Penderita Diabetes dan Hipertensi Tetap Bisa Operasi Katarak, Ini Syarat dari Dokter Spesialis Mata
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Penglihatan buram pada penderita diabetes dan hipertensi sebaiknya tidak dianggap wajar akibat usia. Operasi katarak bisa dilakukan, tetapi gula darah dan tekanan darah harus dievaluasi lebih dulu agar tindakan aman dan pemulihan optimal.
Dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals & Clinics, Jakarta, dr. Milzan Murtadha, SpM, menjelaskan bahwa katarak, yakni kekeruhan pada lensa mata, memang paling sering berkaitan dengan penuaan. Namun, katarak juga bisa dipicu diabetes, sehingga penderita penyakit ini perlu lebih waspada terhadap perubahan penglihatan.
Gejalanya sering tidak disadari karena muncul bertahap. Penderita mulai membutuhkan cahaya lebih terang saat membaca, sulit melihat di tempat remang, atau merasa silau oleh lampu kendaraan di malam hari. Meski begitu, operasi tidak harus menunggu lensa sangat keruh atau katarak matang. Yang menjadi pertimbangan adalah dampaknya terhadap aktivitas dan kualitas hidup.
“Tidak harus menunggu katarak sampai matang. Yang perlu diperhatikan adalah apakah katarak sudah mengganggu aktivitas dan kualitas hidup pasien. Keputusan operasi tetap harus didasarkan pada hasil pemeriksaan dokter,” jelasnya.
| Baca Juga: Mata Katarak Tak Perlu Menunggu Parah, Deteksi Dini Perbesar Peluang Sembuh
Bagi pasien diabetes dan hipertensi, penentuan waktu operasi punya syarat tambahan. Dokter akan menilai kadar gula darah sekaligus kemungkinan kerusakan retina akibat diabetes, sementara tekanan darah pasien hipertensi perlu dikendalikan untuk menjaga keamanan selama tindakan.
“Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat memengaruhi proses penanganan dan pemulihan. Karena itu, dokter akan mempertimbangkan hasil pemeriksaan, riwayat penyakit, dan kondisi pasien sebelum menentukan waktu operasi,” kata Milzan.
Ia menyebut tekanan darah di bawah 160 mmHg dan gula darah di bawah 200 mg/dL dapat menjadi acuan pada situasi tertentu. Namun, angka itu tidak berlaku mutlak bagi semua pasien. Pasien juga diingatkan tidak mengubah atau menghentikan obat diabetes dan hipertensi tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Pemeriksaan menyeluruh sebelum operasi pun menjadi kunci, sebab keluhan buram belum tentu hanya disebabkan katarak. Gangguan pada retina atau saraf optik bisa menimbulkan gejala serupa dan memengaruhi hasil penglihatan setelah operasi, sehingga pada penderita diabetes pemeriksaan retina menjadi sangat penting.
| Baca Juga: Merasa Sehat karena Tak Ada Keluhan? Begini Bahaya Hipertensi yang Diam-Diam Merusak Tubuh
Hasil pemeriksaan ini juga membantu menentukan teknik operasi dan jenis lensa buatan. Tindakan yang lazim adalah fakoemulsifikasi, sedangkan teknologi laser (FLACS) tidak otomatis menjadi pilihan terbaik bagi setiap pasien.
“Pemilihan lensa harus disesuaikan dengan kondisi mata dan kebutuhan pasien. Tidak ada satu jenis lensa yang otomatis cocok untuk semua orang,” ujarnya. Dalam hal ini, pasien perlu menyampaikan riwayat penyakit lain atau mata kering agar dokter dapat memberi gambaran hasil yang realistis.
1 2







