Teliti Edamame dan Talas Bogor, Mahasiswa Unej dan IPB Raih Dukungan Riset Pangan Nasional
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Dua mahasiswa dari latar belakang berbeda, Elen Bethania Pasaribu dari Universitas Jember (Unej) dan Kemal Abdul Malik dari Sekolah Vokasi IPB University, mengangkat bahan lokal menjadi objek penelitian, yakni edamame dan talas Bogor. Riset keduanya mendapat dukungan dana dan pendampingan pakar dalam program Indofood Riset Nugraha (IRN) yang memasuki tahun ke-20.
Elen meneliti pemanfaatan bahan pangan nabati, termasuk kedelai edamame, sebagai alternatif produk olahan.
"Potensi bahan tersebut belum dimanfaatkan optimal sehingga perlu dicari cara untuk meningkatkan nilai tambahnya," ujarnya.
Ia juga ingin mengeksplorasi kemungkinan penggunaan bahan pangan nabati sebagai alternatif untuk menghasilkan produk yang selama ini umumnya dibuat dari bahan hewani, seperti susu dan keju. Upaya ini membuka ruang untuk menelaah lebih jauh karakteristik bahan tumbuhan serta potensinya dalam pengembangan produk pangan.
| Baca Juga: Debu Semen hingga Mesin Jahit, Dua Seniman Raih Grand Prize Kompetisi Seni Asia Tenggara
Sementara itu, Kemal meneliti pati talas asal Bogor sebagai pelapis pupuk berbasis urea. Gagasannya berangkat dari persoalan di lahan pertanian, ketika air hujan membawa sebagian nutrisi pupuk sehingga tidak seluruhnya terserap tanaman.
Pupuk dibentuk menjadi pelet, ditambah temu kunci pada formulasi inti, lalu dilapisi pati talas yang bersifat biodegradable.
Penelitian eksperimental Kemal berlangsung sekitar lima bulan, dari Januari hingga Mei 2026, setelah satu hingga dua bulan menelusuri literatur dan menyusun proposal. Metode pelapisan konvensional yang dicoba di awal belum berhasil, sehingga ia menyesuaikan prosesnya selama sekitar satu bulan hingga akhirnya menggunakan alat pan granulator.
Hasil uji laboratorium menunjukkan pupuk berlapis melepaskan nutrisi lebih lambat dibanding pupuk konvensional. Pada hari ke-21, jumlah nutrisi yang terukur mulai setara. Dalam uji perendaman, lapisan masih bertahan pada 24 jam pertama, mulai retak setelah 48 jam, dan belum sepenuhnya larut.
| Baca Juga: Bebas dari Penyanderaan Perompak Somalia, Kapten MT Honour 25 Minta Maaf Atas Gugurnya 5 ABK
“Yang bisa saya buktikan dari penelitian ini adalah pati talas dapat digunakan sebagai pelapis dan membantu membuat pelepasan nutrisi menjadi lebih lambat,” kata Kemal. Ia mengakui formulasi tersebut masih memerlukan uji lapangan serta kajian dampak terhadap tanah dan lingkungan sebelum dapat digunakan petani atau dipasarkan.
Dukungan IRN menjadi penentu bagi penelitian ini. Kemal menyebut peralatan di kampusnya terbatas dan kebutuhan dananya cukup besar. “Kalau saya tidak mendapatkan IRN, kemungkinan penelitian ini tidak akan saya eksekusi,” ungkapnya.
Pada periode 2026 hingga 2027, IRN mendukung 83 mahasiswa program sarjana yang terpilih dari 595 proposal, dengan bantuan dana penelitian dan pendampingan tim pakar selama satu tahun. Sejak 2006, program ini telah mendukung lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa dari lebih dari 200 perguruan tinggi. Periode terbaru ditandai dengan Simposium Pangan Nasional 2026 di Jakarta, Kamis (8/10), menjelang Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober.
Dalam kesempatan itu, Ketua Tim Pakar IRN yang juga Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., menekankan bahwa kekayaan pangan lokal perlu diikuti penelitian yang memadai.
| Baca Juga: Kisah Leo/Daniel: Dari The Babies hingga Dua Medali Emas Bulu Tangkis Asian Games 2026
Klaim manfaat kesehatan pada pangan fungsional harus didukung bukti ilmiah, bukan sekadar pengalaman turun-temurun, disertai perhatian pada keamanan, mutu, pelabelan, dan ketepatan klaim. Ia menambahkan, penerimaan masyarakat juga ditentukan faktor sosial, ekonomi, dan budaya, seperti rasa, tekstur, dan harga.
Kepala Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana, menyebut dukungan ini sebagai wujud konsistensi selama dua dekade memperkuat kapasitas peneliti muda. Ia berharap kolaborasi dunia usaha, akademisi, pemerintah, dan peneliti muda semakin kuat. (*)







