran
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleFenomena 'Hantu Nyangkut' dan Bahaya Menyimpan Dendam
Lebih lanjut, Sara menjelaskan bahwa berkomunikasi dengan arwah membuatnya sadar betapa berbahayanya memelihara kebencian. Ia bahkan berseloroh bahwa pelajaran terbesarnya adalah agar tidak menjadi 'hantu nyangkut' atau arwah penasaran yang terjebak di dunia fana setelah meninggal.
"Belajar tentang bagaimana kita tidak menyimpan dendam, supaya nanti kita nggak jadi 'hantu nyangkut', amit-amit ya," seloroh Sara sambil tertawa.
Menurutnya, sebelum menjadi arwah yang tersesat, banyak orang yang sudah lebih dulu menjadi 'manusia nyangkut' semasa hidupnya akibat enggan melepaskan amarah.
| Baca Juga: Tak Cuma Sekali, Ochi Rosdiana & Yessica Tamara Ungkap Momen Mistis Syuting 'Lingsir Wengi: Motel Malioboro'
"Sebagai manusia kita pasti punya rasa marah atau dendam. Dari mereka aku belajar gimana caranya punya hati yang lebih lapang, lebih memaafkan, dan jangan sampai berakhir nyangkut seperti mereka," jelas istri Demian Aditya ini.
"Kita kan mikirnya arwah yang 'nyangkut' itu karena meninggalnya tragis atau dibunuh. Tapi faktanya, aku banyak ketemu sosok yang meninggalnya wajar, tapi kok tetap nyangkut?" sambungnya.
Sara lantas menceritakan salah satu pengalaman paling membekas di benaknya. Ia pernah bertemu dengan sosok yang meninggal secara wajar tanpa kekerasan, namun jiwanya tidak bisa tenang dan tertahan di dunia.
"Ada satu sosok, dia meninggal wajar, tapi dia hanya mau mendengar kata 'maaf' dari orang yang dia sayangi semasa hidup. Tapi sampai dia meninggal, itu tidak pernah terjadi. Jadi sampai hari ini dia masih tertahan di situ. Itu kan rasanya nyesek banget," tutur Sara.
Pentingnya Berdamai dengan Diri Sendiri
Dari rentetan pengalaman mistis tersebut, Sara Wijayanto menarik sebuah pesan moral yang mendalam bagi mereka yang masih hidup. Menurutnya, manusia tidak boleh menggantungkan ketenangan batinnya kepada orang lain.
Kunci utama agar perjalanan jiwa- baik di dunia maupun menuju akhirat—bisa tenang adalah dengan belajar merelakan (let go) dan memaafkan diri sendiri.







