Cerita Ida Kirana Saat 8 Keluarganya Jadi Korban dalam Tragedi KM Virgo Transport 8
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Rumah megah milik keluarga H Mahsan di Komplek Mahatma, Jalan Gerilya, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, kini sunyi dan tertutup rapat. Hanya dua karangan bunga berjejer di kiri kanan pintu masuk, menjadi satu-satunya tanda bahwa rumah berwarna cokelat itu baru saja kehilangan penghuninya.
H Mahsan dan istrinya Rusdiana, putrinya Yuli, menantunya Abdi Noor, hingga besannya H Surya, tak akan pernah kembali. Total ada delapan dari sejumlah korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, pada 13 September lalu.
Jenazah Yuli dan suaminya Abdi Noor bersama mertuanya H Surya lebih dulu ditemukan, Sabtu (19/9/2026), dalam kondisi saling berpelukan di salah satu kabin VIP.
Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi ketiganya setelah memecahkan kaca jendela kapal. Ketiga jenazah kini telah dimakamkan di pemakaman keluarga. Sementara itu, pencarian terhadap H Mahsan, istrinya, serta tiga kerabat lain masih terus dilakukan.
| Baca Juga: Usai Pencarian Dihentikan, Istri Pewarta Foto Arie Basuki Tabur Bunga dan Kirim Doa
Ida Kirana, sepupu Yuli, mengaku masih berharap keluarga yang belum ditemukan bisa selamat, meski ia tahu peluang itu sangat tipis. "Keluarga masih menanti, semoga bisa ditemukan," kata Ida kepada Vivia Media, Kamis (24/9/2026).
Tenggelamnya kapal dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin itu meninggalkan luka mendalam bagi Ida. Awalnya, keluarga Mahsan berencana berziarah ke makam para wali di Jawa Timur.
Namun mereka mempercepat kepulangan karena harus menyiapkan acara haul seorang tokoh agama di Banjarmasin, yang penyediaan makanan dan minumannya menjadi tanggung jawab keluarga Mahsan bersama warga sekitar.
Di waktu bersamaan, Mahsan juga mendapat kabar bahwa jadwal umrahnya pada Januari 2027 dimajukan. "Jadi mau ketemu biro perjalanan sekalian," kata Ida menirukan ucapan Mahsan.
| Baca Juga: Dipasang Sang Ayah untuk Peziarah, Lampu Solar di Makam Vidi Aldiano Kini Dicuri
Kesedihan itu membuat Ida sempat merekam video singkat suasana rumah sepupunya sambil menahan tangis.
"Assalamualaikum, Na (sapaan untuk Rusdiana). Apa kabar. Kami datang. Pulanglah, di laut dingin. Di rumah semua menunggu," ucapnya, seolah mengajak berbincang sang pemilik rumah yang kini kosong. Di garasi, mobil dan dua sepeda motor keluarga masih terparkir seperti biasa.
Ida juga menceritakan firasat yang muncul sehari sebelum keluarga itu berangkat. Yuli berulang kali berpesan kepada Ida dan saudara lain agar tidak lupa memberi makan hewan peliharaan di rumah.
"Aku besok mau ke Jawa, mau ziarah. Tolong titip kunci rumah. Nanti jangan lupa kasih makan peliharaan, kucing, ikan, burung," kata Ida menirukan pesan Yuli yang diulang beberapa kali.
| Baca Juga: Dari Siaran Radio ke Pita Kuning: Perjalanan Pandji dan Steny Menemani Anak-Anak Kanker
Permintaan itu sempat membuat keluarga heran. "Saya tanya, lho memang kamu nggak balik? Yuli jawab, aku balik lah. Tapi memang aneh permintaannya," ujar Ida.
Kejanggalan lain juga dirasakan keluarga. Rusdiana, ibunda Yuli, selama ini dikenal selalu menolak diajak bepergian. Namun menjelang keberangkatan kali ini, ia justru ingin ikut serta.
"Ibunya Yuli paling susah diajak jalan-jalan, selalu menolak. Tapi kemarin tiba-tiba ingin ikut," kata Ida.
Bagi Ida, kepergian Yuli untuk selamanya bukan hanya kehilangan satu orang, melainkan delapan sekaligus. Sebagai anak semata wayang, kepergian Yuli bersama suami dan orang tuanya membuat rumah keluarga itu benar-benar kosong.
| Baca Juga: Kasus Tupac Shakur: 30 Tahun Menggantung, Juri Hanya Butuh 3 Jam Vonis Sang Pelaku
"Yuli itu anak tunggal, makanya rumahnya sepi, semua sudah tidak ada," katanya lirih.
Ida mengenal Yuli bukan hanya sebagai kerabat, tapi juga sahabat dekat. Keduanya sama-sama kuliah di UIN Samarinda, tempat Yuli menikah dengan Abdi Noor saat masih menempuh pendidikan.
Ida menggambarkan sosok Yuli sebagai perempuan tomboi yang mudah bergaul dan sempat merintis bisnis kosmetik serta pakaian. Keluarga Mahsan sendiri, menurut Ida, dikenal sebagai keluarga yang dermawan. "Saya bersaksi dia orang baik," ujarnya.
Tragedi yang menewaskan ratusan orang dan membuat puluhan lainnya masih hilang ini terasa makin pilu bagi Ida karena mengingat kebiasaan keluarganya saat bepergian.
| Baca Juga: Skandal Polisi di Jeju: Dari Ratusan Laporan Orang Hilang Hingga Rentetan Penemuan 4 Jenazah
"Orang Banjar itu kalau bepergian naik kapal biasanya tidak mau berpisah. Kalaupun terpisah, kamarnya harus berdampingan," katanya.
Satu hal yang sedikit meringankan duka keluarga adalah jenazah Yuli, suami, dan mertuanya ditemukan dalam kondisi tubuh masih utuh meski sudah tujuh hari terjebak di dalam kapal yang terbalik, sehingga tidak perlu dilakukan autopsi.
Keluarga juga bisa mengenali ketiganya lewat aksesori yang dikenakan, seperti gelang dan anting. "Sudah tujuh hari di dalam kapal, tubuh mereka masih utuh," kata Ida. (*)







