Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Kehadiran anak membawa perubahan besar dalam kehidupan pasangan Nikita Willy dan Indra Priawan. Menjadi orang tua bagi Issa dan Nael mengubah sudut pandang keduanya, khususnya dalam mendefinisikan arti sebuah kebahagiaan yang kini lebih banyak ditemukan dalam kesederhanaan.

Nikita Willy mengakui bahwa tolak ukur bahagianya kini telah bergeser. Dahulu, ia merasa kebahagiaan harus dicapai melalui usaha yang masif.

"Awalnya sebelum menikah dan punya anak tuh kayaknya happiness itu harus sesuatu yang effort ya. Kayak traveling, atau sebuah pencapaian karier, apalah, pokoknya effort-nya lumayan besar gitu," jelas Nikita Willy dalam Talkshow Lemonilo Family Happy Day yang digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (27/9/2026)

Namun, cara pandang tersebut berubah setelah kedua anaknya lahir. Rutinitas sederhana bersama keluarga kini menjadi sumber kebahagiaan terbesarnya.

| Baca Juga: Maxime Bouttier Akui Memasak Jadi Love Language di Dunia Nyata

"Ketika punya anak, aku sadar ternyata happiness itu bisa datang dari hal-hal sederhana. Yaitu dari quality time sama keluarga, quality time sama anak-anak, terus melihat anak tumbuh kembangnya baik, anak sehat," jelas Nikita.

"Terus misalnya kita punya rutinitas yang kita lakukan setiap hari itu kita lakukan terus, itu sudah ternyata happy banget. Jadi sekarang tuh happiness is very simple, sangat-sangat sederhana tapi sangat-sangat bermakna juga," sambungnya.

Habiskan Waktu Untuk Nilai Emosional

Aktris 32 tahun ini menambahkan, fokus kegiatan mereka pun kini tak lagi hanya berpusat pada hubungan personal suami-istri saja.

"Misalnya kalau dulu kita nonton berdua, nah sekarang kita lebih fokus kalau misalnya nggak nonton atau nggak keluar, tapi cuma berempat sama anak. Jadi fokusnya sudah berubah, kebahagiaannya itu sudah bukan sesuatu yang dilakukan berdua, tapi sesuatu yang dilakukan bersama," lanjutnya.

| Baca Juga: Tak Hanya dari Luar, Yura Yunita Jaga Asupan untuk Rawat Kecantikan

Senada dengan istrinya, Indra Priawan membenarkan adanya perubahan prioritas dalam hidup mereka. Saat ini, ia lebih menitikberatkan waktu pada hal-hal yang tidak berwujud fisik (intangible), namun bernilai emosional tinggi.

"Kalau dari aku sendiri, more or less sama sih. Tapi mungkin menambahkan, kalau misalnya kita dulu selalu memfokuskan waktu untuk sesuatu yang tangible, sekarang kita suka memfokuskan waktu yang intangible. Karena yang intangible itu lebih meaningful buat kita," jelas Indra.

Terapkan Tiga Jenis Pembagian Waktu

Nikita juga membagikan pelajaran yang ia dapat dari seorang psikolog keluarga tentang pentingnya membagi waktu dalam keluarga. Menurutnya, keluarga membutuhkan tiga jenis waktu, yakni waktu bersama keluarga (family time), waktu bersama pasangan (couple time), dan waktu untuk diri sendiri (me-time).

"Setiap keluarga itu penting banget untuk punya me-time, family time, dan couple time. Jadi family time itu penting banget untuk kita as a family, kayak contohnya traveling kita sering traveling bersama," kata Nikita.

| Baca Juga: Ochi Rosdiana Cerita Keputusan Berhijab dan Tanggung Jawab Sebagai Ibu

Nikita menegaskan, keberadaan couple time tetap krusial agar hubungan pernikahan tetap terjaga, meski frekuensinya tidak terlalu sering.

"Setelah itu kita suka meluangkan waktu untuk berdua, untuk couple time. Dan setelah couple time, juga jangan lupa waktu untuk diri sendiri sebagai me-time," terang pemilik nama lengkap Nikita Purnama Willy ini.

"Walaupun couple time-nya nggak sering ya, kayak paling 6 bulan sekali atau setahun sekali—itu sudah penting banget. Tapi kita tidak merasa guilty gitu, karena kita as a couple we need that, dan as an individual kita juga membutuhkan me-time," tambah Nikita lagi.

Pandangan Psikolog

Psikolog Saskhya Aulia Prima yang turut hadir dalam kesempatan tersebut memvalidasi langkah yang diterapkan oleh Nikita dan Indra. Menurut Saskhya pembagian waktu (layering time) memiliki fungsi penting untuk membedah dinamika emosi personal maupun pasangan.

| Baca Juga: Pernah Kena Stroke, Iwet Ramadhan Ingatkan Bugar Belum Tentu Sehat

"Me-time membantu kita menyadari trigger dan value diri sendiri. Couple time membuat kita lebih paham pasangan saat marah, butuh bantuan, atau sedang tidak baik-baik saja. Family time juga membuat hubungan keluarga semakin kuat,” jelas Saskhya.

Ia juga menekankan pentingnya quality time bersama keluarga dan ruang bagi orang tua untuk menjaga keseimbangan dalam menjalani peran sehari-hari.

"Tekanan terhadap orang tua, khususnya ibu, sejauh ini berat sebelah. Perempuan dituntut mengurus anak dan harus becus, laki-lakitidak. Padahal, ibu juga perlu bahagia. Kalau ibu bahagia, otomatis pola asuh lebih optimal dan keluarga lebih harmonis,” tutur Saskhya.

Perbincangan mengenai dinamika keluarga ini disampaikan oleh Co-CEO Lemonilo Shinta Nurfauzia sejalan dengan semangat 'Happy Mom, Happy Family' yang diharapkan menjadi pengingat bahwa ketika ibu bahagia, seluruh keluarga dapat menikmati lebih banyak momen kebersamaan.

| Baca Juga: Meski BB turun 65 Kg, Ivan Gunawan Masih Kejar Target Kurangi 15 Kg Lagi

Shinta mengatakan sejak 2025 pihaknya menetapkan 23 September sebagai Family Happy Day untuk mengingatkan bahwa ibu juga berhak bahagia.

Melalui perayaan Family Happy Day, ia mengajak keluarga Indonesia meluangkan waktu untuk hadir sepenuhnya bersama orang-orang terdekat.

“Quality time tidak selalu membutuhkan waktu panjang, tetapi dapat dimulai dari aktivitas sederhana yang dilakukan bersama secara penuh perhatian,” tutup Shinta. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: