Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Film karya sutradara Kamila Andini, 'Empat Musim Pertiwi' (Four Seasons in Java), menjadi debut akting layar lebar Hanna Aretha. Ia menjadi representasi kelompok disabilitas teman tuli yang membuktikan kapasitas aktor disabilitas di kancah sinema profesional.

Dalam film ini, Hanna memerankan Raras, seorang anak perempuan tuli-bisu yang sedang mencari ruang untuk dipahami. Karakter tersebut memiliki keterkaitan dengan masa lalu Pertiwi yang diperankan Putri Marino.

"Bisa muncul di film layar lebar, debut menjadi representatif juga untuk teman-teman tuli," ujar Hanna Aretha melalui penerjemah bahasa isyarat saat ditemui di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (2/10/2026).

Jalani Beberapa Kali Casting

Hanna mengungkapkan dirinya mendapatkan kesempatan bermain dalam film tersebut melalui Fantasi Tuli. Ia kemudian mengikuti proses casting sebelum akhirnya dipilih untuk memerankan Raras.

| Baca Juga: Film 'Empat Musim Pertiwi' Bidik Oscar 2027, Kamila Andini Minta Dukungan Pecinta Film Lokal

"Sebetulnya, saya mendapat peran ini dari Fantasi Tuli. Jadi, saya dikontak oleh pendirinya Fantasi Tuli, dan kemudian saya diminta untuk menjadi aktor Tuli," kata Hanna.

Ia kemudian mengirimkan video akting sebagai bagian dari proses casting. Setelah itu, Hanna diminta datang untuk mengikuti proses casting lanjutan.

"Saya ikut casting, saya kirim video akting saat itu, dan ternyata saya dipilih. Kemudian saya diminta datang untuk bisa lanjut casting lagi," ujarnya.

Menurut Hanna, dirinya bukan satu-satunya aktor tuli yang mengikuti proses seleksi tersebut. Ada beberapa teman tuli lainnya yang juga menjalani casting sebelum akhirnya Hanna terpilih.

| Baca Juga: Habiskan Waktu 9 Tahun, Sutradara Kamila Andini Nyaris Nyerah Garap 'Empat Musim Pertiwi'

"Sebenarnya ada beberapa teman tuli yang ikut casting juga, dan akhirnya setelah berproses, saya yang dipilih. Begitu saja. Jadi, saya diminta datang ke kantornya Forka," tutur Hanna.

Tantangan Akting Film Pertama

Meski sebelumnya pernah menjadi aktor dalam pertunjukan panggung, Hanna mengaku sempat tidak percaya ketika dirinya dipilih oleh Kamila Andini untuk memerankan karakter remaja disabilitas di lereng Gunung Bromo.

Bagi Hanna, tantangan terbesar justru datang dari perbedaan teknik akting film dengan musikal atau teater yang selama ini lebih dikenalnya.

Ia mengaku belum banyak memahami karakter dan teknik akting untuk film ketika pertama kali mendapatkan peran tersebut.

| Baca Juga: Kisah dari Rumah 'Istimewa' Dibawakan Para Penyandang Disabilitas ke Layar Lebar

"Tanganannya adalah, saya sebenarnya tidak tahu tentang film, karakternya seperti apa, akting-nya bagaimana untuk film. Saya terbiasa akting untuk musikal dan teater," ungkap Hanna.

Menurutnya, akting di depan kamera membutuhkan pendekatan yang berbeda. Jika dalam teater atau musikal ekspresi pemain harus dibuat lebih besar agar dapat terlihat oleh penonton, akting film justru menuntut permainan yang lebih natural.

"Ternyata berbeda sekali teknik aktingnya," jelasnya.

Pengalaman tersebut membuat Hanna harus kembali mempelajari cara membangun karakter ketika berada di depan kamera.

| Baca Juga: Debut Memukau di AS, ‘Ghost in the Cell’ Raih Rating Sempurna di Rotten Tomatoes

Belajar Home Sign untuk Karakter Raras

Tantangan lain yang dihadapi Hanna adalah penggunaan bahasa isyarat. Dalam kesehariannya, Hanna terbiasa menggunakan Bisindo atau Bahasa Isyarat Indonesia.

Namun, untuk kebutuhan karakter Raras, ia harus menggunakan home sign, yakni sistem isyarat yang digunakan secara khusus untuk membangun komunikasi karakter dalam film.

Hanna pun harus mempelajari bentuk komunikasi tersebut agar dapat masuk lebih dalam ke karakter Raras. Pada awalnya, penggunaan home sign membuat Hanna merasa kaku. Namun, seiring proses latihan dan syuting, ia mulai terbiasa.

Bagi Hanna, mempelajari home sign bukan sekadar menghafalkan gerakan tangan. Ia juga harus memahami cara berkomunikasi Raras dan membangun karakter tersebut secara utuh.


"Jadi saya harus belajar masuk ke karakternya Raras, di mana membangun cara berkomunikasi seperti Raras yang menggunakan home sign," lanjutnya.

Bahasa Isyarat yang Disesuaikan Lingkungan

Hanna mengatakan, dirinya bersama Kamila melakukan riset untuk membangun komunikasi Raras secara alami. Riset tersebut, katanya, dilakukan dengan melihat kebiasaan dan lingkungan Raras.

“Dan akhirnya pengembangan karakter dan isyarat itu kita lihat dari kebiasaan Raras. Kita lihat dari kebiasaan Raras dan lingkungannya Raras,” katanya.

Lebih lanjut, Hanna mengatakan, cara komunikasi Raras juga disesuaikan dengan interaksinya bersama ibu, teman, dan orang-orang di desa. Menurutnya, orang-orang di sekitarnya tidak mengetahui maksud komunikasi karakter tersebut.

| Baca Juga: Gayung Bersambut, Trio Bajaj Siap Comeback di Sinetron ‘Para Pencari Tuhan’ Jilid 20

"Raras ngomong apa, itu orang-orang di sekitar desa tidak tahu. Dan tantangan saya adalah harus benar-benar belajar melepaskan diriku dengan cara komunikasi saya,” ujarnya.

Hanna juga melihat karakter Raras sebagai kesempatan untuk memperlihatkan kepada penonton bahwa teman tuli memiliki emosi, pengalaman, serta kemampuan yang sama untuk berkomunikasi dan dipahami. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: