Seniman Begok Oner Juara Lewat Lukisan Urban yang Terinspirasi Grafiti Gua Purba
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Seni lukis di kalangan generasi muda Indonesia terus menunjukkan perkembangan dengan hadirnya berbagai eksplorasi medium dan gagasan yang berani.
Salah satu karya yang mencuri perhatian tahun ini adalah Urban Realism Layers karya Begok Oner atau Gian Sugihartono, yang berhasil meraih gelar UOB Painting of the Year Indonesia ke-16 kategori Established Artist.
Sebelumnya, Oner meraih penghargaan Most Promising Artist of the Year pada 2023 dalam kategori Emerging Artist. Di tangan seniman muda asal Yogyakarta ini, dinding bukan lagi sekadar pembatas ruang yang dingin dan kaku.
Di balik debu semen plester dan tumpukan goresan cat semprot, tersimpan narasi peradaban manusia yang membentang puluhan ribu tahun.
| Baca Juga: Hiro Murai Cetak Sejarah, Jadi Sutradara Asia Pertama yang Menang Emmy Kategori Komedi
Melalui karya monumentalnya bertajuk Urban Realism Layers, Begok memukau dewan juri dan publik seni di The Melting Pot, Ashta District, Jakarta Selatan. Ia tak sekadar melukis melainkan 'memindahkan' jiwa jalanan ke dalam sebuah medium yang bernapas.
Ketika Coretan Jalanan Bersenyawa dengan Gua Purba
Sekilas memandang Urban Realism Layers, mata kita langsung tertuju pada lanskap urban yang bising dan riuh. Ada tumpang tindih visual: stiker yang mengelupas, tipografi jalanan liar (tagging), dan jejak coretan kota metropolitan.
Namun, jika dilihat lebih dekat, Begok menyisipkan sesuatu yang magis. Seniman 28 tahun ini memadukan memori visual masa kini dengan replika lukisan prasejarah.
Ada Gua Liang Metaduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara—situs yang didaulat menyimpan jejak seni visual tertua di dunia berusia 67.800 tahun—serta bayang-bayang lukisan Gua Lascaux di Prancis dan karst Leang-leang, Sulawesi Selatan.
| Baca Juga: Dari Siaran Radio ke Pita Kuning: Perjalanan Pandji dan Steny Menemani Anak-Anak Kanker
Bagi Begok yang mengawali kariernya dari kancah street art dan grafiti, dorongan manusia purba menggambar di dinding gua sejatinya sama persis dengan hasrat anak-anak muda masa kini yang mencoret-coret tembok kota.
"Karya ini berangkat dari ketertarikan saya kepada dinding sebagai ruang sosial dan medium komunikasi manusia. Memahami coretan dinding itu bukan sekadar representasi visual, tapi tindakan sosial," ungkap Begok Oner kepada media di Ashta District, Jakarta Selatan, Kamis (24/9/2026).
Seni yang Melampaui Batas Kanvas
Menurut Begok, manusia purba meninggalkan jejak di dinding gua jauh sebelum bahasa tulis diciptakan.
"Ketika manusia prasejarah meninggalkan jejak di.dinding, itu mendahului bahasa. Ribuan tahun berlalu, kita tetap sama: terus mencari cara untuk berteriak, mengungkapkan siapa diri kita, dan terhubung satu sama lain," tambahnya.
| Baca Juga: 21 Atlet Muda Indonesia Sabet Emas di Asian Music Games Malaysia 2026
Melalui karyanya, Begok membuktikan bahwa seni jalanan dan material bangunan murahan seperti semen bisa bertransformasi menjadi bahasa kemanusiaan yang berkelas dunia.
"Melalui karya ini, saya hanya ingin mengingatkan satu hal: meskipun teknologi dan cara kita berkomunikasi terus berubah cepat, kebutuhan dasar manusia untuk berekspresi, berbagi luka, cerita, dan terhubung dengan sesamanya tidak akan pernah mati," tutup Begok.
Memadukan Kekuatan Teknis dan Filosofis
Kekuatan utama karya kelahiran 15 Februari 1998 di Cilacap, Jawa Tengah itu bukan hanya pada gagasannya yang filosofis, melainkan eksekusi teknisnya yang sangat radikal. Begok tidak lagi tunduk pada pakem kanvas konvensional yang datar dan rapi.
Ia menciptakan karya dengan ilusi tekstur dinding yang begitu nyata menggunakan campuran semen plester, kanvas, hingga kombinasi styrofoam.
| Baca Juga: Joheirry Mola Jadi Miss World 2026, Sosok Guru dan Jurnalis yang Peduli Pendidikan Anak
Permukaannya dipahat dan ditatah (carving) sedemikian rupa sehingga menciptakan efek relief yang bergelombang, kasar, dan penuh luka—persis seperti permukaan tembok gang-gang sempit perkotaan.
Chief Judge 16th UOB Painting of the Year (Indonesia) Melati Suryodarmo menilai Begok Oner berhasil mengembangkan gagasan yang berangkat dari dunia visual personal menjadi pembicaraan mengenai pengalaman manusia yang lebih luas.
"Ia berhasil mempertemukan ekspresi kontemporer dengan sejarah yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Pendekatan tersebut sekaligus membentuk karakter artistik yang mempertemukan masa lalu dan masa kini," jelas Melati.
Kurator seniman pertunjukan Agung Hujatnika, menambahkan, Begok Oner menembus batas seni lukis konvensional alias beyond painting.
| Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Menyentuh Byun Yo Han Menikahi Tiffany SNSD
"Dia membangun tembok di atas kanvas dan styrofoam, lalu ditatah dengan gambar gua cadas tertua di dunia. Imajinasi dia dalam menghubungkan Leang-leang dengan grafiti Indonesia itu luar biasa. Ini bukan lagi sekadar melukis, ini melampaui lukisan itu sendiri," jelas Agung.
Karyanya juga akan berkompetisi dengan karya pemenang dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam dalam ajang UOB Southeast Asian Painting of the Year yang akan diumumkan di Singapura pada 28 Oktober 2026.
Kompetisi UOB POY pertama kali diselenggarakan di Singapura pada 1982 dan hadir di Indonesia sejak 2011. Saat ini, UOB POY merupakan kompetisi seni yang telah berlangsung paling lama di Singapura dan menjadi salah satu kompetisi seni yang paling dikenal di Asia Tenggara. (*)



